Pengadilan teroris christchurch1
Pengadilan teroris christchurch1

Terungkap, Teroris Pelaku Penembakkan 2 Masjid di Christchurch Ternyata Ingin Bakar Masjid

Christchurch – Pengadilan terhadap teroris pelaku penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru tahun 2019 lalu, Brenton Tarrant, digelar di Pengadilan Christchurch, Selandia Baru, Senin (24/8/2020). Pada sidang itu terungkap bahwa teroris tersebut tidak hanya ingin melakukan penembakan massal, tetapi juga ingin membakar masjid.

Ini adalah sidang pertama dimana Pengadilan Selandia Baru mendengarkan laporan resmi tentang bagaimana teroris tersebut menyerang dua masjid di Christchurch merencanakan dan melaksanakan aksinya yang menewaskan 51 orang.

Tidak hanya itu, pelaku juga berniat membakar kedua tempat ibadah tersebut dan menyerang masjid ketiga. Perincian serangan itu dibacakan di awal sidang vonis dengan pengamanan ketat.

Pada rangkaian sidang ini, Tarrant akan dipertemukan dengan keluarga korban dan mereka yang selamat (para penyintas), untuk pertama kalinya.

Sebelumnya, seluruh tampilan pengadilan sejak serangan teroris pada 15 Maret 2019 dilakukan melalui tautan video dari penjara. Tarrant merupakan seseorang yang mengaku sebagai supremasi kulit putih yang menyiarkan bagian dari pembantaiannya secara langsung di Facebook.

Pria berusia 29 tahun itu mengaku bersalah pada Maret tahun ini dan didakwa atas 51 dakwaan pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan, dan dakwaan terorisme. Sebelumnya, Tarrant membantah tuduhan terhadapnya dan dijadwalkan akan diadili pada Juli lalu.

Namun, ia kemudian membatalkan pembelaannya untuk menghindari persidangan panjang yang diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan. Itu juga berarti belum ada laporan resmi tentang pembunuhan tersebut.

Pada Senin, seorang jaksa penuntut membacakan versi pihak berwenang dari kejadian tersebut, serta memberi tahu pengadilan tentang perincian di mana Tarrant telah merencanakan serangan, membeli beberapa senjata api, ribuan butir amunisi, dan baju besi balistik, serta rompi bergaya militer. 

Baca Juga:  Pandemi Covid-19, Penting Bagi Umat Islam Untuk Perkuat Spiritualitas dan Keimanan

Tarrant dilaporkan pindah ke Selandia Baru dari Australia pada 2017. Ia kemudian mulai merencanakan serangan, menelaah berbagai masjid di Selandia Baru, mengamati rencana tentang bangunan yang ingin dia serang dan melakukan perjalanan ke Christchurch dari kota selatan Dunedin, tempat dia tinggal. Ia pergi ke Christchurch dua bulan sebelum aksi pembantaian dilakukan.

Saat berada di sana, dia menerbangkan drone di atas masjid Al Noor, melewati pintu masuk, dan keluar gedung. Pada hari penyerangan, sang teroris memiliki kaleng bensin di mobilnya, yang menurut polisi itu akan digunakannya sebagai bahan bakar.

Setelah laporan resmi dari peristiwa tersebut dibacakan pada Senin, puluhan orang akan memberikan kesaksian secara langsung pada sidang yang dijadwalkan akan dilaksanakan dalam empat hari. Para penyintas dan anggota keluarga korban akan membacakan pernyataan atau kesaksian di hadapan pelaku penyerangan tersebut di ruang sidang yang tenang.

Karena aturan jarak sosial akibat pandemi Covid-19, ruang sidang utama relatif kosong. Sementara ada ruang pengadilan tambahan di dalam kompleks pengadilan tersebut, yang disediakan bagi para penyintas dan kerabat korban yang terbunuh.

Tarrant telah dibawa ke sudut khusus di mana dia duduk di belakang penghalang kaca. Dia dijaga oleh empat petugas polisi dan tangannya dibelenggu ke pinggang. Dilansir di The Guardian via laman Republika.co.id, Senin (24/8), Tarrant tampak mengenakan kaus penjara berwarna abu-abu dan celana olahraga. Dia tampak memiliki ekspresi kosong dan sesekali melihat ke sekeliling ruangan.

Akibat perbuatan ini, Tarrant menghadapi hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, hukuman yang pertama kalinya dijatuhkan di Selandia Baru. Setelah memilih mewakili dirinya sendiri, dia akan memiliki kesempatan berbicara di pengadilan selama persidangan. Dia dapat mengajukan pertanyaan kepada hakim dan wartawan, tentang apakah pandangan yang dia promosikan harus ditekan atau disensor.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

dr Fauzia Gustarina Cempaka Timur S IP M Si

Celah Intoleransi Dalam Beragama Diincar Kelompok Radikal Untuk Sebarkan Virus Radikalisme

Jakarta – Kelompok radikal selalu berupaya memanfaatkan berbagai cara untuk menyebarkan virus radikalisme. Salah satunya …

RDP Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dengan Komisi VIII DPR RI

Dai Harus Miliki Strategi Metode Dakwah yang Menitikberatkan Wawasan Keberagamaan dan Kebangsaan

Jakarta – Sertifikasi penceramah atau dai dilakukan demi meningkatkan pemahaman moderasi beragama kepada kalangan dai …