thumbs b c caad
thumbs b c caad

24 Anggota Ikhwanul Muslimin Di Hukum Mati Pengadilan Mesir

KAIRO – Kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir telah secara resmi dilarang oleh pemerintah, meskipun dilarang namun keberadaanya masih cukup kuat, gerakan mereka melalui akar rumput terus melakukan berbagai upaya untuk bangkit kembali.

Dalam upaya menuju kebangkitanya, seringkali kelompok IM yang sangat militan melakukan serangan bom kepada pihak berwenang yang menyebabkan masyarakat tidak berdosa kerap menjadi korban.

Pengadilan Mesir pada Kamis menjatuhkan hukuman mati kepada 24 anggota Ikhwanul Muslimin dalam dua kasus terpisah yang melibatkan pembunuhan petugas kepolisian.

Surat kabar milik negara al-Ahram mengatakan Pengadilan Kriminal Damanhour memerintahkan hukuman mati untuk 16 terdakwa yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, termasuk Mohamed Sweidan, pemimpin regional organisasi tersebut, atas keterlibatan mereka dalam pengeboman bus polisi di Kota Rashid, Provinsi Beheira, pada 2015. Seperti dilansir dari laman republika.co.id Sabtu (30/7).

Enam dari terdakwa diadili tanpa kehadiran di pengadilan. Menurut al-Ahram, ledakan itu menewaskan tiga petugas polisi dan melukai 39 lainnya.

Pengadilan yang sama juga menjatuhkan hukuman mati kepada delapan anggota Ikhwanul Muslimin yang dituduh membunuh seorang petugas polisi pada Desember 2014 di Kota Ad Dilinjat di Beheira. Kasus ini dibatalkan untuk tiga terdakwa karena mereka telah meninggal dunia.

Surat kabar itu tidak menjelaskan apakah putusan itu sudah final atau dapat diajukan banding. Namun, Organisasi Shehab untuk Hak Asasi Manusia, yang berada di luar Mesir, mengatakan putusan tersebut bersifat final karena dikeluarkan oleh pengadilan darurat.

Tidak ada angka pasti untuk hukuman mati yang dikeluarkan di Mesir tahun ini kecuali 10 hukuman mati yang dijatuhkan pada bulan April dan hukuman mati yang dijatuhkan terhadap 12 pemimpin Ikhwanul Muslimin atas kasus pembubaran Rabaa pada 2013.

Baca Juga:  dr. Tirta Jadi Mualaf, Setelah Dengar Azan 7 Hari Berturut-Turut

Pada Februari 2019, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi membela hukuman mati dalam pertemuan puncak antara negara-negara Arab dan Eropa.

Menyusul penggulingan mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi pada 2013, pihak berwenang Mesir sering menganiaya anggota dan pemimpin Ikhwanul Muslimin serta melarang kelompok tersebut.

*Ahmed Asmar berkontribusi pada berita ini dari Ankara

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

000101500 1632234054 830 556

Isu Perpecahan Mencuat di Tubuh Petinggi Taliban, Berikut Laporan Aljazirah

KABUL – Taliban menguasai Afganistan setelah berhasil memasuki ibu kota dan menduduki istana kepresidenan di …

Serah terima bantuan rumah dari Laznas Baitulmaal Muamalat kepada mantan pengikut aliran Hakekok Balakasuta

Laznas Baitulmaal Muamalat Serahkan Rumah Harapan Untuk Mantan Penganut Hakekok Balaksuta

Pandeglang – Masih ingat dengan penganut aliran kepercayaan Bakekok Balakasuta yang pernah menghebohkan Pandeglang dengan …