Penyembelihan domba
Penyembelihan domba

Yunani Akan Larang Penyembelihan Hewan Secara Islam

Athena- Dewan Negara yang merupakan pengadilan administratif tertinggi Yunani kabarnya akan melarang penyembelihan hewan dalam kondisi sadar seperti cara penyembelihan yang dilakukan secara Islam. Putusan ini akan memberikan pukulan telak terhadap kebiasaan umat Muslim untuk mendapatkan daging halal.

Selain itu, potensi larangan ini juga akan mempengaruhi metode penyembelihan hewan sesuai dengan hukum tradisional Yahudi,  Shechita. Cara ini dilakukan oleh shochet yang terlatih khusus di rumah potong hewan yang disetujui, tidak memerlukan doa sebelum hewan itu disembelih.

Dengan pengecualian komunitas Muslim dan Yahudi, penyembelihan hewan dalam kondisi sadar sebagian besar telah dihentikan selama abad sebelumnya. Kondisi ini mendapat tekanan dari para pegiat hak-hak binatang dan kelompok-kelompok yang berpikiran sekuler.

Konsumen disebut biasanya mengharapkan daging mereka disembelih dengan gaya Barat yang biasa, di mana rumah potong hewan menggunakan pemingsanan listrik, pemingsanan captive-bolt atau gas karbon dioksida (CO2), untuk membuat hewan tidak sadarkan diri terlebih dahulu. Menurut jajak pendapat yang diterbitkan setahun lalu, 89 persen warga Uni Eropa mengatakan pemingsanan harus dilakukan sebelum disembelih.

Keputusan bersama menteri oleh pemerintah Yunani pada 2017 mengizinkan penyembelihan hewan tanpa pemingsanan. Namun, setelah melakukan banding oleh aktivis kesejahteraan hewan, Dewan Negara memutuskan keputusan itu telah gagal menyeimbangkan kesejahteraan hewan dengan kebebasan beragama, serta merujuk masalah tersebut ke otoritas legislatif yang kompeten.

Beberapa pakar menilai,keputusan Dewan Negara itu sarat dengan politik identitas. Keputusan itu lebih banyak sebagai tipikal isu yang diangkat oleh relativisme dan keragaman budaya, multikulturalisme dan integrasi sosial.

Dosen senior hukum di University of Liverpool, Vassilis Tzevelekos, menjelaskan keseimbangan yudisial yang diperlukan oleh Dewan Negara dalam kasus penyembelihan hewan bukanlah latihan hukum mekanis yang kering.

Baca Juga:  Pandemi Corona, MUI Minta Umat Islam Ganti Tradisi Ramadhan

Dia menggambarkannya sebagai proses intelektual yang melibatkan penilaian nilai yang mencerminkan preferensi moral, filosofis dan politik, mungkin memprioritaskan nilai-nilai tertentu (mungkin dominan) di atas nilai-nilai lain yang saling bertentangan.

“Pada akhirnya, multikulturalisme adalah masalah politik, bukan secara tegas masalah hukum,” katanya.

Dewan Pusat Komunitas Yahudi di Yunani (KIS) dengan cepat bereaksi terhadap keputusan pengadilan ini. Dalam sebuah pernyataan, mereka mengecam keputusan itu sebagai serangan terhadap hak orang-orang Yahudi Yunani, untuk secara bebas menjalankan agama mereka dan menjalankan tradisi kepercayaan Yahudi.

Kekhawatiran yang sama dirasakan komunitas Muslim di negara itu. Presiden Asosiasi Muslim Yunani, Naim Elghandour, mengekspresikan kesedihan atas keputusan itu. Ia mengklaim, keputusan itu didasarkan pada pemeriksaan sepihak.

“Tidak ada dokter hewan ahli halal yang dipanggil untuk mewakili komunitas Muslim dalam masalah ini,” katanya.

Elghandour yakin keputusan pengadilan Yunani bermotif politik. Kebebasan beragama, yang diabadikan dalam Konstitusi Yunani, disebut tidak berlaku untuk agama minoritas. Dia mengatakan komunitas Muslim dan Yahudi berencana mengambil tindakan bersama terhadap keputusan yang menghina praktik keagamaan ini.

Angka tidak resmi menunjukkan sekitar 650.000 Muslim tinggal di Yunani, sebagian besar di ibu kota. Jumlah ini membengkak di tengah migrasi massal ke Eropa dari Timur Tengah dan Afrika Utara pada 2010-an.

Seorang analis memperingatkan, larangan tertentu berisiko menimbulkan efek buruk pada integrasi sosial ekonomi para migran.

Seorang muslim penjual daging di Pasar Varvekeios, pusat kota Athena, Alaa Elkobtan, sangat terpukul dengan keputusan ini. Ia mengatakan, selama ini ia selalu memberikan air minum kepada seekor domba sebelum ia menggorok leher binatang itu dengan pisau.

“Aku memberinya air untuk menenangkannya. Ini penting untuk hewan. Tuhan menciptakan hewan untuk kita. Tetapi hewan juga memiliki jiwa, dan jiwa itu perlu didamaikan ketika mereka pergi agar kebaikan ini kembali kepada kita,” kata tukang daging asal Mesir ini, dikutip di Ekathimerini, Minggu (14/11/2021).

Baca Juga:  Kemenag Dinilai Langgar Kesepakatan Awal Terkait Penggantian Logo Halal

Menurut praktik Islam dan hukum halal, yang prinsip dasarnya ditemukan dalam Alquran, seekor hewan harus sehat sebelum seorang Muslim melakukan penyembelihan, sambil membaca doa yang didedikasikan untuk Allah SWT.

Halal, yang berarti dbolehkan dalam bahasa Arab, berlaku seperti kunci. “Ketika saya mengucapkan ‘bismillah’ (dalam nama Tuhan), hewan itu terlihat santai. Menyebut nama Tuhan sangat mirip dengan obat bius di dokter gigi,” ujarnya.

Selama proses penyembelihan, vena jugularis, arteri karotis dan tenggorokan hewan dipotong dalam satu sapuan pisau tajam. Semua darah harus dikeringkan dari bangkai.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

viral ustaz berdakwah sambil streaming mobile legends

Inovasi Keren, Ustaz Berdakwah Sambil Streaming Mobile Legends

Jakarta – Berdakwah atau mensyiarkan agama dan kebaikan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yang paling …

MBS

Diangkat Jadi Perdana Menteri, MBS Penanggung Jawab Baru 2 Masjid Suci

Riyadh –Raja Salman telah mengangkat Putra Mahkota Muhammed Bin Salman (MBS) sebagai Perdana Menteri Arab …