pernikahan

Rumus Keluarga Surgawi (3) : Jangan Hanya Menuntut, Inilah Kewajiban Istri terhadap Suami

Setelah membahas kewajiban bagi para suami sebagai rumus dalam membangun keluarga surgwai, kini saatnya kita membahas tentang kewajiban istri. Tentu masing-masing mempunyai hak dan kewajiban yang didapatkan dan harus dipenuhi.

Seorang istri memiliki kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan dengan baik. Dengan melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri, berarti juga telah memenuhi hak-hak suaminya. 

Pertama, Kewajiban pertama istri pada suami adalah taat pada suami. 

Rumah tangga bisa diibaratkan sebuah kapal yang sedang mengarungi samudra. Karena itu jika kapal ingin berhasil melayari samudra, maka dibutuhkan kekompakan antara Nahkoda dan awak kapalnya. Dalam rumah tangga, Suami merupakan nahkoda dan istri sebagai awak kapalnya. 

Inilah alasan mengapa istri wajib mengikuti apa kata suami. Dalam ayatnya Allah berfirman, “Kaum laki-laki itu pemimpin wanita. Karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) alas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Maka wanita yang salehah ialah mereka yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada menurut apa yang Allah kehendaki……” (surat an-Nisa ayat 34) 

Kewajiban istri untuk taat kepada suami dalam hal urusan agama dan kesusilaan. Seperti ketika suami menyuruh istri untuk melakukan sholat ataupun ibadah lainnya, menutup aurat dan lain sebagainya istri wajib menaati. 

Meski diwajibkan menaati, sebenarnya juga banyak hal yang bisa di diskusikan bersama. Istri dapat meminta ijin kepada suami atas apa yang ingin ia kerjakan. seperti pendidikan anak, karir ataupun keuangan dalam rumah tangganya. Dan dalam kasus ini suami wajib untuk memberikan arahan kepada istrinya. 

Kedua, Menjaga harta dan rumah 

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa, “Di luar uang untuk kepentingan keluarga, suami juga diwajibkan memberi uang kepada istri sebagai ‘gaji’ karena telah menjaga rumah dan mengasuh anak, dalam kasus istri yang tidak bekerja dan memilih untuk tinggal di rumah”. 

Baca Juga:  Cara Nabi Menyikapi “Penista Masjid”

Kewajiban seorang suami adalah memberikan nafkah yang berupa penghasilannya kepada sang istri, dan disini kewajiban bagi seorang istri adalah menjaganya atau bahkan jika mampu, maka sang istri diperbolehkan untuk mengembangkan harta suami yang telah menjadi haknya. 

Bukan hanya dalam hal menjaga keuangan, istri juga di wajibkan untuk menjaga kehormatan rumahnya dengan tidak memasukkan laki-laki yang bukan muhrimnya kedalam rumahnya ketika suami tidak berada dalam rumah. ajiban menjaga rumah bukan hanya diembankan kepada istri yang tidak bekerja, namun bagi istri yang juga bekerja juga diwajibkan untuk menjaga rumahnya. 

Perintah ini berkait erat dengan nilai etika lain yang diajarkan dalam Islam. Salah satunya adalah seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa izin suaminya. Ibnu Thaimiyah pun berkata dalam kitabnya, “Tidak halal bagi seorang istri keluar dari rumah kecuali dengan izin suaminya. Bila istri keluar rumah suami tanpa izinnya, berarti dia telah berbuat nusyuz (membangkang), bermaksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, serta pantas mendapatkan siksa”.

Ketiga, menjaga kehormatan suami. 

Seorang istri yang menjaga kehormatan suami ialah seorang istri yang tidak menyebarkan aib suaminya. Sama halnya dengan suami yang juga menjaga rahasia istrinya, baik itu secara langsung, maupun tidak langsung. 

Keempat, mencari kerelaan suami dan menghindari murkanya. 

Diketahui dalam Islam, kerelaan suami merupakan tiket seorang istri mendapatkan surga dan kebahagiaan akhiratnya kelak. Karena itu, istri harus berusaha mendapatkan kerelaan suami. Ada berbagai macam cara, di antaranya melakukan tindakan yang menyenangkan suami, membantu suami menyelesaikan pekerjaannya, memenuhi kebutuhan suami, dan sebagainya. Namun dalam mencari kerelaan suami, istri juga harus menimbang bahwa hal yang di lakukannya tidak memicu murka suami. 

Baca Juga:  Sifat yang Menyebabkan Terakhir Masuk Surga

Kelima, memahami urusan bercinta 

Seorang istri tidak di perbolehkan untuk menolak ketika suami mengajaknya untuk bercinta. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Jika seorang pria mengajak istrinya ke ranjang, lantas istri enggan memenuhinya, maka malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bukan hanya menuruti suami saja, namun seorang istri juga diwajibkan untuk memberikan pelayanan yang sangat baik kepada suaminya ketika diranjang. Tidak perlu berfikir malu, namun fokus kepada kenyamanan sang suami. 

Adapun kondisi di mana seorang istri diperbolehkan menolak ajakan suami yakni ketika ia sedang sakit, nifas, dan menstruasi. Namun cara penyampaiannya pun juga musti di perhatikan. Seorang istri harus bisa menolak dengan tutur katanya yang baik

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Inke Indah Fauziah

Avatar