keragaman
keragaman

Menjadi Muslim yang Ramah dengan Perbedaan

Dunia semakin berubah. Perkembangan zaman menuntut suatu pertemuan dan interaksi yang cepat. Berbeda adalah keniscayaan. Siapapun yang menolak perbedaan akan terkucilkan atau akan memilih mengisolasi dengan sendirinya.

Namun, sikap memilih mengisolasi dari perbedaan bukan sikap islami. Jika kita memperhatikan nash-nash Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad Saw, kita akan menemukan esensi agama dan syariat itu secara jelas bagaimana berhubungan dengan orang lain, baik sesama muslim maupun dengan non-muslim.

Tujuan membangun komunikasi dan interaksi adalah menyebarkan risalah Islam kepada semua yang ada di alam ini. Nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam adalah yang dibutuhkan manusia  secara umum.

Menjadi muslim pada akhirnya harus ramah terhadap perbedaan. Qur’an telah memberikan prinsip bagaimana muslim menjadi ramah di tengah keragaman: 

Pertama : Mengingatkan Manusia tentang Perbedaan

Prinsip ini dapat ditemukan dalam Al Quran surah Al Hujurat Ayat 13 sebagai berikut:

قال تعالي : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ                                

Artinya : Wahai sekalian manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari kaum laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa  agar kalian saling mengenal dan sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah mereka yang paling bertaqwa.

Ibnu Asyura menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat ini adalah sesungguhnya kalian telah mengubah dan menyelewengkan fitrah kalian dan mengubah kondisi, karena itu Tuhan menciptakan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa karena kalian saling mengecam dan saling bermusuhan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan manusia agar kembali saling mengenal antara satu dengan lain dan tidak saling memandang remeh dan menghinda yang lain.

Allah pada akhirnya mengingatkan bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa, bukan yang warnah putih, atau bangsa tertentu atau yang memiliki harta dan jabatan. Pada intinya semua sama dan yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.

Baca Juga:  Mendapatkan Kedamaian Saat Melihat Muslim Beribadah, Putra Putuskan Jadi Mualaf

Kedua: Berbeda Bukan Alasan untuk Bertikai

Mengenal orang yang berbeda agama dan bekerjasama bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Al Quran. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al Mumtahanah : ayat 8 sebagai berikut: 

قال تعالي : لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ                                                                                                                

Artinya : Seungguhnya Allah tidak melarang kalian untuk melindungi mereka yang tidak memusuhi kalian dan tidak mengusir dari negeri kalian untuk berbuat baik kepada mereka dan berlaku adil terhadap mereka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang yang berlaku adil.

Ketiga: Saling Mengenal untuk Bekerjasama

Saling mengenal dan saling bekerjasama juga telah dijelaskan dalam al Quran dalam surah Al Anam Ayat 108 sebagai berikut:

قال تعالي : وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ            

 Artinya: Dan janganlah kalian mencela atau mencaci orang-orang yang menyembah selain Allah karena yang demikian itu akan membuat musuh-musuh kalian yang tidak memiliki pengetahuan mencaci Allah. Demikianlah kami memberikan hiasan bagi setiap kaum atas amal perbuatannya dan kepada tuhanmulah engkau akan kembali dan tuhan pasti akan memberitahukan apa saja yang engkau telah lakukan.

Keempat : Saling Bekerjasama Membangun Kesamaan Tujuan

Sebagai salah satu contoh dari sikap tolong menolong dan solidaritas adalah kesamaan kata bagi orang Islam dengan para Ahlul kitab.  Sebagaimana dalam firman Allah sebagai berikut:

قال تعالي : قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ  فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُون                                    

Artinya : Katakanlah wahai Muhammad kepada Ahlul Kitab marilah kita bersama sama kepada satu kata atau kalimatunsawa  antara kami dan dengan kalian  agar tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan Allah dan tidak mengambil nenek moyang kita sebagai tuhan  selain Allah dan jika kalian berpaling maka katakanlah kepada mereka saya bersaksi bahwa saya adalah orang Islam.

Kata “Sawa” di sini  yaitu keadilan dan tujuan sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Athiya  yaitu, apa yang mempersamakan semua manusia.

Baca Juga:  Sunnah Dituduh Bid’ah (1) : Menabur Bunga Di Makam, Ini Dalilnya !

Kelima : Mengajak Kebaikan dengan Cara Baik

Elemen-elemen lain yang penting dalam kerjasama, tolong menolong dan solidaritas adalah bagaimana menyampaikan pesan dan risalah secara baik sebagaimana firman Allah Swt:

قال تعالي : ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Ibnu Asyura mengatakan bahwa ayat ini telah menghimpun kaidah-kaidah logika yang benar yaitu; argumentasi, pesan dan diskusi yang disebut dalam ilmu Manthiq atau ilmu logika sebagai premis.

Menjadi muslim sejati dalam tuntunan al-Qur’an adalah muslim yang pandai bergaul dalam perbedaan. Jangan jadikan alasan keimanan untuk tidak bisa bergaul dengan yang berbeda. Justru pergaulan dengan perbedaan adalah bukti keteguhan iman seorang muslim.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Hari Kemerdekaan Agustus

Anugerah Allah SWT, Kemerdekaan Wajib Disyukuri dan Diisi dengan Kebaikan serta Kepatuhan kepada-Nya

Jakarta – Kemerdekaan adalah anugerah besar dari Allah SWT yang wajib disyukuri. Kemerdekaan juga harus …

Ngatawi Al Zastrouw

Kunci Utama Orang Terjangkit Radikalisme Karena Pemahaman Agama yang Salah

Jakarta – Kunci utama orang bisa terjangkit virus radikalisme karena pemahaman agama yang salah dan …