7

Polemik Ucapan Natal, Wamenag: Ada Perbedaan Pandangan Ulama

JAKARTA – Menjelang Perayaan Natal pada tanggal 25 Desember 2021 yang akan dilaksanakan oleh umat Kristiani, perdebatan tentang boleh dan tidaknya mengucapkan tahniah dari umat muslim ke Kristiani selalu berulang setiap tahunya, bahkan tidak jarang menjadi perdebatan kusir yang tiada hentinya.

Terkait dengan ucapan selamat Natal memang terdapat perbedaan pendapat dari para ulama, ada yang memperbolehkan dan yang tidak memperbolehkan, semua mempunyai landasan masing-masing dan dikembalikan kepada masyarakat untuk mengikuti pendapat ulama yang diyakini, selama tidak menjelekkan atau menghujat satu sama lainya.

Wakil Menteri Agama (Wamenag), KH Zainut Tauhid Sa’adi, merespons polemik boleh tidaknya umat Islam memberikan ucapan selamat Natal kepada saudara-saudara yang beragama Kristiani. Menurut Wakil Ketua Dewan Pertimbangan (Wantim) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini, ada perbedaan pandangan para ulama dalam menilai ucapan selamat Natal.

Kiai Zainut menerangkan, sebagian ulama ada yang melarang dan sebagian lagi membolehkan mengucapkan selamat Natal. MUI Pusat sendiri belum pernah mengeluarkan ketetapan fatwa tentang hukumnya memberikan tahniah atau ucapan selamat Natal kepada umat Kristiani yang merayakannya.

Ia menyampaikan, MUI mengembalikan masalah ini kepada umat Islam untuk mengikuti pendapat ulama yang sudah ada sesuai dengan keyakinannya.

“Saya menghormati pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat Natal itu hukumnya haram atau dilarang oleh agama. Hal itu didasarkan pada argumentasi bahwa mengucapkan selamat Natal itu bagian dari keyakinan agamanya,” kata Kiai Zainut seperti dikutip dari laman Republika, Sabtu (18/12).

Wamenag mengaku, juga menghormati pendapat ulama yang menyatakan bahwa mengucapkan selamat Natal itu hukumnya mubah atau boleh dan tidak dilarang oleh agama. Karena didasarkan pada argumentasi bahwa hal itu bukan bagian dari keyakinan agama tetapi sebatas memberikan penghormatan atas dasar hubungan kekerabatan, kekeluargaan, dan relasi antarumat manusia.

“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk arif dan bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat tersebut dan tidak menjadikan polemik yang justru dapat mengganggu kerukunan dan harmoni hubungan interen maupun antarumat beragama,” ujarnya.

Kiai Zainut mengingatkan, sebaiknya umat mengembalikan masalah ini kepada keyakinan masing-masing dengan tidak saling menyalahkan bahkan mengkafirkan.

Ia menambahkan, sebagai sesama anak bangsa marilah terus menjaga dan memelihara kerukunan dan persaudaraan (ukhuwah), baik memelihara persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan atas dasar kemanusiaan (ukhuwah basyariyah) maupun persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathaniyah). Demi terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis, rukun, dan damai.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Wapres HUT ke 45 MUI

Fatwa MUI: Terorisme Bukan Jihad, Terorisme Haram!

Jakarta – Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa aksi terorisme bukan jihad, terorisme …

Cak Islah Bahrawi

Tolak UU Buatan Manusia, Islah Bahrawi: Teroris Hanya Mau Jalankan Hukum Syariah

Jakarta –  Kelompok teroris menganggap Undang-undang harus menggunakan hukum syariah yang dalam pemahamannya sebagai buatan …