WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.47
WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.47

Tafsir Ahkam Al-Baqarah 183-187 (1) : Adakah Puasa Wajib di Luar Ramadhan?

Surah Al-Baqarah 183-187 berbicara tentang disyariatkan puasa Ramadhan bagi umat Islam. Ayat-ayat  inilah yang dijadikan dasar tentang hukum, tata cara hingga rukhshah yang bisa didapatkan ketika puasa.

Pada tulisan ini akan dijelaskan secara bersambung tafsir ayat-ayat tersebut yang memiliki beberapa kandungan hukum terkait puasa dari ayat tersebut.

Definisi Puasa

Puasa merupakan terjemahan kata Shaum atau shiyam. Dalam bahasa Arab berarti menahan atau meninggalkan. Seperti menahan diri untuk tidak berbicara, makan, minum, berjalan dan seterusnya.

Sedangkan secara istilah adalah berniat menahan diri untuk tidak makan, minum dan hubungan badan sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Supaya puasa lebih sempurna dianjurkan untuk tidak berkata-kata kotor, meninggalkan perbuatan buruk dan haram.

Dalam kitab Mughni al Muhtaj, puasa Ramadhan berarti menahan diri dari semua yang membatalkan puasa dengan cara-cara khusus.

Apakah Ada Kewajiban Berpuasa Selain Bulan Ramadhan?

Dalam al Qur’an Allah berfirman, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (QS. al Baqarah: 184). Makna tekstual ayat ini menjelaskan bahwa kewajiban puasa Ramadhan bagi umat Islam hanya tertentu pada hari-hari di bulan Ramadhan. Hal ini sebagaimana riwayat Ibnu Abbas dan diikuti oleh Imam Ibnu Jarir al Thabari.

Namun, menurut Qathadah dan ‘Atha’, di samping puasa Ramadhan umat Islam juga wajib berpuasa tiga hari setiap bulan. Menurut mereka, firman Allah, “dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah”(QS. al Baqarah: 184) menunjukkan kewajiban yang sifatnya pilihan. Artinya, boleh puasa atau tidak. Ini untuk yang tiga hari setiap bulan.

Sedangkan untuk puasa Ramadhan hukum wajib ‘ain (kewajiban tiap pribadi) yang tidak ada tawar menawar. Berdasarkan hal ini, maka menurut mereka puasa tiga hari di setiap bulan juga wajib. Namun jika dirasa berat boleh menggantinya dengan fidyah.

Menurut Jumhur ulama, firman Allah, “Diwajibkan atas kamu berpuasa”(QS. al Baqarah:183) adalah kalimat mujmal (global). Bisa bermakna satu hari, dua hari, dan seterusnya. Kemudian kalimat mujmal itu ditafsil (dirinci) dengan beberapa kalimat penjelas. Di antaranya firman Allah, “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. (QS. al Baqarah: 184).

Sampai di sini kalimat tersebut masih mujmal. Bisa seminggu, dua minggu, dan seterusnya. Baru setelah dijelaskan oleh Allah dengan firmannya, “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan” (QS. al Baqarah: 185) menjadi jelas bahwa perintah berpuasa yang dimaksud adalah kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan. Jadi, tidak ada kewajiban berpuasa pada selain bulan Ramadhan.

Ibnu Jarir al Thabari dalam kitab tafsirnya Jami’ al Bayan menyatakan, pendapat yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maksud firman Allah “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu (QS. al Baqarah: 184) adalah hari-hari di bulan Ramadhan.

Menurutnya, tidak ada satu dalilpun yang berbicara bahwa ada kewajiban puasa selain puasa Ramadhan dan kewajiban tersebut tidak berlaku lagi setelah di nasakh atau dihapus oleh dalil puasa Ramadhan. Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dimaksud “hari-hari tertentu” tidak lain adalah hari-hari di bulan Ramadhan.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

gempa masa nabi

Gempa Masa Nabi dan Umar bin Khattab, Apakah karena Tidak Menerapkan Sistem Khilafah?

“NKRI diadzab dengan bencana (gempa) karena anti khilafah”, “khilafah adalah solusi segala problem umat dan …

istri

Fikih Politik Perempuan (3): Haruskah Istri Menaati Suami dalam Pilihan Politik?

Harus diakui, perempuan masih menjadi kelompok rentan di negeri ini dalam segala bidang, tak terkecuali …