Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah salah satu pahlawan nasional karena kontribusinya yang luar biasa dalam usaha kemerdekaan Indonesia. Peran besar untuk keutuhan dan kemajuan negara ini berlanjut pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satunya adalah soal penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal negara Indonesia.

Pada mulanya, pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo ini termasuk orang yang tidak senang dengan niat Soeharto, penguasa Orde Baru yang berniat menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal. Namun setelah bertemu dan berdiskusi dengan dua kiai muda NU, yakni Kiai Achmad Siddiq dan Kiai Abdurrahman Wahid (alias Gus Dur), sikap beliau melunak.

Hal ini sebagaimana ditulis oleh Syamsul A. Hasan dalam bukunya ‘Harisma Kyai As’ad di Mata umat’. Gus Dur berkata kepada Kiai As,ad, “Tak usah khawatir, Kiai, Pancasila tidak akan menggantikan Islam dan Pancasila tidak akan melawan Islam”.

Untuk memastikan, kemudian Kiai As’ad menemui Presiden Soeharto seraya berkata, “Apa mau menerapkan Pancasila sebagai agama terus membuang Islam dan yang lain? Kalau Pancasila ditempatkan sebagai agama, kita berpisah sampai di sini”.

Soeharto tersentak kaget. Presiden kedua ini kemudian menjamin bahwa Pancasila tidak akan dijadikan agama atau agama dijadikan Pancasila. Tapi Pancasila menjadi semacam gerbang untuk masuknya semua agama, semua komponen bangsa, untuk berangkulan dan membangun bangsa secara bersama-sama. Soeharto berkata kepada Kiai As’ad, “Agama ya agama, Pancasila ya Pancasila”.

Akhirnya Kiai As’ad mafhum dan menegaskan NU siap menerima Pancasila. Islam wajib menerima Pancasila dan haram bila menolak. Sila pertama selaras dengan doktrin tauhid, qul huwa Allahu Ahad “Katakanlah (wahai Muhammad) Dia adalah Allah, (Tuhan) yang Maha Esa.

Secara formal Kiai As’ad kemudian memfasilitasi kegiatan Munas Alim Ulama NU ditempatkan di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang salah satu agendanya, yang menjadi sorotan banyak pihak, pembahasan Pancasila sebagai asas tunggal. Dan Munas NU tahun 1983 di Situbondo itu mendeklarasikan hasil Munas terkait Pancasila.

Pertama, Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia adalah prinsip fundamental, namun bukan agama dan tidak dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

Kedua, sila Ketuhanan yang Maha Esa sebagai dasar negara menurut pasal 29 ayat (1) UUD 1945 yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

Ketiga, bagi NU Islam adalah aqidah dan syariah meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar sesama.

Keempat, penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dan upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan kewajiban agamanya.

Kelima, sebagai konsekuensi dari sikap tersebut di atas, NU berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Sampai di sini, usaha Kiai As’ad dan para ulama yang lain untuk menerima Pancasila sebagai asas tunggal menuai hasil secara maksimal. Munas NU yang dihadiri oleh para ulama se Nusantara secara resmi, dengan berdasar pada kajian dalil hukum secara matang, menerima Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia.

Dengan demikian, Pancasila harus tetap dipertahankan sebagai ideologi bangsa karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama manapun dan terbukti sampai saat ini mampu merekatkan masyarakat Indonesia yang majemuk. Wajar kalau Kiai As’ad bilang, “Pancasila sebagai potret dari piagam Madinah di era modern”.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.