malam nisfu sya'ban
malam nisfu syaban

Sya’ban: Bulan yang Dilupakan, Padahal Penentu Kualitas Ramadan

anpa banyak disadari, kita kembali berjumpa dengan bulan Sya’ban—bulan kedelapan dalam kalender Hijriah—yang menandai bahwa Ramadan kian dekat. Sya’ban hadir setelah Rajab dan tepat sebelum Ramadan, seolah menjadi jembatan sunyi menuju bulan paling sakral dalam Islam.

Secara etimologis, kata Sya’ban berasal dari akar kata Arab syi‘āb, yang berarti jalan di atas bukit atau celah-celah pegunungan. Makna ini terasa simbolik: Sya’ban adalah jalan mendaki, fase transisi yang menuntut kesiapan rohani sebelum memasuki puncak spiritual bernama Ramadan.

Sayangnya, posisi Sya’ban yang “terjepit” di antara dua bulan besar membuatnya kerap luput dari perhatian. Rajab dikenal sebagai bulan Isra’ Mi’raj—peristiwa monumental yang melahirkan kewajiban shalat lima waktu. Ramadan, tentu saja, adalah pusat gravitasi ibadah umat Islam: puasa diwajibkan, pahala dilipatgandakan, dan pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya. Di tengah dua magnet besar inilah Sya’ban sering terabaikan.

Padahal, justru di bulan inilah fondasi spiritual Ramadan diletakkan.

Bulan yang Dilupakan, Tapi Dicintai Rasulullah

Rasulullah SAW secara eksplisit menyebut Sya’ban sebagai bulan yang sering dilalaikan manusia. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid, Nabi bersabda: “Bulan Sya’ban adalah bulan yang biasa dilupakan orang karena letaknya antara Rajab dan Ramadan. Pada bulan ini amal-amal diangkat kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin ketika amalku diangkat, aku dalam keadaan berpuasa.”

(HR. an-Nasa’i)

Hadis ini mengandung pesan penting: ketika manusia lalai, Nabi justru meningkatkan ibadah. Sya’ban bukan bulan biasa; ia adalah waktu evaluasi tahunan, saat catatan amal manusia diangkat ke hadapan Allah.

Tidak mengherankan jika Rasulullah memperbanyak puasa sunnah di bulan ini. Puasa Sya’ban bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan latihan spiritual—mempersiapkan jiwa, raga, dan disiplin batin agar tidak “kaget” saat Ramadan tiba.

Puasa Sya’ban dan Makna Kesiapan Spiritual

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menyebut bahwa dalam siklus tahunan, terdapat hari-hari dan bulan-bulan utama (al-ayyām al-fādhilah dan al-asyhur al-fādhilah). Sya’ban termasuk di dalamnya, sejajar dengan Rajab, Dzulhijjah, dan Muharram. Ibadah yang dilakukan pada bulan-bulan ini memiliki bobot spiritual yang lebih tinggi dibanding bulan-bulan biasa.

Puasa Sya’ban, dengan demikian, adalah indikator kesiapan. Semakin seseorang melatih dirinya di bulan ini, semakin matang pula ia menyambut Ramadan. Di sinilah makna simbolik “jalan di atas bukit” menemukan relevansinya: Sya’ban adalah fase pendakian sebelum mencapai puncak.

Namun, kata kunci “kesiapan” inilah yang sering diabaikan. Yang tampak justru kesiapan material: pusat perbelanjaan semakin ramai, tiket mudik cepat habis, kebutuhan pokok menumpuk. Semua itu mungkin sah, tetapi jika berhenti di sana, kita kehilangan esensi Sya’ban sebagai bulan persiapan rohani, bukan sekadar logistik.

Mengembalikan Makna Sya’ban

Sya’ban bukan bulan yang berdiri sendiri. Ia adalah cermin yang menanyakan pada kita: sejauh mana kesiapan kita menyambut Ramadan? Jika Sya’ban kita lalui dengan lalai, Ramadan berisiko berubah menjadi rutinitas tahunan tanpa kedalaman makna.

Karena itu, melupakan Sya’ban sejatinya adalah melupakan proses. Dan melupakan proses sering kali berujung pada ibadah yang dangkal.

Semoga Allah memberi kita umur yang berkah, kesempatan menghidupkan Sya’ban dengan kesadaran, dan kemampuan menyambut Ramadan dengan jiwa yang lebih siap, lebih jujur, dan lebih tunduk.

Wallāhu a‘lam.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

Wahid Foundation rilis laporan Riset Pencapaian RAD PE 2021 2024 NU Online

Riset Wahid Foundation: Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan di Daerah Masih Hadapi Tantangan Serius

Jakarta — Upaya pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan di tingkat daerah masih menghadapi tantangan serius. Wahid …

Pramono Anung buka Rakorwil GP Ansor 2026 copy

Ansor dan Banser Dinilai Konsisten Jaga Kerukunan Antarumat Beragama

Jakarta — Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dinilai konsisten dalam …