asmaul husna
asmaul husna

Kearifan Sufi dan Terapi Asmaul Husna

Menjadi seorang sufi, atau menjalankan ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari adalah sebuah tantangan. Dikatakan demikian, karena menjadi sufi, berarti mensucikan hati dan pikiran dari perkara duniawi. Sebab, kehidupan yang didominasi oleh syahwat duniawi—sementara aspek ukhrawi disingkirkan—dapat merongrong setiap insan berperilaku tidak manusiawi akibat keserakahan nafsu yang menguasainya.

Tidak heran, bila seorang sufi di abad-abad terdahulu, bahkan berani meninggalkan kehidupan duniawinya dan beralih secara total ke dunia spiritual. Namun belakangan, sikap “ekstrim” yang demikian itu rupanya sangat jarang dijumpai kembali. Yang ada, menjadi sufi di zaman modern, dituntut untuk memperlakukan kehidupan duniawi dan ukhrahi secara proporsional, seimbang dan tidak berat sebelah. Dan yang seperti ini, juga sebenarnya bukanlah perkara mudah untuk diamalkan.

Neil Douglas-Klots, penulis buku The Sufi Book of Life: 99 Pathways of the Heart for The Modern Darvish (2009), menghidupkan kearifan-kearifan sufi melalui internalisasi terhadap asma’ al-husna (nama-nama indah Allah Swt). Nama-nama indah itu oleh Saadi Shakur Chishti, nama Islam Neil, didekati secara aktual, yaitu menafsirkan setiap ‘nama’, dalam bingkai kemodernan yang terasa sangat mengena bagi kehidupan kita sehari-hari.

Memaknai al-Salam

Kata al-salam, misalnya, yang lazim diterjemahkan dengan “Mahasumber Kedamaian” atau “Mahasumber Keselamatan”. Kata al-islam juga berasal dari akar kata yang sama, sebagai jalan kedamaian, berserah diri kepada Realitas Esa Yang Mahabesar.

Kebiasaan untuk mengingat dan mengucapkan salam sudah berusia sangat tua di Asia Barat. Dalam tradisi Yunani Kuno, shalom berarti hari ketujuh (atau masa yang diterangi) penciptaan, ketika Allah Yang Mahasuci mengingat dan mengembalikan kesadaran akan semua yang telah berlalu kepada diri-Nya.

Pada hari-hari selanjutnya, menurut Neil, Allah Swt. Menyampaikan salam, “kedamaian bersamamu!” setiap saat pada makhluk yang diciptakan-Nya. Dalam sebuah kisah terkenal yang dituturkan oleh Nabi Muhammad Saw., Allah menyuruh Adam mengucapkan salam kepada para malaikat dengan perkataan al-salam ‘alaikum—kedamian untukmu sekalian.

Baca Juga:  Larangan Gembira di Atas Penderitaan Orang Lain

Malaikat-malaikat kemudian menjawab, “Kedamaian untukmu, Adam, dan juga kasih sayang (al-rahman) serta berkah (barakah) Allah untukmu”. Lantas Allah menyuruh Adam menyampaikan salam ini kepada seluruh umat manusia sesudahnya. Nabi Isa a.s mengajarkan kepada umatnya mengucapkan salam dalam bahasa Aramaik (shalama bayta) kepada setiap rumah yang mereka kunjungi.

Sebagian besar orang Barat tahu bahwa kata-kata tersebut berarti “damai”. Namun, damai dalam pengertian ini bukan lawan kata “perang”, melainkan potensi damai dan kreatif yang ada sejak awal seluruh penciptaan, dan yang ada hingga sekarang.

Dalam pemahaman yang demikian, ucapan salam atau shalom kepada orang lain lebih bermakna ketimbang sapaan “halo”. Bagi kaum sufi, tulis Neil, al-salam berarti, “Ingatlah, ada suatu masa ketika tak seorang manusia pun berada di sana. Dalam semesta raya ini, apakah masalah konflik, dan sakit hati Anda masih menjadi persoalan? Damailah!”.

Dengan cara itu, Neil sesungguhnya kembali menghidupkan tradisi tasawuf yang sudah berumur tua sekian abad lalu, dengan banyak pendekatan dan praktik. Neil tidak lagi berkutat pada sejumlah teori yang mendaki-daki pikiran, tetapi ia beranjak langsung ke jantung persoalan dengan melakukan semacam injekasi kesadaran, agar di antara kita bisa menjadi lebih baik lewat terapi asma’ al-husna, yang merupakan inti praktik kaum sufi sepanjang sejarah.

Neil mengingatkan kita melalui nasehat berikut: “Saat Anda dibimbing untuk menempuh jalan ini, luangkanlah waktu untuk merenungkan awal mula penciptaan alam semesta dan calon-calon makluk, dan untuk mengingat-ingat sumber kedamaian terdalam”.

Bagikan Artikel ini:

About Ali Usman

Avatar of Ali Usman
Pengurus Lakpesdam PWNU DIY

Check Also

kemerdekaan palestina

Gilad Atzmon dan Pandangannya tentang Kemerdekaan Palestina

Gilad mendukung penuh “hak pulang kampung” rakyat Palestina dan “solusi negara tunggal” bagi penyelesaian konflik yang sudah berlangsung lama itu.

kecerdasan esq

Manajemen Kecerdasan IQ, EQ, dan SQ

Manusia, jika ditinjau dari neurosains, merupakan makhluk yang “unik”. Dalam dirinya tersimpan banyak misteri untuk …