HAMKA berkontribusi di bidang keilmuan Islam dalam mencetuskan istilah “tasawuf modern”. Apa yang dimaksud dengan tasawuf modern itu?


Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) atau HAMKA, adalah cendekiawan muslim Indonesia yang kharismatik. Ia dikenal masyarakat luas sebagai orang yang berilmu tinggi, terutama dalam bidang yang berkaitan ilmu-ilmu sosial dan agama, seperti sejarah, sastra, filsafat, tasawuf, fiqh, tafsir, dan lain sebagainya.

Di kalangan masyarakat, HAMKA tidak hanya dikenal sebagai seorang ulama, tapi juga sebagai seorang intelektual muslim yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemajuan Islam. Selama hidupnya, Hamka adalah sosok penulis yang produktif. Ia menghasilkan karya sejumlah 113 buah dalam bentuk buku-buku termasuk naskah-naskahnya yang belum diterbitkan.

HAMKA lahir hari Ahad petang malam Senin, tanggal 13 masuk 14 Muharram 1326 H, atau tanggal 16 Februari 1908. Ayahnya adalah ulama hebat “kaum muda”, bernama Haji Abdul Karim Amrullah. Makna “kaum muda” sebagai simbol kemajuan dan modernisasi, mengacu kepada “gerakan Padri”, yang mempunyai paham keagamaan puritan.

HAMKA bernama asli Abdul Malik, yang oleh ayahnya dinisbatkan kepada gurunya,  Abdul Malik bin Syekh Ahmad Khatib di Mekkah. Pemikiran keagamaan HAMKA dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, faktor internal dari keluarga, baik dari jalur ayahnya (“Haji Rasul”) maupun jalur kakek-neneknya yang juga seorang ulama. Kedua, faktor eksternal dari pendidikan dan pengalaman merantau ke pulau Jawa (Yogyakarta, Pekalongan) maupun belajar ke Mekkah.

HAMKA belajar langsung kepada seperti Ki Bagus Hadikusuma, H.O.S Cokroaminoto, Haji Fakhruddin, R.M Suryopranoto, dan A.R. Sutan Mansur. HAMKA berkontribusi di bidang keilmuan Islam dalam mencetuskan istilah “tasawuf modern”. Apa yang dimaksud dengan tasawuf modern itu?

Pertama-tama, HAMKA memahami tasawuf sebagai kehendak memperbaiki budi dan men-shifa’-kan (membersikan) batin. Tasawuf modern, maksudnya adalah pemahaman tentang tasawuf yang dipermodernkan, meskipun tulisan yang ia tuangkan juga merujuk pada buku-buku tasawuf (klasik). Pada mulanya HAMKA menulis di majalah Pedoman Masyarakat dengan judul “Bahagia”, yang kemudian dibukukan dengan judul Tasawuf Modern.

Tulisan-tulisan tersebut mulai disusun pada tahun 1937 dan berakhir pada nomor ke-43 tahun 1938, baru kemudian dibukukan atas permintaan sahabat HAMKA yang bernama Oei Ceng Hein, salah seorang mubaligh yang terkenal di Bintuhan.

Tasawuf modern dimaknasi sebagai semua aktivitas atau kegiatan yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan sunnah. Artinya, aktivitas sosial yang dapat memberikan kontribusi pada kemaslahan/permberdayaan umat.

Makna zuhud, tidak mengharuskan benci kepada hal-hal yang bersifat “duniawi”, tetapi sikap hidup agar hati tidak “dikuasai” oleh keduniawian. Tentang penciptaan manusia, HAMKA tidak sependapat dengan pemahaman sufi tentang wahdat al-wujud, misalnya tentang jiwa/ruh. HAMKA mengajukan sejumlah argumentasi dalam mempertahankan keyakinannya, yang ia kemukakan dalam banyak tulisan.

Jiwa atau ruh manusia, misalnya, menurut HAMKA bukanlah bagian dari Tuhan, tetapi ruh yang dimaksud—sebagaimana ia menafsirkan Q.S al-Hijr: 29, Q.S Shad: 72, dan Q.S al-Sajdah: 9 yang di dalamnya terdapat kata “dari ruhku” (min al-ruhi)—adalah ruh “milik” Tuhan yang tidak identik dengan-Nya (Hamka, 1985; juz 21: 21, juz 14; 186, juz 23; 260).

Karena integritas keilmuannya itulah, HAMKA oleh banyak kalangan disanjung dengan penilaian yang cukup beragam, yaitu sebagai sejarawan, antroplog, sastrawan, ahli politik, jurnalis, dan islamolog. Predikat-predikat ini setidaknya dapat ditemukan pada penilaian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti ternama, seperti Karel A. Stenbrink, James Rush, dan Gerard Moussay. Fachry Ali (1983) menyebut HAMKA sebagai pioner modernisasi Islam di Indonesia.