mengenalkan allah
mengenalkan allah

Mengenalkan Allah kepada Sang Buah Hati

Permasalahan cara mendidik anak menjadi persoalan yang paling banyak dibicarakan di kalangan orang tua. Bangku sekolah sejatinya bukanlah satu-satunya tempat yang baik untuk pendidikan bagi sang buah hati. Selain itu, ruang keluarga, pertemenan dan lingkungan adalah unit sosial yang juga bertanggungjawab dalam menentukan tumbuh kembang anak.

Namun sangat disayangkan dari sekian banyaknya orang tua yang sadar akan pendidikan anak, saat ini mereka kurang memerdulikan aspek pendidikan agama. Fokus utama yang dikejar bahkan rela untuk mengambil kursus dan bimbingan belajar di luar sekolah semata peningkatan pengetahuan umum. Biaya banyak keluar untuk menempa otak anak dalam mengasup pendidikan yang sejatinya di sekolah sudah diajarkan.

Lalu bagaimana dengan pengetahuan keagamaan anak? “Anak merupakan ttitipan dari Allah”. Demikian ungkapan itu kerap didengar. Namun, apabila memang anak adalah titipan Allah, apakah orang tua juga sudah mengenal Allah sejak dini kepada anak-anaknya? Apakah orang tua juga mengasuhnya dengan pola asuh yang di perintahkan Allah pada umatnya.

Bersyukur jika anak pernah bertanya siapakah Tuhan? Siapa sebenarnya yang menciptakan alam semesta? Bagaimana ala mini diciptakan? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap kita dengar dari bibir mungil sang anak. Lalu bagaimana orang tua bisa menjelaskan? Bahkan seringkali anak akan bertanya surga dan neraka itu di mana?

Pertanya-pertanyaan ini akan terasa sulit jika orang tua abai untuk mengenalkan Tuhan sejak dini kepada orang tua. Karena itu, membiasakan ketaatan dalam keluarga adalah cara untuk mendidik anak. Salah satu caranya adalah dengan memberikan dasar habbuminnallah dengan mengajarkan shalat kepada anak semenjak kecil.

Shalat adalah sarana manusia mengenal dan berkomunikasi dengan Allah. Membiasakan mengajak anak solat berjamaah di masjid dan membiarkan mereka merasakan kedekatan diri dengan masjid sehingga membangun rasa bahwa masjid merupakan rumah keduanya.

Pola pembiasaan seperti ini akan menciptakan pengetahuan dalam diri anak tentang siapa sebenarnya yang Tuhan yang menguasai alam semesta. Karena itulah, shalat menjadi media utama orang tua dalam mendidik anak.

Dalam pengajaran fikih, misalnya, sejak umur 7 tahun orang tua wajib menyuruh anak untuk shalat. Bahkan jika sudah baligh orang tua berhak memukul dengan tujuan mendidik. Hal ini sebagaimana sabda Nabi : “Suruhlah anak kalian shalat ketika berumur 7 tahun, dan kalau sudah berusia 10 tahun meninggal-kan shalat, maka pukullah ia. Dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara anak laki-laki dan anak wanita).”

Kenapa shalat menjadi penting? Karena di samping untuk mengenalkan Allah kepada sang buah hati, shalat sebenarnya mendidik akhlak sang anak. Shalat juga akan menanamkan kedisiplinan terhadap mereka.

Orang tua semestinya memang perlu khawatir jika anaknya tidak bisa membaca, menulis dan berhitung, tetapi mereka mestinya sangat panik ketika sang anak tidak sama sekali mengetahui cara shalat.

Imam Ali Zainal Abidin dalam kitab Risatul Huquq menjelaskan. “Adapun hak anakmu adalah, ketahuilah bahwa ia berasal darimu. Dan segala kebaikan dan keburukannya di dunia, dinisbatkan kepadamu. Engkau bertanggung jawab untuk mendidiknya, membimbingnya menuju Allah dan membantunya untuk menaati perintah-Nya.”

Nisbat kebaikan dan keburukan anak ada di orang tua. Sebagai titipan, Allah juga akan bertanya kepada orang tua kelak di hari kiamat bagaimana titipan itu diperlakukan?

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Menag Nasaaruddin di Konferensi Internasional di Mesir copy

Bicara di Forum Internasional, Menag Tekankan Agama sebagai Arah Kemajuan Modern

Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa agama memiliki peran strategis sebagai kompas …

Masjid Al Ikhlas PIK 2 ok copy

Kehadiran Masjid Al Ikhlas PIK 2 Simbol Penguatan Toleransi dan Rekatkan Harmoni dalam Keberagaman

Jakarta – Kehadiran Masjid Al-Ikhlas PIK 2 di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, dinilai …