Brenton Tarrant
Brenton Tarrant

Protes Kondisi Penjara dan Status, Teroris Penembakkan Massal di Christchurch Tak Hadiri Sidang

Christchruch – Brenton Tarrant, teroris pembantai 51 umat Islam usai salat Jumat di di dua masjid di Christchurch , Selandia Baru, mengajukan gugatan hukum atas kondisi penjaranya dan statusnya sebagai teroris. Tapi ironisnya, Tarrant tidak menghadiri persidangan, Kamis (15/4/2021).

Brenton Tarrant, seorang supremasi kulit putih, meluncurkan gugatan hukum minggu ini. Namun, dia yang akan mewakili dirinya sendiri dalam sidang pengadilan tinggi pada Kamis melalui telekonferensi dari sebuah penjara di Auckland malah tidak hadir.

Hakim Geoffrey Venning menunda persidangan tanpa tanggal yang ditetapkan sampai ada permintaan lebih lanjut dari Tarrant. Informasi awal yang diberikan kepada pejabat pengadilan menunjukkan bahwa Tarrant menginginkan peninjauan atas keputusan yang dibuat oleh Departemen Pemasyarakat.

Media lokal, NZ Herald, melaporkan bahwa Tarrant menggugat kondisi penjaranya dan penunjukannya sebagai entitas teroris. Sebuah “penjara di dalam penjara” khusus menjaga Tarrant dengan biaya yang sangat besar dari rakyat pembayar pajak Selandia Baru.

Fasilitas penjara yang dikenal sebagai Prisoners of Extreme Risk Unit didirikan empat bulan setelah penembakan di masjid dan menahan Tarrant serta dua lainnya.

“Tarrant berada di sayapnya sendiri dan ada 18 penjaga yang ditugaskan untuk mengawasinya,” kata seorang sumber kepada NZ Herald bulan lalu.

Dua lainnya berada di sayap yang sama tetapi mereka semua ditangani secara individual. Otoritas penjara mengatakan pembiayaan unit penjara mencapai NZD2.77 juta sampai 31 Oktober lalu, tidak termasuk gaji enam staf dalam grup manajemennya. Itu sebanding dengan otoritas penjara yang menghabiskan sekitar NZD1,1 miliar pada tahun 2020 untuk menjaga hampir 10.000 tahanan di semua fasilitasnya.

Kehidupan Tarrant di penjara tanpa pembebasan bersyarat adalah pertama kalinya dalam sejarah Selandia Baru. Perdana Menteri Jacinda Ardern pernah menggambarkan kondisi pemenjaraan Tarrant seolah-olah narapidana itu “tidak akan pernah melihat cahaya lagi”.

Baca Juga:  Yunani Akan Larang Penyembelihan Hewan Secara Islam

Tarrant dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat pada Agustus atas pembunuhan di dua masjid di Christchurch pada 15 Maret 2019. Peristiwa itu menjadi penembakan massal terburuk dalam sejarah Selandia Baru.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Upacara peringatan HUT ke RI di Ponpes Ngruki

Ingin Hapus Stigma Radikal, Ponpes Ngruki Gelar Upacara HUT ke-77 RI

Solo – Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo akan menggelar upacara peringatan HUT RI, besok. Hal …

ustaz abu bakar baasyir mengikuti upacara hut ke ri di ponpes ngruki

77 Tahun Indonesia Merdeka Jadi Momentum Ponpes Al-Mukmin Ngruki dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Gelar Upacara Bendera

Solo – Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki untuk pertama kalinya menggelar upacara peringatan HUT ke- 77 …