Gus Najih
Gus Najih

Penceramah Radikal Gentayangan, BPET MUI: Itu Fakta, Salah Satunya Dengan Pola Tholabun Nusroh

Jakarta – Paham radikalisme terbukti telah menyusup di lingkungan kampus, institusi pemerintah (TNI, Polri hingga Aparatur Sipil Negara/ASN), rumah ibadah, ormas, bahkan lembaga pendidikan. Fakta ini menjadi pil pahit yang mau tidak mau harus ditelan masyakat Indonesia.

Bahkan Pada Rapim TNI-Polri, Selasa lalu, Presiden Joko Widodo secara gamblang memerintahkan kepada seluruh jajaran TNI-Polri untuk bersama mewaspadai ideologi radikal yang berusaha dibawa ‘oknum’ penceramah ke dalam institusi negara.

Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Dr. M. Najih Arromadloni mengamini perintah tegas yang dilontarkan oleh Presiden Jokowi tersebut. Menurutnya, infiltrasi kelompok radikal memang telah sampai pada lini strategis pemerintahan sehingga harus diwaspadai. Salah satunya melalui penceramah radikal

“Lembaga negara itu memang menjadi salah satu sasaran utama infiltrasi menggunakan pola pergerakan yang dikenal dengan istilah Tholabun-Nusroh,” ujar Dr. M. Najih Arromadloni di Jakarta, Jumat (4/3/2022).

Istilah Tholabun-Nusroh sendiri kerap digunakan oleh kelompok Hizbut Tahrir dengan cara mengelabui pihak-pihak yang dianggap memiliki kekuatan dan dapat memberikan perlindungan. Oleh karenanya institusi TNI-Polri ini dijadikan sasaran oleh kalompok tersebut dalam melanggengkan visinya untuk menyebarkan paham radikal.

“Kelompok mereka ini berusaha mengelabui tentara, polisi, anggota intelijen dan lini-lini strategis pemerintahan yang lain. Nah ini tentu saja yang harus diwasapadai karena kedepannya dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa,” jelas Sekjen Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia ini.

Lebih lanjut, menurutnya kondisi ini juga dipengaruhi oleh semangat beragama dari masyarakat Indonesia yang kian hari kian tinggi. Terbukti dengan banyaknya majelis dan pengajian mulai dari rumah hingga ke lingkungan instansi dan perkantoran.

“Semangat beragama masyarakat Indonesia saat ini harus disambut baik, tetapi ironisnya jangan sampai semangat itu menjadi sia-sia akibat pengetahuan agamanya salah. Alih-alih berbuat kebaikan, yang ada justru seseorang bisa terjerumus dalam keburukan,” katanya.

Baca Juga:  Konsep Agama dan Budaya Dua Hal Tak Bisa Berdiri Sendiri dan Tak Bisa Saling Ditiadakan

Gus Najih ini melanjutkan, semangat beragama yang tinggi ini tentunya harus diimbangi dengan ilmu yang mumpuni juga sebagaimana dalam hadits Nabi mengatakan Allah SWT membenci terhadap kebodohan.

“Artinya apa, orang yang semangat beragama juga harus semangat menambah ilmu, memperdalam ilmu agar supaya dia beragama yang benar,” ujar Pendiri Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation ini.

Ia menegaskan, hal itu harus mendapat perhatian. Apalagi oknum penceramah radikal sudah mulai masuk dan menginfiltrasi aparat dan instansi negara melalui majelis dan pengajian. Karena itu harus dilakukan evaluasi terkait penceramah tersebut.

“Kita mendapati fakta, di TNI yang nasionalismenya dianggap sudah paripurna itu ada 4% yang terpapar, sehingga bagaimana caranya harus dicegah dan dievaluasi,” kata Gus Najih.

Gus Najih juga mengatakan, ada banyak faktor yang membuat instansi negara kerap ‘kecolongan’ yang telah  menjadikan oknum penceramah dengan visi menyebarkan paham radikal sebagai narasumber dalam majelis.

“Ada banyak faktor, salah satunya adalah faktor ketidaktahuan. Mungkin hanya berdasarkan bahwa si penceramah itu populer atau mudah diundang. Kedua, bisa jadi karena memang sudah terpapar,” jelasnya.

Menurut alumni Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus Suriah ini, perlu ditanamkan kesadaran dan pengetahuan kepada khusunya anggota serta keluarga ASN, TNI, dan Polri untuk dapat mengenali para  pemuka agama moderat yang membawa kepada konsep agama sebagai rahmat.

“Sebetulnya tidak sulit, bisa saja dengan mendengarkan atau melihat rekaman ceramahnya di youtube atau media sosial di internet. Parameternya Islam yang ‘rahmatan lil alamin’. Kita punya modal besar, ulama dari ormas moderat yang diundang dan insyaa Allah membawa kebaikan,” ujar Gus Najih.

Apalagi, lanjutnya, manusia dibekali dengan intuisi dan hati nurani untuk  mengenali kebaikan dan penyimpangan. Sehingga jika ajaran agama tidak membawa rahmat dan kebaikan, maka menurutnya bisa jadi hal tersebut hanya sekedar nafsu dan kepentingan politik semata.

Baca Juga:  Jangan Undang Penceramah Radikal, Inilah Kriteria Ulama yang Sesungguhnya

“Ketika itu tidak membawa rahmat dan kebaikan pasti itu bukan Islam. Maka dari itu meskipun diatasnamakan Islam, tapi bisa jadi itu adalah nafsu, bisa jadi adalah kepentingan politik,” tegas Najih.

Karena itulah, sudah selayaknya para pemuka agama kembali mencontoh metode dakwah yang dilakukan oleh Wali Songo dan para ulama Nusantara pendahulu dalam rangka menyebarkan agama ditengah kondisi keragaman bangsa.

“Islam itu masuk ke Indonesia masuk melalui akulturasi budaya, tanpa ada kekerasan, pemaksaan, tanpa ada upaya menjatuhkan atau menghina. Prosesnya pun sangat soft sekali masuk melalui jalur kebudayaan, kekeluargaan dan sebagainya,” jelasnya.

Proses dakwah yang demikian menurutnya, dapat menjadikan agama Islam ini mudah diterima oleh masyarakat Indonesia dan menjadikan kondisi sosial masyarakat saat itu menjadi sangat baik.

“Jadi sekali lagi bahwa dakwah proses ini sangat penting sekali diperhatikan, kedepannya bisa berbahaya kalau sampai para pemegang kepentingan ini terpapar dan terinfiltrasi,” pungkasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

KH Sholahuddin Al Aiyub

Radikalisme dan Liberalisme Distorsi Pemahaman Agama, Islam Wasathiyah Solusinya.

Jakarta – Radikalisme dan liberalism agama telah mendistorsi pemahaman agama. Karena itu, Islam wasathiyah menjadi …

maulid nabi

Khutbah Jumat – Hubbun Nabi

Khutbah I اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ …