Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna dibanding ciptaan Allah yang lainnya. Dengan kata lain karena kelebihannya, sesungguhnya Allah tidak menyiapkan manusia dengan mental yang lemah dan mudah berputus asa.

Ketika datang musibah yang dianugrahkan Allah kepada hambanya, hendaknya manusia harus terus merasa yakin atau optimistis bahwa akan datang pertolongan Allah kepada kita. Terus bersabar dan berusaha untuk keluar dari musibah tersebut, bukan malah terpuruk dalam menghadapinya.

Dengan kelebihan akalnya, semestinya manusia memiliki cara bertahan hidup atau cara bertahan untuk menghadapi musibah yang di rasakannya. Fitrah manusia itu adalah berusaha. Dengan usaha Allah akan merubah nasib seseorang.

Ada kalanya kita kehilangan orang-orang yang sangat kita sayangi. Entah memang berniat pergi meninggalkan, namun yang perlu kita sadari bahwa, apapun yang hilang dalam hidup kita mungkin adalah sesuatu yang tidak baik untuk hidup kita.

Dalam cobaan ini Allah telah memperlihatkan kepada kita, seberapa besarnya kebersamaan jika terjadi perpisahan. Apabila kita kuat dalam sabar dan ikhlas maka Allah akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik.

Apalagi jika mereka meninggal dunia. Namun yang harus kita ingat adalah, bahwa setiap manusia yang hidup pasti akan kembali kepadaNya. Maka sebuah peristiwa kematian adalah peristiwa keniscayaan, yang kesemuanya pasti terjadi.

Dengan kita meyakini bahwa umur bukan wilayah manusia dan bukan kuasa kita dalam menolaknya, maka rasa sabar dan ikhlas akan bisa kita bina dan kita pupuk dalam diri kita sendiri. Dalam setiap peristiwa ada hikmah. Meyakini bahwa Allah telah menyiapkan hikmah terbaik dalam setiap cobaan yang mampu kita lalui adalah bagian memupuk rasa sabar dan optimis.

Tak bisa dipungkiri, Allah akan menguji manusia di titik terlemah manusia. Namun perlu diingat juga, bahwasanya Allah akan mengkaruniakan pahala tanpa batas kepada mereka yang bersabar. Allah berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Ayat di atas dapat ditafsirkan dengan dua makna. Pertama, orang yang sabar akan mendapatkan balasan pahala atas kesabarannya dan Allah tidak menghisab amalannya. Mereka inilah yang dijanjikan masuk surga tanpa hisab.

Kedua, balasan orang yang melakukan kesabaran itu tidak terbatas, lebih banyak dari apa yang diperhitungkan dan lebih besar daripada apa yang ditakar di mizan pahala. Pendapat kedua inilah yang banyak diungkapkan oleh mayoritas ulama.

Demikian besar rahmat dan ganjaran yang Allah berikan bagi orang yang bersabar. Pahala dan keutamaan yang begitu besar, pahala tanpa batas, kedudukan yang mulia, semestinya menjadikan seseorang berkeinginan kuat dan terpacu untuk mewujudkan hakikat kesabaran itu sendiri, yakni kesabaran yang tiada batas karena Allah.