Menyambut Bulan Rajab yang Penuh Kemuliaan

0
1489
bulan rajab

Dalam kalender hijriyah sebentar lagi kita akan memasuki bulan Rajab yang jatuh bertepatan dengan tanggal 25 Februari 2020. Memang penanggalan ini tidak begitu populer dan bahkan kadang banyak dilupakan. Mengetahui kalender hijriyah sangat penting karena banyak bulan-bulan dalam Islam yang dimuliakan. Salah satunya adalah bulan Rajab.


Bulan Rajab adalah bulan ke tujuh dalam kalender Hijriyah. Bulan setelah Jumadil Tsani dan sebelum Sya’ban. Dalam sejarah, sebelum kalender hijriyah secara resmi dikukuhkan sebagai penanggalan umat Islam, yakni pada masa Umar bin Khattab, masyarakat Arab Jahiliyah pra Islam telah menganggap bulan Rajab sebagai bulan mulia.

Sejatinya, nama-nama bulan dalam kalender hijriyah banyak diadopsi dari bangsa Arab yang selama berabad-abad telah memakainya. Jadi penamaan bulan-bulan tersebut bukan berdasar wahyu atau hadis. Masyarakat Arab jauh sebelum Islam turun telah terbiasa menggunakan bulan sebagai cara menentukan waktu. Itulah sebabnya kenapa penanggalan mereka disebut  al Taqwim al Qamari. Walaupun ada juga yang menggunakan matahari untuk standar penentuan hari seperti penduduk Yaman.

Pada mulanya, walaupun sama-sama menggunakan bulan sebagai standar untuk menentukan waktu, namun untuk penamaan bulan dalam kalender tidak seragam. Penduduk Arab memberi penamaan bulan-bulan tersebut sesuai dengan kondisi dan adat istiadat masing-masing.

Baru pada tahun 412 M, para pembesar bangsa Arab Makkah lintas kabilah dan suku melakukan konvensi untuk menentukan dan menyatukan nama-nama bulan dalam kalender mereka. Peristiwa ini terjadi di masa Kilab bin Murrah kakek Nabi Muhammad yang ke enam. Akhirnya mereka bersepakat. Maka muncullah nama-nama bulan seperti yang ada pada kelander hijriyah saat ini.

Namun begitu, pada saat itu belum ada kesepakatan tentang tata urut nama-nama bulan tersebut. Dari bulan ke satu sampai bulan ke dua belas. Penomeran bulan-bulan dalam kalender hijriyah seperti saat ini baru tertib di masa Umar bin Khattab.

Makna Rajab dan Kemuliaannya Menurut Islam

Kembali pada pembahasan bulan Rajab. Rajab menurut bahasa Arab berarti mulia. Makna ini seperti yang dijelaskan oleh Abu Nashr al Farabi dalam karyanya al Shihah Taaj al Lughah; Rajab artinya mulia. Seperti kalimat “Aku merajabkan sesuatu, artinya aku memuliakan dan mengagungkannya”.

Bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini. Pada bulan Rajab mereka mengharamkan perang. Sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan Rajab, mereka melakukan ritual berupa sembelihan untuk memberi makan keluarga dan sedekah kepada orang-orang sekitarnya. Menurut al Farahidy dalam kitabnya al ‘Ain, tradisi sembelihan bangsa Arab pada bulan Rajab itu dikenal dengan istilah “al Rajabiyah atau “al “Atirah”.

Setelah Islam menjejak di bumi, tradisi memuliakan bulan Rajab oleh bangsa Arab tidak dihapus. Lebih dari itu Islam justru mempertegas kemuliaannya dengan banyak wahyu dan diperkuat oleh beberapa hadis. Islam bahkan memasukkan bulan Rajab pada kelompok empat bulan haram. Yakni, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab.

Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Nabi, dari Abu Bakar Rasulullah bersabda, “Setahun itu ada dua belas bulan, dan di antaranya ada empat bulan mulia, tiga berurutan, yakni Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram, dan Rajab Mudhar dianatar Jumada dan Sya’ban”. (Muttafaq ‘Alaih).

Mengenai kemuliaan empat bulan haram ini, Imam Thabari dalam tafsirnya menjelaskan, “Allah memberikan keistimewaan kepada empat bulan haram dari pada bulan-bulan yang lain. Dosa di bulan-bulan itu sangat besar siksanya, demikian pula pahala yang dikerjakan ganjarannya teramat besar pula”.

Sedangkan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menukil perkataan Imam Qatadah, ahli tafsir dari kalangan tabi’in, menyatakan “Allah mensucikan beberapa golongan dari makhluknya, mensucikan para Rasul dari golongan malaikat, mensucikan para Rasul di antara manusia yang lain, mensucikan dzikir dari perkataan makhlukNya, mensucikan Masjid dari tanah-tanah yang lain, mensucikan bulan Ramadlan dan bulan-bulan haram di antara bulan-bulan yang lain, mensucikan hari jum’at di antara hari-hari yang lain, mensucikan malam lailatul qadr di antara malam-malam lain. Maka muliakanlah apa yang telah Allah muliakan. Karena memuliakan apa yang telah Allah muliakan adalah apa yang dilakukan oleh para ahli ilmu dan orang-orang yang berakal”.

Cara Memuliakan Bulan Rajab

Adapun salah saru cara memuliakan bulan-bulan haram adalah dengan cara berpuasa di bulan-bulan tersebut. Ini merupakan bentuk memuliakan apa yang Allah muliakan. Di samping itu, seperti telah disebut sebelumnya, pada bulan-bulan tersebut pahala dilipat gandakan.

Apakah ada dalilnya?. Imam Ahmad dalam musnadnya, Imam Abu Daud dan Imam ibnu Majah dalam kitab sunan mereka meriwayatkan hadis dari salah seorang suku al Bahilah, “Aku mendatangi Nabi, lalu berkata kepada beliau, wahai Nabi, aku adalah orang yang pernah datang kepadamu di tahun pertama, Nabi bertanya, kenapa badan kamu menjadi kurus?, ia menjawab,  aku (selama ini) tidak makan dalam sehari kecuali malam saja.

Nabi bertanya, “Siapa yang menyuruhmu menyiksa tubuhmu seperti ini”? aku menjawab, “wahai Nabi, aku orang yang kuat bahkan paling kuat”. Nabi mengatakan, “Puasalah bulan Sabar (bulan Ramadlan) saja, dan sehari setelahnya”. Lalu aku menjawab, “Aku lebih kuat dari itu ya Nabi”, Nabi menjawab, “Kalau begitu, puasa Ramadlan dan dua hari setelahnya”, aku menjawab lagi, “Aku lebih kuat dari itu wahai Nabi”, Nabi berkata, “kalau begitu, puasa Ramadlan dan tiga hari setelahnya, dan puasalah pada bulan-bulan haram”.

Apakah Puasa Bulan Rajab Bid’ah?

Mayoritas ulama sepakat, bahwa puasa di bulan Rajab hukumnya sunnah. Ada pula sebagian kecil ulama yang berpendapat makruh. Seperti ulama dari madhab Hanabilah. Dan tidak ada seorang pun dari kalangan ulama-ulama salaf yang menyatakan puasa bulan Rajab bid’ah. Kesunnahannya menurut jumhur ulama disandarkan kepada dalil-dalil umum yang terkait dengan keutamaan-keutamaan bulan Haram dan sunnahnya puasa mutlak. Seperti pada hadis di atas.

Memang benar, kalau kita telaah lebih lanjut, status hadis yang menyatakan keutamaan-keutamaan bulan Haram termasuk puasa di dalamnya adalah lemah. Bahkan sampai pada status status maudhu’. Sebagaimana pernyataan Imam Ibnu Hajar al ‘Asqalani dalam kitabnya Tabyin al ‘Ujbi fima Warada fi Syahri Rajaba. Kitab khusus yang memuat hadis-hadis tentang Rajab. Akan tetapi, tidak shahih bukan berarti terlarang.

Para ulama sepakat bahwa hadis-hadis tentang Rajab derajatnya di bawah shahih. Mereka juga sepakat  bahwa kesunnahan puasa Rajab tetap berlaku. Kenapa bisa seperti itu?. Dalil-dalil kesunnahan puasa Rajab bukan semata didasarkan pada hadis yang lemah tersebut, tetapi juga berdasar pada hadis-hadis umum yang menyatakan keutamaan bulan-bulan Haram.

Imam Syaukani dalam kitabnya Nail al Authar menjelaskan, ada banyak hadis yang menjelaskan disyariatkannya puasa di bulan Rajab, baik secara umum atau khusus. Menurutnya hadis-hadis yang secara umum menjelaskan tentang anjuran untuk berpuasa di bulan-bulan Haram. Bolehnya berpuasa berdasarkan hadis-hadis umum adalah ijma’ ulama.

Pernyataan ini diperkuat dengan penjelasan sebelumnya di kitab yang sama. Sebelumnya Imam Syaukani menjelaskan, secara dhahir hadis Usamah yang menerangkan ketika Rasulullah ditanya mengenai puasa Sya’ban, beliau menjawab, “Sesungguhnya bulan Sya’ban yang ada di antara Rajab dan Ramadlan adalah bulan yang banyak dilupakan oleh manusia”.

Hal ini merupakan indikasi kesunnahan puasa Rajab. Secara dhahir hadis ini menyinggung para sahabat yang lalai mengagungkan bulan Sya’ban dengan berpuasa sebagaimana mereka mengagungkan Ramadlan dan Rajab dengan berpuasa.

Menurut Syaukani, banyak para sahabat waktu itu yang lupa puasa Sya’ban karena ada di antara dua bulan yang mereka sering berpuasa di dua bulan tersebut. Yakni, Rajab dan Ramadlan. Hal ini membuktikan bahwa puasa di bulan Rajab merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh para sahabat Nabi.