Jihad Santri
Jihad Santri

Mengenang Jihad Santri untuk Kemerdekaan RI

Pada peringatan Hari Santri Nasional beberapa tahun yang lalu, KH. Musthafa Bisri yang akrab dipanggil Gus Mus mendefinisikan santri sebagai murid kiai yang dididik dengan kasih sayang supaya menjadi mukmin yang kuat, keimanannya tidak goyah oleh pergaulan, oleh kepentingan dan adanya perbedaan.

Santri juga terdidik untuk mencintai negaranya, guru dan kedua orang tuanya sekalipun telah tiada. Santri adalah sosok yang memiliki kasih sayang dan pandai bersyukur. Dan, santri memiliki orientasi belajar sepanjang hayat sehingga keilmuannya tentang agama Islam tidaklah diragukan.

Sebagai bukti dari ungkapan Gus Mus di atas, pada era perang kemerdekaan, santri mengambil peran aktif baik dalam memperjuangkan kemerdekaan RI maupun ketika mempertahankannya. Dan yang paling tampak dan tak bisa dibantah adalah perang jihad santri melawan Belanda (NICA) yang membonceng tentara sekutu dan ingin menjajah kembali Indonesia.

Gerakan jihad santri itu dimulai setelah KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad bersama ulama se Jawa dan Madura yang yang terkenal dengan “Resolusi Jihad” untuk berperang dan mengusir Belanda yang bermaksud menjajah Indonesia kembali dalam Agresi Militer Belanda II. Ini terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945.

Kaum santri bersama para kiai berbondong-bondong menyambut seruan jihad itu dengan segenap jiwa dan raga. Sebab bela negara dalam pandangan kalangan pesantren adalah kewajiban yang tidak bisa ditunda. Pesantren, tempat khusus santri dalam menimba ilmu, saat itu juga berfungsi sebagai wadah pergerakan nasional untuk mengusir penjajah dari tanah air.

Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy’ari menandakan bahwa Islam mewajibkan (fardhu ‘ain) perang untuk membela negara. Konsep ini bila ditelusur berdasar pada Piagam Madinah pada masa Rasulullah, yang salah satu poinnya adalah bahwa mempertahankan Madinah adalah kewajiban seluruh penduduknya, apapun agamanya.

Baca Juga:  Jalan Tengah Menghindari Perdebatan Bid’ah

Bentuk gerakan nyata kaum sarungan ini benar-benar dahsyat, walaupun ratusan bahkan ribuan santri dan kiai harus bersimbah darah, tapi membuahkan hasil gemilang dengan terusirnya Belanda, dan Indonesia bisa merengkuh kemerdekaan yang hakiki, lahir dan batin.

Walaupun kemerdekaan ini tentu hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia, tetapi peran santri dan para kiai sebagai motor penggerak perjuangan menjadi sangat vital karena mampu menggugah semangat jihad untuk berperang mempertahankan kemerdekaan.

Ini, sekali lagi membuktikan, bahwa kaum santri deng ciri khasnya yang menyayangi sesama hamba Allah, hormat kepada guru dan kedua orang tuanya, tidak mudah menyalahkan dan sikapnya yang moderat nan lemah lembut, tidak berarti lemah dalam menjalankan ajaran agama. Sebab bila dibutuhkan, apalagi dalam hal bela negara, kaum santri telah membuktikan.

Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2020.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo