tahun baru imlek
tahun baru imlek

Mengenal Tahun Baru Imlek dan Bagaimana Hukumnya Mengucapkan Selamat?

Perayaan Imlek merupakan hari pertama bulan pertama pada penanggalan China atau masyarakat Tionghoa atau kerap juga disebut dengan kalender lunar atau bulan. Sistem penanggalan China berdasarkan pergerakan bulan dalam mengelilingi bumi. Pergerakan tersebut menghasilkan periode revolusi, yakni waktu yang dibutuhkan bulan guna mengelilingi bumi dalam sekali putaran dan bergantung kepada titik referensi yang digunakan.

Dalam hal penanggalan berbasis pergerakan bulan atau biasa disebut kala candra (lunar), referensi yang digunakan adalah konjungsi bulan-matahari. Konjungsi bulan-matahari merupakan kedudukan matahari dan bulan tepat segaris atau dalam sebuah garis bujur ekliptika yang sama.

Dan tahukah kamu bahwa ada kalender lain yang juga menggunakan dasar pergerakan bulan bulan dalam mengelilingi bumi? Ialah kalender Hijriah atau kalender qamariah dalam Bahasa Arab yang berarti bulan, yang banyak digunakan dan di tahun barunya juga dirayakan oleh umat muslim dunia.

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan masyarakat Tionghoa di seluruh dunia sebagai haru besar agama Khonghucu. Pada mulanya hari ray aini diperingati untuk menyambut pergantian musim dingin ke musim semi. Di musim semi inilah dimulai bercocok tanam sebagai tanda terbukanya rejeki. Pada tahun 2023, Imlek bertepatan pada hari Minggu tanggal 22 Januari.

Perayaan Tahun Baru Imlek berjalan selama lima belas hari, yakni di hari pertama bulan pertama disebut dengan Cia Gwee, dan pada hari ke lima belas bulan pertama disebut dengan Cap Go Meh. Pada prakteknya mereka melakukan doa dan makan bersama keluarga dan sanak kerabat.

Menurut sejarah, Imlek ada yang mengatakan sebagai sebuah tradisi budaya bukan keagamaan, sehingga tidak jadi masalah jika agama manapun tetap merayakan Imlek. Namun, memang Imlek adalah hari keagamaan bagi umat Khonghucu secara khusus dan keturunan Tionghoa secara umum.

Pada intinya, Imlek merupakan salah satu tradisi yang telah mengakar dari etnis Tionghoa, jadi meskipun mereka telah memeluk agama Islam, namun tidak seharusnya mereka kehilangan akar budaya dan tradisi yang mereka kenal dari kecil.

Saat tahun baru Imlek, para etnis Tionghoa berkumpul atau bersilaturahmi, tentu saja kegiatan tersebut tidak melanggar justru malah dianjurkan dalam agama Islam. Muslim Tionghoa masih memperingati akar tradisi ini dengan acara berkumpul dengan keluarga.

Tentu silaturrahmi bukan hal yang bertentangan dengan Islam. Terdapat hadist dari Rasulullah yang mengingatkan ancaman bagi pemutus tali silaturahmi. Abu Jabir bin Muth’im meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahmi).” (HR Bukhari dan Muslim). Ancaman berat bagi mereka yang memutus silaturahmi yakni dengan menutup pintu surga.

Dengan menjalin silaturahmi, etnis Tionghoa yang beragama Muslim justru bisa melakukan syiar untuk menghilangkan pandangan-pandangan negatif umat agama lain terhadap Islam. Dengan menunjukkan bahwa dengan memeluk agama Islam, mereka tidak beragama secara kaku dan mengenalkan Islam sebagai agama yang penuh toleransi.

Lalu, bagaimana mengucapkan Selamat Imlek bagi penganut agama Khonghucu dan etnis Tionghoa secara keseluruhan. Nampaknya persoalan seperti ini terus menjadi perdebatan khilafiyah antara yang membolehkan dan melarangnya karena alasan akidah.

Sejatinya, ketika negara mengafirmasi keberadaan agama Khonghucu adalah sebuah perintah amir yang harus dilaksanakan oleh seluruh warganya. Ketetapan itu menjadi kewajiban mengikat bagi seluruh warga negara untuk menghormati keberadaan agama Konghucu di Indonesia.

Karena itulah, berbuat adil dan berbuat baik dengan sikap toleransi dan saling mengucapkan selamat adalah bagian yang menjadi anjuran dalam agama. Dalam Al Quran Surat Al-Mumtahanah ayat 8: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Mengucapkan selamat juga bukan bagian dari tasyabuh atau menukar keyakinan tetapi sebagai bentuk pergaulan dalam kehidupan berbangsa. Keberadaan umat dan etnis lain dijamin keberadaannya dalam konstitusi sebagai konsensus. Sikap umat beragama dalam memegang konsensus adalah wajib dan haram dan dosa besar jika mengkhianati perjanjian.

Karena itulah, perayaan Imlek merupakan warisan tradisi agama dan budaya Tionghoa yang patut untuk dijaga karena sudah menjadi keputusan negara. Selain itu Imlek juga menjadi ajang silaturahmi yang dengan jelas agama Islam meminta kepada umatnya untuk merawat silaturahmi bukan hanya kepada mereka yang sama-sama beragama Islam, namun juga mereka yang berbeda pandangan keagamaan.

Harus kita yakini adalah agama Islam hadir bukan untuk menghapuskan budaya yang ada justru agama Islam mampu merangkul segala aspek kebudayaan, itulah alasan agama Islam mampu diterima dan besar di Indonesia. Muslim dapat berdampingan dengan yang berbeda karena Islam menjadi rahmat bagi semesta.

Selamat Tahun Baru Imlek 2023

Bagikan Artikel ini:

About Imam Santoso

Check Also

al-quran

Barat Harus Belajar Menghormati Kitab Suci

Peristiwa pembakaran al-Quran di Swedia beberapa waktu terakhir menarik banyak perhatian dunia internasional, terutama masyarakat …

hukum menghina pemerintah

Yakinlah, Derajat Orang yang Dihina Lebih Tinggi di Hadapan Allah

Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita dapati seseorang yang memiliki perilaku mudah untuk merendahkan ataupun meremehkan …

escortescort