ibadah
ibadah

Pelajaran dari Ramadan : Jangan Menjadi Ahli Ibadah yang Mudah Tertipu

Ramadan telah berlalu dengan berbagai latihan yang telah sukses dijalankan oleh umat Islam. Namun, ada beberapa yang penting untuk dijadikan pelajaran selama menjalani ibadah mahdhah ini. Salah satunya adalah jangan menjadi ahli ibadah yang mudah tertipu. Siapa itu?

Imam Ghazali dalam kitabnya Al Kasyfu wa al Tabyin menyebut golongan salah satu golongan dengan istilah “al Maghrurin”, yang bermakna ahli-ahli ibadah yang mudah tertipu. Menurut Imam al Ghazali, mereka tertipu karena keliru menempatkan skala prioritas.

Di antaranya, lanjut al Ghazali, para ahli ibadah tertipu karena mengabaikan kewajiban yang fardhu dan menyibukkan diri pada ibadah-ibadah sunnah. Terkadang, mereka terlalu larut tenggelam dalam kesibukan itu hingga sampai pada prilaku berlebihan dan permusuhan.

Misalnya, dalam praktek Ramadan, boleh-boleh saja menghidupkan malam Ramadan dengan qiyamul lail seperti shalat tahajud dan membaca al Qur’an. Tetapi, jika karena aktivitas tersebut justru tidak shalat subuh, sesungguhnya, mereka sedang tertipu.

Berikutnya termasuk orang yang tertipu adalah mereka yang sibuk berdebat soal shalat tarawih; memperdebatkan berapa jumlah rakaat, kemudian gara-gara itu sampai terjadi permusuhan, saling ejek dan saling merasa benar sendiri. Maka, mereka sesungguhnya tertipu. Sebagaimana dimaklum, shalat tarawih hukumnya sunnah, sementara menjaga kerukunan dan persatuan adalah wajib. Tarawih adalah amal kebaikan, tapi keliru kalau sampai mengorbankan amal lain yang lebih baik.

Mereka yang tertipu berikutnya adalah mereka yang mentang-mentang berpuasa, tapi mencibir, menghina dan menistakan orang yang tidak berpuasa, riya’, sweeping terhadap mereka yang tidak puasa dan warung makan yang masih buka.

Mengutuk orang yang tidak berpuasa, mengutuk pemilik warung makan yang sedang mencari nafkah, secara tidak disadari telah memposisikan diri sebagai pemilik kebenaran, mengandaikan diri sebagai Tuhan. Hal ini bisa menimbulkan keresahan, pertikaian dan permusuhan yang semestinya harus dihilangkan.

Nafsu merendahkan, menghina, mencerca, nafsu berkata kotor, ghibah atau menggunjing, dan berdusta adalah keburukan yang bisa menggagalkan pahala puasa. Kata Rasulullah, puasanya tidak bernilai apa-apa, alias tidak berpahala kecuali sekedar kesengsaraan menahan lapar dan dahaga.

Meski kita sudah berpuasa jangan-jangan kita termasuk al Maghrurin, yaitu para ahli ibadah yang mudah tertipu oleh nafsu. Karena sejatinya mereka gagal mengendalikan hawa nafsu sebagaimana tujuan puasa sebenarnya.

Pelajaran ke depan setelah puasa adalah agar kita tidak menjadi ahli ibadah yang mudah tertipu. Merasa benar sendiri sambal mengejek yang lain. Merasa paling sunnah hingga merendahkan yang lain. Padahal hal yang menjadi kewajiban adalah menghargai perbedaan sebagai sunnatullah.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

yazir hasan

Meluruskan Kebohongan Yazir Hasan yang Mengatakan KH. Hasyim Asy’ari Mengingkari Perayaan Maulid Nabi

Viral di media sosial masyarakat menggeruduk Masjid Utsman bin Affan, masjid yang berlokasi di Nyalabuh …

rasmus paludan

Rasmus Paludan Bakar Al Quran ; Teroris dan Seharusnya Sikap Umat Islam

Kasus intoleransi terulang lagi. Rasmus Paludan, pemimpin partai sayap kanan Stram Kurs (Garis Keras), membakar …

escortescort