genealogi
genealogi

Menguji Kembali Genealogi Islam di Nusantara

Indonesia merupakan Negara yang memiliki penduduk yang mayoritasnya memeluk agama Islam. Namun, menariknya walaupun sebagai negara mayoritas, Indonesia menjadi negara yang tidak dibangun berdasarkan asas Islam. Keragaman bangsa, etnis, suku, agama dan bahasa menjadi simfoni bangsa yang terjaga dengan nilai-nilai Islami. Inilah yang menjadi negara ini menjadi sangat unik.

Keunikan lain yang bisa dilihat bahwa Islam di nusantara menjadi entitas tersendiri yang berbeda dengan Islam semisal di Timur Tengah dan Asia lainnya. Dialektika Islam sebagai agama yang membawa nilai universal dengan masyarakat yang memegang kebijaksanaan lokal membentuk ciri khas keislaman nusantara.

Bisa jadi memang karena karakter budaya nusantara sangat lentur tetapi sulit dipatahkan. Karenanya ajaran apapun menjadi nusantara ketika masuk ke wilayah ini. Atau bisa jadi karena kelenturan Islam yang dibawa dengan pendekatan kearifan, bukan pemaksaan.

Lalu, sebenarnya yang penting menarik didiskusikan adalah dari mana sebenarnya Islam ke nusantara ini berasal? Apakah Islam dari Arab langsung, atau dari India atau China atau teori lainnya?

Teori Besar Islam Nusantara

Ada tiga teori yang mengungkapkan tentang masuknya Islam ke Indonesia, di antaranya yakni Teori Gujarat, Teori Makkah, dan Teori Persia. Semua teori ini telah panjang lebar bercerita tentang kapa masuknya Islam ke Indonesia dan siapa tokoh yang menyebarkan Islam di Indonesia.

Namun teori-teori yang ada tidak mampu mengungkapkan masuknya Islam pada tiap-tiap pulau di Indonesia. Namun hanya beberapa pulau yang paling mempengaruhi perkembangan Islam di Indonesia saja. Contohnya pulau Jawa dan Sumatera.

1. Teori Gujarat

Teori ini meyakini bahwa kedatangan Islam ke Indonesia berasal dari Gujarat pada abad ke-7 H atau abad ke-13 M. Gujarat sendiri terletak di Negara India bagian barat, berdekatan dengan Laut Arab.

Baca Juga:  Mengenal Abu Dahdah : Sahabat Pemilik Kebun dengan Ratusan Batang Pohon Kurma

Adapun tokoh yang mengungkapkan teori ini adalah sarjana dari Belanda. Ia adalah J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke-19.  Dalam teorinya Ia mengungkapkan bahwa ada orang Arab bermazhab Syafi’i yang tinggal di Gujarat dan memperkenalkan Islam di sana.

Akan tetapi, menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab tersebut, melainkan orang Gujarat yang berprofesi sebagai pedagang. Pedagang tersebut telah memeluk agama Islam dan berdagang ke Negara bagian timur, termasuk Indonesia.

Teori Gujarat kemudian juga dikembangkan oleh J.P. Moquetta (1912) yang memberikan argumentasi dengan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat pada tanggal 17 Dzulhijjah 831 H/1297 M di Pasai, Aceh. Menurutnya, batu nisan makam Maulanan Malik Ibrahim yang wafat tahun 1419 di Gresik, Jawa Timur  diimpor dari Gujarat. Karena bentuk kaligrafi yang tertulis pada nisan tersebut mencirikan bentuk kaligrafi khas Gujarat.

Namun, dalam perkembangannya, teori Gujarat dibantah oleh banyak ahli indonesia. Mereka menuturkan Gujarat dan kota-kota di anak benua India hanyalah sebagai tempat persinggahan bagi pedagang Arab sebelum melanjutkan perjalanan ke Asia Tenggara dan Asia Timur. Selain itu, pada abad XII-XIII Masehi wilayah Gujarat masih dikuasai pengaruh Hindu yang kuat.

2. Teori Makkah

Haji Abdul Karim Amrullah atau biasa di panggil Hamka merupakan seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia yang memperkenalkan teori Makkah. Ia mengungkapkan proses masuknya Islam ke Indonesia langsung dari kota Makkah.

Pada tahun 1958, Hamka menyampaikan penolakannya terhadap anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Makkah. Menurutnya, awal kedatangan orang Makkah ke Indonesia tidak dilandasi oleh unsur perdagangan, namun murni karena spirit penyebaran agama Islam.

Baca Juga:  Mengenal Syiah Salafi

Hamka berpendapat bahwa orang Islam di Indonesia mendapatkan ilmu Islam murni dari negeri lahirnya Islam (Makkah), bukan hanya sekadar perlintasan perdagangan.

3. Teori Persia

Masuknya Islam di Indonesia sejak abad ke-7 Masehi. Teori ini hampir sama dengan teori Gujarat. Namun, menurut teori Persia, yang dahulunya membawa Islam ke bumi Nusantara ini merupakan para pedagang yang berasal dari Persia. Pedagang Persia ini merupakan seorang muslim Syi’ah.

Teori Persia dikuatkan dengan sejumlah manuskrip yang berada di perpustakaan Negara Iran. Kebudayaan Syi’ah banyak kita jumpai dalam kebudayaan Islam di Nusantara. P.A Hoesein Djaja Ningrat mendasarkan analisisnya pada pengaruh sufisme Persia terhadap beberapa ajaran mistik Islam (sufisme) Indonesia.

Adapun ajaran manunggaling kaula gusti dari Syekh Siti jannar merupakan pengaruh dari ajaran wahdad al-wujud al-Hallaj dari Persia. Peringatan bulan Asyyura atau 10 Muharram sebagai salah satu hari yang diperingati oleh kaum Syiah, yakni hari wafatnya Husain bin Abi Thallib di padang Karbala. Ini semua merupakan bukti akan kebenaran pendukung dari teori Persia yang ada di Indonesia.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Muhammad Abdullah Darraz

Keterbukaan dan Sikap Kritis Kunci Pulih dari Virus Intoleransi dan Radikalisme

Jakarta – Sejak proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, sejatinya Indonesia masih di bawah bayang-bayang …

Tokoh lintas agama hadir upacara peringatan HUT ke RI di Masjid Istiqlal

HUT ke-77 RI di Masjid Istiqlal, Sejarah Peringatan HUT RI di Rumah Ibadah dan Dihadiri Tokoh Lintas Agama

Jakarta – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Proklamasi Republik Indonesia (RI) mencatatkan sejarah baru …