Pembahasan Khilafah dan Radikalisme Masih Trending, MUI Bahas Pengarusutamaan Konten Produktif di Medsos

0
211

Jakarta – Narasi atau perbincangan yang hadir di medsos Indonesia, khususnya platform Twitter, menceminkan kondisi yang kurang sehat. Hal itu terlihat dengan masih tingginya pembahasan tentang khilafah dan radikalisme yang menempati posisi kedua dan ketiga. Posisi pertama masih tema ekonomi, sedangkan keempat pendidikan. Fakta ini mengindikasikan bahwa perbincangan umat tidak terlalu produktif.

Hal itu disampaikan oleh Pendiri Media Kernels Indonesia (Drone Emprit), Ismail Fahmi, saat memberikan pemaparan dalam FGD Pra Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Ke-7 tema Media dan Pers di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (21/01/2020).

“Perdebatan mengenai radikalisme dan khilafah itu tidak produktif khususnya bagi umat Islam. Mengingat banyaknya umat yang masih tertinggal, maka diskusi di medsos sebaiknya diisi diskusi yang lebih bermanfaat seperti pendidikan dan sejenisnya,” ujar Ismail.

Dia juga menerangkan bahwa ada kelompok tertentu yang memang berusaha memunculkan diskusi radikalisme dan khilafah itu. Menurutnya, umat sebaiknya tidak merespon tema itu dan membuat tema-tema sendiri yang lebih produktif sehingga konten di medsos lebih kaya dan mencerahkan umat.

“Kalau kita lihat, bahkan pada isu yang sangat penting pun seperti pendidikan tidak banyak, ini akibatnya publik hanya diajak membicarakan tentang itu-itu saja, ketika ada narasi radikalisme khilafah dan lainnya, tidak perlu dilawan, cukup dibuat narasi tandingan yang produktif bagi umat, umat Islam Indonesia harus membicarakan narasi besar yang bagus untuk bangsa yang produktif,” katanya.

Sementara itu, Guru Besar Komunikasi Universitas Indonesia, Bachtiar Aly menilai bahwa masyarakat sekarang ini penuh dilematis. Hal itu ditunjukkan dari begitu cepatnya masyarakat berubah dan mudahnya tergiring pada isu-isu tertentu yang sedang ramai. 

Mantan Dubes Indonesia untuk Mesir ini menuturkan, medsos menyimpan semua hal seperti rasa ingin populer, kenangan masa lampau, kebaruan informasi, serta yang paling berbahaya adalah konflik. Sayangnya, banyak di antara kita yang justru terjebak dan seolah menikmati tema-tema yang kerap menimbulkan konflik seperti radikalisme atau khilafah.

“Medsos memiliki popularitas, nostalgia, novelty, dan di situ juga ada konflik. Konflik itu sekarang menjadi komoditi dan konflik memang dijaga. Konflik itu menjadi komoditas dan hari ini pun kita terjebak di dalamnya,” kata dia.

Pendiri Alvara Research Center, Hasanuddin Ali menambahkan, agenda mengarusutamakan narasi lain yang lebih produktif di medsos ini sangat penting. Menurutnya, Muslim di masa mendatang akan didominasi kalangan usia produktif. Maka, memunculkan lingkungan medsos yang produktif juga sangat penting karena millenial atau generasi setelahnya terkenal sangat bergantung pada dunia digital.

“Meskipun hidup dalam gaya modern, kalangan millenial dan gen z ini ternyata tetap memandang penting peran agama dalam kehidupan sehari-sehari,” tutur Hasanuddin.

Setidaknya, kata Hasan, sejumlah 90% kalangan millenial dan gen z menganggap agama penting dalam kehidupan sehari-hari. Angka itu sama dengan yang terjadi di Malaysia, Pakistan, dan Mesir. Karena itulah, tokoh-tokoh agama atau lembaga-lembaga agama dituntut berperan lebih untuk menciptakan iklim yang produktif, utamanya di dunia medsos.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi, KH. Masduki Baidlowi menjelaskan bahwa mengisi dunia digital atau medsos dengan konten produktif ini penting sehingga memicu literasi di tengah masyarakat. Meskipun perkembangan medsos sudah sangat cepat di Indonesia dan penggunannya sudah melimpah, namun kualitasnya belum menggembirakan.

“Dalam konteks literasi medsos, negara Indonesia masih sangat rendah, belum banyak orang yang paham secara mendalam medsos dan media digital, sehingga hanya menjadi objek (konsumen) medsos saja,” ujarnya.

“Ada dua kata yang selalu menjadi pembicaraan tentang medsos, pertama adalah post truth dan turunannya adalah firehouse of falsehood, dua persoalan ini menjadi sesuatu yang bisa menjadi penyakit yang berbahaya buat kita,” imbuhnya.