Sejarah NU, Gerakan Anti Aswaja dan Kemaslahatan Bangsa

0
870
Harlah NU

Tanggal  31 Januari adalah hari lahir (harlah) Nahdlatul Ulama, organisasi Islam terbesar di Indonesia, versi kalender Masehi. Sementara versi kalender Hijriyah harlah NU tanggal 16 Rajab. Sejarah terbentuknya Nahdlatul Ulama yang kemudian lebih akrab dengan sapaan NU bermula dari kecemasan para ulama terhadap tekanan kaum puritan yang gencar melakukan gerakan pemurnian ajaran Islam.

Gerakan puritan yang mengatasnamakan kembali pada al Qur’an dan hadist, menolak madzhab dan mengkampanyekan bid’ah membuat para kyai merasa tidak nyaman. Para ulama dari berbagai penjuru tanah air resah oleh fenomena tersebut. Kelompok Islam baru di Indonesia ini muncul sebagai anti Ahlussunnah Waljama’ah (aswaja) yang telah menjadi manhaj Islam di Indonesia sejak awal penyebarannya.

Saat itu, tepatnya pada tahun 1920 M, sebanyak enam puluh empat ulama yang mayoritas pengasuh pesantren yang tersebar di Indonesia berkumpul di rumah KH Muntaha, Desa Jengkebuen, Kabupaten Bangkalan. Selama satu bulan mereka membahas agenda penting tersebut dan menjadikan rumah KH. Muntaha yang sekaligus menantu KH. Muhammad Kholil Bangkalan sebagai tempat menginap.

Secara serius, para ulama membahas cara untuk mengantisipasi dan menahan gerak laju kaum anti Aswaja yang baru seumur jagung memijakkan kakinya di tanah air. Dalam pandangan para ulama, kemunculan kelompok beraliran Wahabi dan saudara sealiran, sangat berbahaya sebab gayanya yang cenderung ekstrim, eksklusif dan tidak kooperatif terhadap tradisi masyarakat Nusantara.

Gerakan puritan ini mendorong pemurnian Islam dari tradisi-tradisi lokal yang dianggap bid’ah. Sementara para kyai pesantren menerima dan mengasimilasikan tradisi-tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam. Sehingga masyarakat Nusantara tidak merasa tercerabut dari akarnya ketika memeluk dan mempraktikkan ajaran Islam.

Menengok Lahirnya NU dari Penuturan Kiayi As’ad

Sebelum NU berdiri, para ulama sebenarnya telah mendirikan beberapa organisasi, yakni organisasi pergerakan Nahdlatul Wathon atau kebangkitan tanah air tahun 1916, Nahdlatul Tujjar tahun 1918 dan kelompok diskusi Taswirul Afkar tahun tahun 1914. Organisasi-organisasi ini kerap membincangkan masalah kebangsaan dan keagamaan, salah satunya ancaman paham Wahabi.

Sebagaimana tutur Kyai As’ad Syamsul Arifin dari Sukorejo, Para ulama waktu itu meminta Kyai Muntaha agar menyampaikan keresahan mereka kepada Kyai Kholil agar meminta saran dan tanggapan beliau yang saat itu menjadi sentral tempat bertanya dan mengadunya para kyai.

Masih menurut Kyai As’ad, sebelum Kyai Muntaha menyampaikan hal itu, Kyai Kholil lebih dulu memanggil  menantunya. Heran bercampur takjub, ternyata Kyai Kholil langsung memberikan jawaban atas pertanyaan yang belum disampaikan. Kyai Kholil memberi jawaban dengan membacakan sepotong ayat yang artinya menegaskan para ulama tidak perlu khawatir atas kehadiran kelompok tersebut. Inilah salah satu karomah Kyai Kholil, mengetahui apa yang akan disampaikan seseorang  meski orang tersebut belum menyampaikan pertanyaannya.

Mendengar apa yang disampaikan oleh Kyai Kholil Bangkalan dari Kyai Muntaha, semua ulama merasa puas dan langsung pamit pulang ke daerah masing-masing. Walaupun solusi kongkrit belum terwujud. Paling tidak hal ini sebagai titik pijak untuk mencari solusi berikutnya.

Tiga tahun setelahnya, antara tahun 1921 M hingga 1923 M, para ulama yang jumlahnya empat puluh enam rutin mengadakan pertemuan di Pulau Jawa untuk mencari solusi atas kemunculan kelompok Islam yang tidak senang pada ajaran aswaja. Di antara para ulama tersebut tercatat nama KH Hasyim Asyari, KH Hasan Genggong, KH Samsul Arifin Sukorejo, KH Dahlan Nganjuk, dan KH Asnawi Kudus.

Akan tetapi, rutinitas pertemuan para kyai belum juga membuahkan hasil. Akhirnya salah seorang dari mereka kembali menghadap Kyai Kholil Bangkalan. Dia kemudian bercerita pernah membaca tulisan Sunan Ampel sewaktu nyantri di Kota Madinah. Isinya menceritakan Sunan Ampel pernah bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad. Dalam mimpi itu Nabi Muhammad berpesan agar ajaran Ahlus sunnah dibawa ke Indonesia karena orang-orang Arab sendiri tidak mampu melaksanakannya.

Perjuangan para ulama akhirnya membuahkan hasil, pada suatu hari, awal tahun 1924 M, Kyai Kholil tiba-tiba memanggil Kiayi As’ad yang saat itu masih menyantri di pesantrennya Kyai Kholil. Beliau meminta As’ad muda untuk mengantarkan sebuah tongkat kepada muridnya, KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang. Untuk kedua kalinya, di tahun yang sama Kyai Kholil memintanya mengantarkan tasbih dengan tujuan yang sama.

Pada saat menerima dua benda dari Kyai Kholil, Kyai Hasyim Asy’ari sangat bahagia. Saat menerima tongkat, beliau berkata bahwa dengan tongkat itu hatinya makin mantap untuk mendirikan organisasi bernama Jam’iyatul Ulama, nama awal NU sebelum berubah menjadi Nahdlatul Ulama. Sedangkan saat menerima tasbih, beliau menyatakan bahwa siapa yang berani melawan ulama akan hancur.

NU dan Sumbangan untuk Bangsa

Setelah NU resmi berdir, ia kemudian tampil sebagai organisasi Islam moderat di Indonesia yang mampu menerima tradisi-tradisi lokal serta beradaptasi terhadap perubahan jaman. Tradisi ini digandrungi masyarakat Nusantara karena merasa nyaman dengan pola beragama model konsep NU. Di NU dikenal luas maqolah “Almuhafadhoh alal qodimis solih wal akhdu bil jadidil aslah” atau “Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik.”

NU dengan Qonun Asasinya, merupakan organisasi yang tak mempertentangkan antara kebangsaan dan keislaman. Maka pada saat Pancasila sebagai dasar Negara digulirkan, NU menerima Pancasila dan tak menuntut syariat Islam diterapkan secara formal. Dan mencatatkan diri sebagai yang pertama menerima asas tunggal Pancasila dari kalangan Islam.

NU sangat menyadari akan keberagaman di Indonesia. Oleh karena itu, organisasi ini sangat terbuka atas perbedaan dan keragaman, karena NU memiliki  prinsip tawasut (moderat), tasamuh (toleran) dan tawazun (proporsional) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik sosial, politik maupun keagamaan.

Prinsip tersebut mendasari dan sekaligus memagari NU sehingga tidak jatuh dalam sikap radikal atau ekstrem (tathorruf). Terbentuknya NU merupakan nikmat besar bagi Indonesia, masyarakat muslim terbentengi dan tidak terpapar gerakan aliran tersebut.

Faktanya memang demikian, sampai saat ini gerakan anti aswaja selalu terpental. NU berhasil mematahkan gerakan tersebut. Gerakan “Anti aswaja” menjadi patah semangat karena berbagai upayanya tidak berhasil. Mulai dari “Gerakan kembali ke al Qur’an dan hadis”, pemalsuan beberapa literatur karya ulama ahlussunnah, takfiri, dan Indonesia sebagai Negara Khilafah semuanya tidak mempan.

Umat Islam tetap pada pola beragama ala Ahlussunnah Waljamaah, Islam Nusantara ala ulama salaf sesuai dengan praktik Rasulullah yang “Rahmatan lil ‘Alamin”, toleran, cinta damai dan mengedepankan akhlakul karimah malah tambah subur dan semakin diminati. ‘Ala kulli hal, siapa yang berani melawan ulama akan hancur.

Selamat Hari Ulang Tahun NU

Sumber: Rekaman ceramah Kyai As’ad Syamsul Arifin dan Kitab Rislah Ahlussunnah Waljama’ah karya Kyai Hasyim Asy’ari.