politisasi agama
politisasi agama

Waspada Politisasi Agama : Belajar dari Partai Tuhan, Perang Badar Hingga Fir’aun

Ulama sekaligus filusuf muslim pernah berujar dengan ungkapan yang singkat tetapi penuh makna yang relevan dalam masa kekinian. “jika ingin menguasai orang bodoh, bungkus yang batil dengan agama”. Ungkapan ini tentu berdasarkan realitas sosial pada masanya ketika agama dijadikan alat untuk kepentingan politik kekuasaan.

Memang lebih sederhana menjelaskan dengan narasi agama untuk kepentingan politik dari pada argumentasi rasional untuk meyakinkan masyarakat. Katakanlah : pilihlah partai dan calon ini karena memiliki visi, misi dan janji yang lebih bagus. Terkesan klise.

Bandingkan dengan ucapan berikut : pilihlah partai dan calon ini karena membawa perjuangan agama dan berdosa jika memilih mereka yang memusuhi agama. Bayangkan kekuatan magis narasi agama di tengah masyarakat awam. Lebih tepat ke jantung sasaran emosi dan keyakinan. Itulah yang terjadi pada tahun 2019 silam. Apa akibatnya?

Pertarungan politik dianggap sebagai bagian dari perang agama karena ayat dan dalil agama kerap bertebaran di ruang publik dijadikan narasi kampanye. Perpecahan masyarakat tak terhindarkan. Pembelahan masyarakat tidak hanya menganggu antar tetangga, tetapi juga dalam rumah tangga.

Masihkah ingatkah ketika narasi muncul tentang dikotomi partai Allah dan Partai Setan pada kontestasi 2019. Narasi ini jelas membawa emosi keagamaan ditarik dalam pertarungan politik. Gampangnya adalah ingin membodohi masyarakat dengan menganalogikan partainya sebagai partai suci membela Tuhan sementara lawannya adalah partai setan.

Narasi ini kemudian akan berhembus pada siapa yang ingin membela Allah tentu akan disebut hizbullah dan berada di partai tertentu. Sementara yang lain adalah pembela setan yang berada di kelompok huzbusy syaitan. “Ketahuilah partai setan itu mesti dihuni oleh orang-orang yang rugi, rugi dunia, rugi akhiratnya” begitu lugasnya narasi ini muncul ketika itu.

Logika ini sejatinya sama dengan permainan logika politik kelompok radikal terorisme menganalogikan negara ini seabgai negara kafir dan Pancasila thagut. Karena itulah seluruh aparat dan pejabat pemerintah adalah asnharut thagut. Mereka kelompok teroris menganggap dirinya seabagi ansharut tauhid.

Tentu juga kita masih ingat dengan narasi doa kontroversial juru kampanye pada tahun 2019. Pertarungan politik diletakkan pada perang kosmos antara kebaikan dan keburukan antara perang orang beragama melawan orang kafir.

Narasi menggugah emosi keagamaan diwujudkan dalam doa perang Badar yang pernah dibaca Rasulullah : Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami, Karena jika Engkau tidak menangkan, Kami khawatir ya Allah, Kami khawatir ya Allah, Tak ada lagi yang menyembah-Mu.

Logika ini sejatinya biasa dilakukan kelompok radikal yang meletakkan perang yang sedang mereka lakukan sebagai perang kosmis antara kebaikan dan keburukan. Mereka selalu menyamakan perang masa Rasulullah dengan kondisi kekinian melawan orang-orang kafir yang tidak sepaham dengan ideologi dan politik mereka.

Seluruh narasi keagamaan itu diluncurkan untuk kepentingan politik dalam menjangkau bahasa logika orang awam. Jika diteruskan tentu akan sampai pada pembahasan Fir’aun. Bukan persoalan sejarahnya, tetapi ada muatan narasi keagamaan yang ingin disampaikan untuk menjangkau emosi masyarakat awam dalam memahami suatu kejadian. Harapannya tentu tergantung pengucapnya.

Istilah ini merupakan hal biasa dimainkan oleh kelompok radikal sebagai pilihan terminologi perjuangan melawan penguasa kafir. Narasi Fir’aun bahkan hampir banyak ditemukan dalam tulisan-tulisan untuk merujuk pada perjuangan meruntuhkan thagut yang mempertuhankan selain Tuhan. Apa yang diharapkan dari narasi ini? Bahwa perjuangan yang dilakukan adalah melawan kekuasaan Fir’aun sebagaimana Nabi Musah akan memenangkannya.

Karena itulah, perang kosmos antara kebaikan dan keburukan dalam terminologi agama akan keran menjadi pilihan para orator politik. Tujuannya? Mempolitisasi agama, ajaran agama, narasi dan kisah agama untuk kepentingan tertentu. Siapa yang dirugikan?

Masyarakat terbelah bukan hanya sekedar pilihan politik, tetapi dimaknai sebagai keyakinan dan keberagamaan. Ketika pilihan politik disakralisasi menjadi ruang keyakinan pertarungan tidak lagi persoalan menang dan kalah, tetapi tentang kebaikan dan keburukan dalam terminologi agama.

Pilihan politik pada akhirnya dimaknai masyarakat sebagai perjuangan berpahala yang apapun resikonya harus dilakukan. Berpisah dan tidak bertegur sapa dengan tetangga atau cek cok dalam rumah tangga karena perbedaan politik, bukan lagi dianggap an sich politik, tetapi perbedaan keyakinan.

Sakralisasi pilihan politik melalui politisasi agama sangat berbahaya di tengah masyarakat. Kenapa itu didiamkan? Kepentingan elite merawatnya. Kontestasi politik antar elite sebenarnya yang sedang mendesain masyarakat awam menjadi pemilih yang tidak rasional. Mereka dididik dengan pendidikan politik emosional. Tidak peduli keretakan dan perpecahan masyarakat karena yang paling penting adalah kekuasaan.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

usai alquran taurat hendak dibakar di swedia tapi dicegah umat islam evn

Marah Atas Penistaan Rasmus Paludan, Pria Mesir Hendak Bakar Taurat, tapi Dicegah Umat Islam

STOCKHOLM – Atas nama kebebasan berekspresi seorang politisi berkwarganegaraan Denmark dan Swedia telah membakar Al-Quran …

ivan gunawan 6 43

Ivan Gunawan Sisihkan Sebagian Rizkinya Untuk Pembangunan Masjid di Uganda

Jakarta – Ivan Gunawan, artis multi telanta yang juga merupakan seorang disainer terkenal mempunyai perhatian …

escortescort