Viral Muadzin di Kuwait yang Mengganti Lafadz Adzan Karena Corona, Ini Dalilnya

0
2495
mengganti lafadz adzan

Viral muadzin di Kuwait mengumandangkan adzan dengan penuh rasa haru. Tidak seperti lafadz adzan biasanya, sang muadzin mengganti lafadz adzan “hayya ‘alasshalah” (marilah salat) dan “hayya ‘alalfalah” (marilah meraih kemenangan) dengan “shollu fi rihaalikum” (salatlah kalian di rumah) dan “wa shollu fi rihaalikum” (dan salatlah kalian di rumah) dengan suara penuh kesedihan.

Sebagaimana diketahui akibat penyebaran virus corona atau covid-19, Kuwait telah menutup sementara masjid-masjid setempat sebagai upaya mencegah penyebarannya. Kementerian Urusan Wakaf dan Urusan Islam Kuwait mengumumkan bahwa salat lima waktu berjamaah yang biasanya diadakan di masjid telah dibatalkan untuk sementara waktu. Kebijakan ini berlaku sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Musibah covid-19 memang telah menjadi wabah menakutkan di berbagai negara. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Keputusan ini diambil setelah melihat fakta jumlah kasus maupun negara yang mulai meningkat tajam.

Beberapa negara telah mengambil kebijakan seperti Italia yang melakukan lockdown. Beberapa negara lain juga mengambil kebijakan untuk mengurangi aktifitas berkumpul. Imbas dari kebijakan ini tentu salah satunya adalah shalat jamaah dan jumat.

Terkait shalat jumat, negara seperti Singapura telah meniadakan sementara. Sementara, Arab Saudi dan Malaysia tetap melaksanakan dengan mempersingkat waktu pelaksanaan shalat jumat. Lalu bagaimana dengan shalat jamaah?

Di Indonesia melalui Presiden telah ada himbauan untuk melakukan aktifitas baik bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Memang tidak ada secara eksplisit untuk meniadakan sementara shalat jamaah sebagaimana di Kuwait.

Dalil Mengganti Lafadz Adzan

Kembali pada lafadz adzan yang diganti sebagaimana di Kuwait saat menghadapi berbagai masalah yang mengancam keselamatan umat. Sebenarnya masalah ini sudah ada pijakan dalilnya. Bahkan tidak hanya wabah seperti virus corona, cuaca ekstrim pun sebenarnya disarankan untuk menambahkan atau mengganti lafadz adzan untuk panggilan shalat.

Ada dua dasar riwayat hadist yang menegaskan fenomena ini. Pertama, hadist dari Ibnu Umar yang pernah melakukan adzan untuk shalat di malam yang dingin dengan angin yang kencang dan hujan. Di akhir akhir adzan, dia menambahkan : Alaa shollu fi rihaalikum, Alaa shollu fir rihaal’ [Shalatlah di rumah kalian, shalatlah di rumah kalian]’.

Beliau mengatakan,”Sesungguhnya Rasulullah biasa menyuruh muadzin, apabila cuaca malam dingin dan berhujan ketika beliau safar untuk mengucapkan, ’Alaa shollu fi rihaalikum’ [Shalatlah di tempat kalian masing-masing]’. (HR. Muslim).

Hadist kedua, dari Ibnu Abbas RA, beliau berpesan kepada mu’adzin pada saat hujan, “Apabila engkau selesai mengucapkan ‘Asyhadu allaa ilaha illallohasyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ‘Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ‘Sholluu fii buyutikum’ [Sholatlah di rumah kalian].

Masyarakat pun mengingkari perkataan Ibnu Abbas tersebut. Lalu Ibnu Abbas mengatakan, “Apakah kalian merasa heran dengan hal ini, padahal hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (Rasulullah saw). (HR. Muslim).

Dari riwayat di atas cukup jelas pijakan dalil untuk menambahkan dan mengganti lafadz adzan karena kondisi yang ekstrim yang dapat menggangu keselamatan jiwa ketika harus keluar rumah. Namun, ada dua hal yang perlu dicatat. Pertama, terkait lafadz adzan. Dari dua riwayat di atas ada beberapa bentuk lafadz adzan sebagai berikut:

 أَلاَ صَلُّوا فِى الرِّحَالِ (’Alaa shollu fir rihaal’ artinya ‘Shalatlah kalian di rumah’),

 أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ (‘Alaa shollu fi rihaalikum’ artinya ‘Shalat kalian di rumah kalian’)

 صَلُّوا فِى بُيُوتِكُمْ (‘Sholluu fii buyutikum’ artinya ‘Sholatlah di rumah kalian’).

Tentu tiga bentuk itu adalah pilihan bukan dibaca semuanya.

Kedua, tentang apakah mengganti atau menambahkan lafadz adzan. Dua hadist di atas berbeda pendapat terkait letaknya. Dalam riwayat riwayat Ibnu Abbas di atas menggantikan lafadz ‘hayya ‘alas shalaah’. Sementara, hadist Ibnu Ibnu Umar menambahkan lafadz di atas setelah bacaan adzan sebagaimana biasanya.

Berdasarkan sandaran hadist tersebut, kedua cara ini dibolehkan. Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan kebolehan dua bentuk cara adzan menambahkan atau mengganti lafadz adzan tersebut dengan pijakan dua hadist di atas. Hanya saja, Imam Nawawi menganjurkan agar dilakukan setelah adzan agar lafadz adzan seperti biasanya tetap ada.

Wallahu a’lam