Viral Nikah Diantar Istri Pertama, Mari Belajar Alasan Poligami Rasulullah

0
1894
viral poligami

Praktek poligami yang dilakukan Rasulullah adalah bagian dari sunnah dengan tujuan dan hikmah. Jangan sekedar berpoligami, tetapi lupa tujuannya. Jangan pula menjalankan sunnah saja, tetapi melupakan hikmahnya.


Videonya sempat viral. Pimpinan Pesantren Cijeungjing Hafi Muhammad Kafi Firdaus atau disapa Abah Kuka atau Abah Cijeungjing menikah dengan diantar istri pertama. Video ini menurut pengakuannya diunggah oleh kakak iparnya. Namun, ia menyatakan tidak marah dengan viralnya video tersebut, tetapi mengambil hikmah.

Sontak video ini menjadi viral bukan karena sekedar poligami, tetapi adegan menikah lagi diantar oleh istri yang pertama. Memang ada yang salah? Warganet merespon dengan komentar yang beragam. Dari rasa iba terhadap istri pertama hingga komentar nyinyir.

Sebenarnya tidak terlalu penting untuk menghukumi apalagi menghujat kepada mereka yang menjalankan poligami. Entah persoalannya diantar oleh istri atau tidak. Namun, seringkali alasan untuk berpoligami adalah mengikuti sunnah Rasul. Sebagaimana alasan Abah Kuka adalah belajar mencintai Rasul.

Alasan Poligami

Lalu, bagaimana sih sebenarnya alasan Rasul melakukan poligami? Nabi Muhammad merupakan model sempurna bagi manusia dan teladan bagi umat Islam. Nabi Muhammad bermonogami selama 29 tahun pada masa mudanya. Ketika menikah dengan Sayyidah Khadidjah Binti Khuwailid, Nabi Muhammad tidak mendapatkan perintah untuk berpoligami.

Poligami yang dilakukan Rasul ketika berusia 55 tahun. Pada 9 tahun terakhir kehidupannya beliau menikah dengan sebelas perempuan (sebagian sumber menyatakan lima belas). Kecuali Aisyah dan Maria yang masih perawan, semua istri Nabi adalah janda. Zainab Binti Jahsy adalah janda cerai. Adapun istri-istri lainnya adalah janda yang ditinggal mati suami terdahulunya. Kebanyakan karena syahid dalam perang.

Karena perkawinan poligami merupakan bagian integral dari sistem sosial setiap bangsa pada masa penyebaran Islam, maka tindakan Nabi menikah lebih dari satu istri merupakan praktik yang normal pada masanya. Bisa dikatakan, ini adalah jawaban sederhana dari sejumlah perkawinan Nabi yang dilakukan secara bersamaan kala itu.

Baca Juga:  4 Hal yang Perlu Diketahui, sebelum Membela Nasib Muslim Uighur

Namun, untuk lebih rincinya, beberapa alasan berikut semestinya bisa menjadi penjelasan tentang langkah Nabi Muhammad berpoligami.

Menjaga Jumlah Populasi Masyarakat Muslim

Tingginya jumlah janda dan tawanan perempuan karena peperangan merupaka masalah yang besar dan membingungkan bagi banyak pembesar dan agamawan. Jumlah lelaki muslim semakin berkurang karena pertempuran. Jika jumlah ini terus berkurang tanpa penambanhan, Islam akan mati sebelum berkembang.

Nabi, sebagai negarawan sejati menghadapi masalah ini dengan mengambil tindakan sekaligus teladan pribadi yang menjadi daya dorong luar biasa bagi peningkatan jumlah bayi muslim dan anak–anak perempuan yang lalu menjadi pahlawan pahlawan Islam. Melalui kelahiran dan perpindahan agama, jumlah kaum Muslim mulai meningkat dari yang sebelumnya mengalami penurunan signifikan akibat meluasnya pertempuran.

Salah satu istri Nabi yang beliau nikahi karena menjadi janda mujahid perang adalah Zainab Binti Khuzaimah. Beliau menikahi Zainab dengan tujuan menyantuni janda dan anak–anak dari sahabat yang gugur di medan perang sekaligus menjadi teladan untuk menyantuni anak – anak yatim dan orang – orang lemah.

Memberi Perlindungan Fisik dan Moral bagi Perempuan

Dalam keadaan tidak normal paska peperangan, para janda dan tawanan perempuan mendapatkan perlindungan moral dan fisik melalui ikatan perkawinan. Dengan matanya sendiri, Nabi Muhammad menyaksikan, betapa setelah perang, banyak perempuan tua dan muda yang menjadi janda dan tawanan, menempuh cara-cara yang buruk untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Maka, beliau menjodohkan hampir semua janda dan tawanan kepada para sahabat demi memelihara moral dan fisik mereka. Dengan cara ini, masayarakat mendapat perlindungan dari kehancuran. Corak moral Arab Jahiliyyah pun mulai mengalami perubahan.

Melancarkan Dakwah Islam dan Mendamaikan Perselisihan

Untuk memuluskan jalan bagi dakwah Islam, Nabi mengadakan ikatan perkawinan dengan perempuan dari suku-suku yang paling memusuhi Islam. Contohnya adalah perkawinan Nabi dengan Juwairiyah, Safiyah, dan Ummu Habibah.

Baca Juga:  Kenapa Alergi dengan Toleransi

Perkawinan poligami Nabi juga memberikan dampak politis. Berkat ikatan perkawinan ini, 11 suku menjadi akrab dengan Nabi, yaitu : Bani Asad ibn Abdul Uzza, Bani Amir ibn Luayya, Bani Tiam, Bani Adi, Bani Makhzum, Bani Umayyah, Bani Asad ibn Khuzaimah, Bani Musthaliq, Suku Yahudi – Arab, Bani Kalab dan Bani Kindah.

Semua suku ini tersebar secara geografis meliputi jazirah Arab dan memperkokoh kedudukan Nabi melalui hubungan kesukuan. Hal ini membantu memperkecil perlawanan suku–suku, menghentikan ambisi bahkan menekan perseteruan antar keluarga. Perkawianan ini membantu terciptanya keadilan dan kedamaian universal di jazirah Arab kala itu.

Memberi pelajaran kepada Masyarakat

Sebagian perkawinan Nabi ditujukan untuk memberi pelajaran tentang beberapa hal, di antaranya adalah : a. Perkawinan antar kelas dan suku, b. Perkawinan dengan janda yang ditinggal mati, c. Perkawinan dengan janda yang dicerai dan d. Diperbolehkan menikah dengan janda dari anak angkat.

Untuk memberikan pelajaran nyata kepada umat manusia, Nabi menghilangkan semua pembedaan antara suku dan kelas. Safiyah, misalnya adalah seorang wanita Yahudi. Dengan memperistrinya, Nabi memperlihatkan bahwa seorang muslim bisa mngawini perempuan dari bangsa yang berbeda selama dia tidak mempersekutukan Allah. Demikian pula perkawinannya dengan Maria, seorang hamba sahaya Mesir yang beragama Kristen Koptik.

Orang Arab pra Islam juga enggan menikahi perempuan yang dicerai. Untuk mengajari mereka, Nabi mengawini Zainab janda cerai dari Zaid (anak angkat Nabi).

Melestarikan Pewarisan Ilmu

Mutiara-mutiara hikmah dari ucapan, perlakuan dan ketentuan Nabi Muhammad direkam masyarakat umum ketika beliau di hadapan publik. Ketika beliau berada di dalam rumah, yang merekamnya adalah sahabat-sahabat terdekatnya seperti para istri, pelayan, dan hamba sahayanya.  Untuk  tujuan ini, seorang perempuan saja tidak cukup. Selain itu, ada banyak pertanyaan tentang syariat yang dikemukakan hanya oleh istri – istri nabi.

Baca Juga:  Memaknai dan Menangani Penyakit ala Rasulullah

Aisyah, istri Nabi yang berusia paling muda, hidup lama setelah Nabi wafat. Berkat usia mudanya dan kecerdasannya, dia mengingat perkataan Nabi dan perbuatan Nabi lebih banyak dari sahabat sahabat yang lebih tua. Sepanjang hidupnya, Aisyah menyebarkan ajaran-ajaran Nabi selama lebih dari 40 tahun. Aisyah meriwayatkan lebih dari 2000 hadits dan menjadi tempat bertanya para sahabat sepeninggal Nabi. Tanpa perkawinan – perkawinan ini, dunia tentu akan kehilangan banyak dari perkataan dan perbuatan Nabi.

Perintah Ilahi

Nabi menjalankan pernikahan poligami karena perintah Alloh SWT. Nabi tidak bergerak seincipun tanpa bimbinganNya. Alloh SWT memerintahkan Nabi untuk menikah :

Tiada keberatan apapun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Alloh baginya. (Alloh telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi – nabi yang terdahulu.” (QS Al – Ahzab ; 38).

Kemudian pada tahun 7 H, setelah pembebasan Makkah, Nabi dilarang mengambl istri lagi : “Tidak halal bagimu (Muhammad), menikahi perempuan – perempuan lain setelah itu….” (QS Al- Ahzab ; 52). Lalu, untuk menjamin kelestarian ujaran dan perbuatan Nabi, Allah melarang istri-istri Nabi untuk menikah lagi setelah Nabi wafat (QS. Al – Ahzab  : 53). 

Dari alasan di atas, hampir semua alasan poligami Rasulullah adalah dengan alasan yang penuh hikmah. Begitu pula Nabi tidak bertindak di luar koridor perintah Allah. Alasan-alasan itulah sebenarnya yang juga menjadi dasar bagi mereka yang berkomitmen untuk mengikuti sunnah Nabi berupa poligami.

Artinya, banyak yang terkadang lupa satu hal penting bahwa jangan ambil poligaminya saja, tetapi lupa tujuannya. Jangan mengambil sunnahnya saja, tetapi lupa hikmahnya.  

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan