anak shalat
anak shalat

Panduan Orang Tua Muslim (3): Membiasakan Anak Shalat Lima Waktu

Titah Tuhan: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Al Dzriyat: 56).

Tugas utama manusia sebagai khalifah di Bumi adalah menyembah Tuhan. Agama Islam kemudian mewajibkan shalat lima waktu sebagai media menyembah Tuhan. Andai pun shalat lima waktu hukumnya bukan wajib, seorang hamba yang baik tentu tidak akan meninggalkannya.

Shalat menjadi sarana komunikasi hamba dengan Tuhannya. Sebagai bentuk pengakuan bahwa dirinya memang ada yang menciptakan. Pengakuan semacam ini telah diajarkan dalam surat al Fatihah yang menjadi satu-satunya surat dalam al Qur’an yang wajib dibaca ketika shalat

“Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya pada Engkau-lah kami memohon pertolongan”.

Shalat wajib lima kali sehari semalam tidak membutuhkan waktu cukup lama. Hanya sebentar. Namun, kewajiban paling utama umat Islam tersebut sangat sulit dilaksanakan. Terasa sangat berat dan begitu membebani. Butuh keimanan yang kokoh untuk menjalankan shalat tanpa alfa. Butuh pembiasaan dan pemahaman akan pentingnya shalat wajib.

Untuk itu, supaya anak-anak kita kelak, setelah masuk usia wajib shalat terbiasa menjalankannya, maka harus dibiasakan sejak kecil. Apabila telah dilatih sejak dini, setelah masuk usia baligh nanti anak tidak akan mudah meninggalkan shalat. Bahkan, mereka akan merasakannya shalat sebagai kebutuhan.

Anjuran mendidik anak supaya dibiasakan shalat lima waktu adalah anjuran Nabi. Dengan demikian, shalat yang dikerjakan oleh anak-anak tetap bernilai pahala meskipun mereka belum masuk usia wajib. Pahala akan diberikan kepada orang tuanya.

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat saat mereka berusia tujuh tahun. Pukullah mereka (dengan tujuan mendidik tidak menyakitkan) ketika mereka berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. (HR. Abu Daud).

Baca Juga:  Aku Cinta Negeriku sebagaimana Rasulullah Mencintai Negerinya

Karenanya, penting melatih anak melakukan shalat lima waktu supaya ketika dewasa menjadi anak shaleh. Taat menjalankan shalat sebagai tiang agama. Sebab, jika shalat baik maka seluruh amalnya akan baik dan diperhitungkan. Akan tetapi, jika shalat ditinggalkan tidak ada harapan amal ibadah yang lain akan diperhitungkan oleh Allah.

Kata Nabi: “Shalat adalah tiang agama (Islam). Siapa yang menunaikannya sungguh ia telah mengokohkan dan menegakkannya agama (Islam) itu. Dan, siapa yang merobohkannya (tidak shalat) sungguh ia telah merobohkan agama (Islam) itu”. (HR. al Baihaqi).

Oleh karenanya, membiasakan anak untuk shalat adalah bagian dari ikhtiar orang tua supaya anak-anaknya menjadi anak shaleh. Orang tuanya harus menyadari pentingnya pembiasaan shalat untuk anak-anak mereka. Harus meluangkan waktu dan tidak boleh meluapkan hasrat aktivitas duniawi sampai lupa mendidik dan membiasakan anak-anak untuk shalat.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

murtad

Murtad Kemudian Islam Lagi, Apakah Shalatnya Wajib Qadha’?

Kita mendapat kabar Nania Yusuf alias Nania Idol yang murtad pada tahun 2009 lalu kini …

salah kiblat

Setelah Shalat Baru Menyadari Ternyata Salah Arah Kiblat?

Titah-Nya: “Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram” (al Baqarah: 145) Yang dimaksud adalah menghadap …