Rekaman Adzan

Batal Puasa Berjamaah karena Menyangka Telah Masuk Waktu, Ini Dalilnya

Batal puasa berjamaah begitulah kira-kira yang bisa digambarkan terhadap apa yang terjadi di Masjid al Khairiyah, Taman Seri Gombak, Kuala Lumpur. Kejadian tersebut patut menjadi pelajaran bagi semua umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Kesalahan teknis pada setelan jam digital yang lebih cepat tiga menit berakibat batalnya puasa seluruh jamaah yang berbuka puasa bersama saat itu, bahkan umat Islam sekampung yang yang buka puasa dengan patokan adzan di masjid tersebut juga batal.

Di satu sisi sunnah menyegerakan berbuka puasa. Wajar kalau begitu terdengar kumandang adzan, umat Islam segera berbuka. Tetapi menjadi fatal bila ternyata belum masuk waktu Maghrib. Untuk itu, perlu ketelitian menyocokkan jam dengan waktu yang standar supaya tidak terjadi kesalahan serupa.

Supaya lebih mantap tentu tidak ada salahnya membaca kembali hukum fikih terkait kasus seperti yang terjadi di Masjid Al Khairiyah di Kuala Lumpur, apakah memang membatalkan puasa atau tidak? Bukankah kesalahan tersebut tidaklah disengaja?

Kaidah fikih berbunyi, “Al ‘ibratu fi al ‘ibadah bima fi dzanni al mukallaf wama fi nafsi al amri“. Yang menjadi patokan dalam ibadah adalah dugaan orang mukallaf dan kenyataan yang ada. Contoh, andaikan seseorang menyangka telah masuk waktu shalat Dhuhur, kemudian ia shalat Dhuhur, setelah selesai ternyata sewaktu memulai shalat waktu Dhuhur belum masuk, maka shalatnya batal.

Apakah kasus berbuka puasa pada Masjid Al Khairiyah juga masuk dalam kaidah ini?

Supaya lebih jelas, harus mengetahui lebih dulu pendapat para ulama fikih tentang hal ini.

Dalam kitab al Majmu’ Syarh al Muhaddzab Imam Nawawi menjelaskan, jika seseorang makan (berbuka puasa) karena menyangka matahari telah terbenam, tapi ternyata matahari masih terlihat, atau makan (sahur) karena menyangka fajar belum terbit, tapi kenyataannya fajar telah terbit, maka puasanya batal. Imam Syafi’i dan para ulama sepakat tentang hukum ini. Hanya pendapat yang syadz (diragukan) yang menyatakan puasanya tidak batal.

Baca Juga:  Bermesraan dan Menciumi Pasangan di Bulan Suci

Syaikh Zainuddin al Malibari dalam kitabnya Fathu al Mu’in menjelaskan, jika seseorang makan sahur atau berbuka puasa karena menyangka fajar belum terbit atau matahari telah terbenam saat berbuka, tetapi kenyataannya tidak demikian, puasanya batal. Syaikh Zainuddin al Malibari mendasarkan pendapatnya ini pada kaidah, “la ‘ibrata bi al dzanni al bayyini khatauhu“. Dugaan yang jelas salah tidak bisa dijadikan patokan. Tetapi, jika tidak tampak apapun padanya, maka puasanya tetap sah.

Sampai disini telah jelas, apa yang terjadi di Masjid al Khairiyah Kuala Lumpur membatalkan puasa. Jadi, puasanya harus diqadha’ setelah bulan Ramadhan.

Beda dengan kasus ini, kalau seseorang berbuka puasa karena menyangka matahari telah terbenam atau waktu shalat Maghrib telah masuk, setelah itu ia ragu-ragu dan tidak tau apakah dugaannya itu benar atau salah, puasanya tetap sah.

Kesimpulannya, berbuka puasa karena menyangka waktu Maghrib telah tiba, baik berdasarkan dugaannya sendiri atau berdasarkan informasi yang salah maka puasanya batal. Hanya pendapat yang syadz (diragukan kebenarannya) yang mengatakan puasanya tidak batal.

Adapun jika menyangka telah masuk waktu Maghrib (matahari telah terbenam) kemudian berbuka puasa, setelah itu ragu-ragu apakah dugaannya tersebut benar atau salah, dan tidak ada informasi atau tanda-tanda yang bisa meyakinkannya apakah saat itu telah masuk waktu Maghrib atau belum, puasanya tetap sah. 

Bagikan Artikel

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo