sila pertama pancasila
pancasila

Penerapan Sila Pertama Pancasila dalam Beragama dan Berbangsa

Negara Indonesia merupakan negara yang warganya memeluk banyak agama di dalamnya, yang hingga saat ini terdapat 6 (enam) agama yang diakui di Indonesia. Agama-agama tersebut adalah agama Islam, Hindu, Budha, Kristen katolik, Kristen Protestan dan Konghucu. Bahakan saking kreatifnya warga negara indonesia dalam hal kehidupan beragama, ada yang membuat agama sendiri tanpa ada pengakuan atau legalitas dari negara, memunculkan nama agama sendiri sesuai keinginan bahkan membuat cabang agama seperti ahmadiyah, ISIS dan sebagainya. Untung saja nama-nama agama yang bermunculan tersebut tidak diakui oleh negara Indonesia. Karena nama-nama agama yang muncul tersebut tidak muncul dengan cara yang baik, bahkan malah mendatangkan hinaan atau cacian terhadap agama yang sudah ada.

Kebebasan hidup beragama telah diatur dijamin oleh negara Indonesia yang merupakan dasar dari pada negara indonesia itu sendiri yaitunya pancasila. Pancasila ini juga sudah tertuang dala pembukaan undang-undang dasar 1945 pada alinea ke empat. Namun kebebasan yang dimaksud tidak seenaknya sendiri mengarang-ngarang agama sendiri, membuat agama sendiri tanpa adanya legalitas dari negara kita Indonesia. Dan ketika agama tersebut sudah ada legalitas dari negara Indonesia, maka hal ini tentu perlu mendapatkan jaminan negara dalam menjalankannya dan negara tidak boleh sampai berat sebelah dalam memberikan kebebasan menjalanakan agama tersebut.

Terkadang kita melihat pemerintah tidak adil dalam memberikan kebebasan untuk menjalankan agama masing-masing. Yang harus dikerjakan tatapi dilarang pemerintah dan sebaliknya yang dilarang agama malah di perintahkan pemerintah untuk melakukannya. Misalnya saja, umat islam dilarang mengakatan orang non-muslim itu kafir. Akhirnya timbul permasalahan baru, pihak non-muslim mengatakan bahwa orang islam telah menghina agamanya. Padahal sudah jelas-jelas ajaran agama islam menyatakan hal itu yang bersumber dari kitab sucinya sendiri yakni Alquranul kariim. Kemudian kita liat dalam konteknya, bahwa orang islam itu mengatakan bahwa orang non-muslim atau orang murtat itu kafir pun pada sesama agamanya sendiri.

Hal ini dlakukan dalam rangka memberikan arahan, motivasi atau ceramah kepada saudaranya seagama supaya tetap berpegang teguh pada ajaran agamanya dan bahkan hal itu dilakukan agar tidak keluar atau murtad dari agamanya sendiri. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka artikel ini dibuat untuk menjelaskan bagaimana penerapan nilai-nilai Sila Pertama pancasila  dalam kehidupan beragama dan berbangsa?

Penerapan Nilai-Nilai Sila Pertama Pancasila

Pertama, Mentaati Perintah Tuhan, dan Menjauhi Larangan Tuhan

Penerapan nilai ini sudah seharunya menjadi syarat mutlak bagi setiap umat beragama yang meyakini bahwa adanya Tuhan. Bagaimana mungkin seseorang beragama tidak taat kepada perintah Tuhannya, sedangkan dia sudah mempunyai keyakinan denga adanya Tuhan dan dapat dibuktikan dengan agama yang dia peluk, baik itu agama Islam, Hindu, Budha, Kristen katholik, Kristen Protestan maupun Konghuchu. Ditambah lagi dengan aturan dan ajaran agamanya masing-masing yang mengharukan seorang pemeluk agama untuk taat, patuh, menghormati dan memuliyakan Tuhannya.

Bagi seseorang yang beragama Islam, aturan atau perintah untuk menaati Tuhannya tercantum dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 54, Allah berfirman yang artinya: “Katakanlah (Muhammad), Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.” Kemudian ditambah jelaskan dengan ayat lain yang artinya: “Barang siapa yang taat kepada Rasul, maka sungguh dia telah taat kepada Allah (QS. An-Nisa ayat 80).

Kemudian dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 102 Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” Dari ayat tersebut di atas, sangat jelas dan tegas perintah untuk taat kepada Tuhannya. Seperti dalam Al-Quran Surat Ali Imran ayat 102 tersebut di atas, dapat dipahami bahwa terdapat perintah untuk bertaqwa, perlu kita ketahui bahwa arti taqwa itu adalah menjalankan segala perintah Tuhan dan mejalankan segala larangan Tuhan. Sebagaimana dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan arti taqwa, bahwa taqwa itu adalah melakukan segala printah-Nya dan menjauhi segala laranga-Nya.

Kedua, Memastikan Warga Negara Dapat Memeluk Agama dan Menjalankan Ibadah Sesuai Agamanya Masing-Masing

Sebagaimana yang sudah penulis singgung di atas, bahwa memeluk agama dan menjalankan agamanya masing-masing dalam aturan negara, sebenarnya sudah dijamin baik yang terdapat dalam UUD 1945 maupun dalam Pancasila. Hanya saja penerapannya belum sesuai dengan aturan yang sudah ada.

Maka aturan ini perlu dipelajari lagi jika belum paham denga pelaksanaannya, atau sudah paham tetapi melanggar maka ini perlu pengawasan yang ketat dan tepat demi tegaknya hukum tersebut. Ketat dengan artian kejar atau hukum siapa saja yang melanggar dan mengabaikan aturan tersebut. Tepat dalam artian jadikan orang-orang yang mengawasinya adalah orang yang tepat, bertanggung jawab, jujur dan berakhlak yang baik.

Ketiga, Warga Negara Tidak Diperbolehkan Atheis

Point ke tiga ini ada sedikit perbedaan pendapat. Bahwasannya dalam pandangan Rukiyati dan kawan-kawan memaknai sila pertama dalam pancasila, negara tidak memperbolehkan atheis. Sebenarnya beragama atau tidak beragama itu adalah pilihan warga negara itu sendiri. Hal itu sudah menjadi hak asasinya sendiri. Yang jelas negara hanya ingin memastikan dan ingin menjamin kelangsungan dan kebebasanya dalam memeluk agama dan menganut kepercayaan, karena atheis termasuk kepada sebuah kepercayaan yang betul betul diyakininya.

Keempat, Negara Sebagai Fasilitator yang Menjamin Berkembangnya Agama dan Saling Toleransi Antar Umat Beragama

Yang dimaksud dengan negara sebagai fasilitator adalah negara atau pemerintah menjembatani, menghubungkan dan mendukung kegiatan atau perkembangan bagi setiap umat beragama dan antar umat beragama. Dalam hal ini, negara tidak terlalu ikut campur di dalam suatu urusan agama katakanlah urusan internal agama. Tetapi negara hanya sebagai fasilitator untuk mejamin kelangsungan setiap warga negara menjalankan agamanya masing-masing.

Dari pembahasan di atas, penulis memberikan kesimpulan bahwa Negara Indonesia belum bisa menjami secara utuh atau secara menyeluruh kemerdekaan atau kebebasan dalam menjalanan agamanya masing-masing. Masih banyak aturan aturan agama yang terabaikan oleh negara atau pemerintah, ketika melakukan suatu perintah agama, malah dianggap sesat atau tidak nasionalis dalam hidup berbangsa dan bernegara. Dengan demikian, penulis berharap penerapan nilai pancasila yang terkandung dalam pancasila pada sila pertama yakni sila ketuhanan Yang Maha Esa ini betul-betul terlaksana dengan baik sesuai maksud dari pancasila itu sendiri.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarabi

Avatar of Ahmad Syah Alfarabi

Check Also

manfaat membaca al-quran

Potret Sejarah Masuknya Qira’at Hafs di Indonesia

Tulisan ini mengkaji tentang qira’at riwayat hafs. Pada mulanya Nabi saw mengajarkan bacaan al-Qur’an kepada …

self management

4 Solusi untuk Menghilangkan Kesedihan dalam Islam

Sedih merupakan bagian dari fitrah manusia. Tak satu pun manusia bisa lepas dari kesedihan, termasuk …

escortescort