tafsir al-quran

7 Kewajiban Muslim kepada Alquran yang Jarang Diketahui

Hampir tidak ada perubahan sejengkal pun pada diri umat Islam berkaitan posisi Alquran, yakni sebagai kitab suci, petunjuk dan pedoman hidup. Namun, jika dikejar lebih jauh lagi, misalnya dengan cara mengajukan beberapa pertanyaan; apa saja kewajiban Muslim kepada Alquran? Beragamam jawaban pun akan muncul.

Mayoritas umat Islam dengan penuh keyakinan dan hati yang mantab mengatakan bahwa kewajiban umat Islam kepada Alquran adalah meyakini kebenarannya dan menjadikannya sebagai petunjuk dalam mengarungi hiruk-pikuk kehidupan dunia supaya mendapat Ridha-Nya.

Jawaban tersebut tidak ada yang salah. Namun, ketika kita telisik lebih dalam lagi, maka akan kita temukan bahwa tidak cukup hanya mengimani kebenaran Alquran. Bahkan, tidak akan bisa menjadi petunjuk bagi seluruh manusia jika hanya diimani dan dibaca setiap hari. Berkaitan dengan ini, KH. Dr. Mohammad Nasih, pengasuh Pondok Pesantren Darul Quran Semarang menjelaskan, ada 7 kewajiban kita sebagai umat Islam kepada Alquran.

Pertama, membacanya.

Secara maknawi, diantara arti kata Alquran adalah ‘bacaan’. Oleh sebab itu, Alqura harus menjadi sebuah bacaan wajib bagi umat Islam. Poin pertama ini mungkin sudah dijalankan hampir seluruh umat Islam di dunia. Namun, membaca Alquran tidak sama dengan membaca buku dan sejenisnya. Artinya, membaca Alquran harus dilakukan dengan benar, sesuai dengan tajwid, tahsin dan ilmu yang berkaitan lainnya.

Kedua, mengetahui makna literal kata-kata dalam Alquran.

Alquran, sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad bin Abdullah Darraz dalam An-Naba’ al-‘Adzim, Alquran digambarkan seperti laksana intan permata di mana setiap ujungnya memancarkan cahaya yang berkilau. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang mengkaji dan meneliti Alquran, semakin banyak pula nilai-nilai atau petunjuk yang akan di dapatkan.

Baca Juga:  Ali bin Abi Thalib: Peletak Dasar Ilmu Pengetahuan Islam

Salah satu cara untuk mewujudkan semua itu adalah mengetahui makna literal kata-kata yang digunakan Alquran. Kenapa umat Islam wajib mengetahui ini? Jawabannya jelas. Bahwa Mustahil apabila hendak menjadikan Alquran sebagai petunjuk dan pedoman kehidupan jika tidak mampu mengetahui dan memahami Alquran. Oleh sebab itu, memahami makna literal kata-kata yang digunakan di dalam Alquran menjadi sangat penting.

Ketiga, menghafalkan Alquran.

Setelah bisa membaca Alquran dengan benar dan mengetahui makna literal kata yang digunakan dalam Alquran, maka tahap selanjutnya adalah menghafal Alquran. Mengetahui kata-kata literal yang digunakan dalam Alquran akan mengantarkan pada kondisi yang optimal, yakni memudahkan menghafal ayat-ayat Alquran.

Sebuah studi menyebutkan bahwa orang yang menghafal Alquran dengan lebih dahulu/disertai dengan penguasaan bahasa Arab yang bagus serta mengerti makna literal kata-kata yang digunakan dalam Alquran, akan memudahkan seseorang menghafal Alquran. Selain itu, hafalannya menjadi melekat, tidak mudah hilang.

Keempat, merenungkan Alquran.

Alquran secara tegas menegaskan bahwa, selain diperintahkan untuk membaca, umat Islam juga diperintahkan untuk melakukan tadabbur (merenungi) terhadap kandungan isinya. Allah Swt berfirman:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan (merenungi) Alquran? Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 82.

Dalam ayat lain, Allah juga berfirman:

Maka apakah mereka tidak memperhatikan (tadabbur) Alquran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad [47]: 24).

Kitab (al-Quran) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya, dan agar orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad [38]: 29.

Mohammad Arkoun, sebagaimana dikutip oleh Quraish Shihab, bahwa Alquran memberikan kemungkinan-kemungkinan arti yang tak terbatas. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan umat manusia untuk senantiasa mendatabburi Alquran agar memperoleh berkah, pelajaran dan solusi-solusi hidup.

Baca Juga:  Pemikiran Keislaman Fazlur Rahman

Kelima, melaksanakannya.

Dengan melakukan perenungan secara intensif, maka pemahaman kepada ajaran-ajaran Alquran akan menjadi lebih baik, dan makin dekat kepada kebenaran yang dimaksudkan oleh Allah dan RasulNya. Dengan begitu, akan bisa menjalan kewajiban penting berikutnya, yaitu melaksanakan perintah, ajaran, kandungan dan nilai-nilai dalam Alquran.

Orang jika sudah membaca, mengetahui makna literal kata-kata dalam Alquran, meghafalkan, dan merenungkan Alquran, hati mereka akan tenang dan akan melaksanaan apa-apa yang diperintahkan Alquran dan menjauhi yang dilarang di dalam Alquran.

Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin telah menjelaskan :

فالقرآن الكريم نزل لأمور ثلاثة: التعبد بتلاوته، وفهم معانيه والعمل به

Al-Qur`an itu diturunkan untuk tiga tujuan : beribadah dengan membacanya, memahami makna dan mengamalkannya

Keenam, mengajarkannya.

Melaksanakan tentu saja sifatnya lebih pribadi. Padahal, Alquran itu harus disampaikan kepada seluruh manusia. Agar ajaran Alquran dan orang yang mau mengerjakan kewajiban-kewajiban terhadap Alquran sebagaimana yang diuraikan di atas, maka langkah selanjutnya adalah mengajarkan Alquran.

Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Dalam kesempatan lain, Nabi juga menegaskan bahwa umat Islam harus menyampaikannya walaupun hanya satu ayat saja.

Ketujuh, memperjuangkannya.

Inilah kewajiban yang paling utama dan mulia, namun seringkali umat Islam melalaikan dan mengabaikannya. Nah, Memperjuangkan al-Qur’an yang dimaksud di sini sudah lebih spesifik, yaitu mentransformasikannya dalam kehidupan bersama.

Hal tersebut berarti meniscayakan gerakan bersama dalam membumikan Alquran. Alquran yang memiliki nilai-nilai yang luar biasa untuk kehidupan manusia, harus diperjuangkan secara bersama supaya tercipta kehidupan yang ideal, dalam ranah pribadi, masyarakat dan negara.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir