Kisah ini bermula dari Mesir. Sebut saja namanya ‘Athiyah Ibn Khalaf. Seorang Jutawan Mesir, Pedagang kurma. Entah sebab alasan apa hingga dia jatuh miskin. Saking melaratnya, tiada harta yang ia miliki. Hanya saja selembar pakaian yang melekat di tubuhnya sekedar untuk menutupi auratnya. Itulah harta satu satunya yang ia miliki.
Ketika hari Asyura (10 Muharram) menjelang, terbersit kehendak untuk melakukan shalat shubuh di Masjid Amr Ibnu Ash. Yang unik di masjid ini, seorang muslimah tidak diperkenankannya masuk masjid kecuali pada hari Asyura, itupun sekedar berdoa belaka.
Di masjid itu, ‘Athiyah Ibn Khalaf berdoa secara massal dengan jama’ah lainnya. Posisinya jauh terpisah dari tempat para muslimah, tiba-tiba seorang muslimah datang menemuinya bersama anak-anak kecil yang ia gendong dalam momongan.
Wanita itu berkata : “Wahai Tuan, Aku minta kepada Anda, Demi Allah, semoga Tuan bisa meringankan masalahku hari ini dan sudi memberi sesuatu untuk memenuhi kebutuhan makan anak-anak ini. Bapak mereka telah tiada. Tak sedikitpun harta tirkah dia tinggalkankan untuk mereka. Aku adalah Seorang Syarifah (sebutan keturunan Rasulullah). Aku tidak tahu kepada siapa aku hendak berkeluh kesah. Aku tidak keluar rumah kecuali hari ini, itupun karena terpaksa. Dan itu bukan kebiasanku.
‘Athiyahpun berkata dalam hatinya : “Aku tidak mempunyai sesuatu. Tidak ada milikku kecuali baju ini. Jika aku lepas, maka auratku akan terbuka. Jika wanita ini aku tolak, alasan apakah yang akan aku kemukakan pada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam
Akhirnya ‘Athiyah berkata kepada wanita tersebut : Ikutlah kerumahku. Aku akan memberimu sesuatu.”
Maka wanita itu pun mengikuti ‘Athiyah sampai di rumahnya. Lalu ‘Athiyah menempatkan wanita itu didepan pintu rumahnya. Athiyahpun masuk kerumah dan mencopot bajunya. Dia mengenakan selembar kain tak layak pakai mirip sarung untuk menutupi auratnya. Diberikanlah baju yang ia copot tadi kepada wanita dari sisi pintunya di balik tirai.
Lalu wanita itu mendoakan ‘Athiyah : “Semoga Allah memberikan Tuan pakaian-pakaian Surga dan Tuan tidak akan membutuhkan kepada orang lain selama hidup Tuan.”
Amin….! Gumam ‘Athiyah merasa senang dengan do’a wanita tersebut. Iapun menutup pintunya, masuk kerumahnya. Ia berdzikir hingga larut malam
Tak kuasa menahan kantuk yang menderanya. ‘Athiyahpun tidur pulas. Dalam tidurnya, ia bermimpi melihat wanita nan rupawan, cantik luar biasa. Belum pernah ia melihat wanita Mesir secantik dirinya. Ternyata wanita cantik itu adalah seorang Bidadari Surga.
Di tangan wanita itu ada buah apel yang aromanya tercium menyesaki antero ruang langit dan bumi. Buah apel tersebut dberikannya kepada ‘Athiyah. ketika buah apel itu dibelah. Ajaib, dari belahan apel itu keluar pakaian agung dan megah yang tidak bisa di beli dengan dunia dan sesisinya. Pakaian itu dikenakan pada ‘Athiyah Ibn Kholaf. Setelah pakaian itu dikenakan, bidadari itu tanpa sungkan sedikitpun duduk di pangkuan Athiyah.
‘Athiyah lantas bertanya : “Siapakah kamu ini?”. “Aku adalah ‘Asyura, istrimu di surga,” jawab bidadari itu. “Dengan amal apakah aku memperoleh kemuliaan seperti ini?” tanya ‘Athiyah. Lalu bidadari itu menjawab : “Dengan seorang janda miskin, dan anak-anak yatim yang kemarin engkau berikan baju satu satunya yang engkau miliki kepada mereka.”
Maka Athiyah terbangun, dan dia sangat senang. Hanya dia dan Allah yang mengetahui betapa bahagianya Athiyah, sementara tempat dimana ia berada semerbak dari bau wangi bidadari tersebut.
Kemudian ia mengambil air wudhu, dan iapun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala
Kemudian Athiyah mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa : “Wahai Tuhanku. Apabila mimpi dalam tidurku itu benar dan bidadari dalam mimpiku itu adalah istriku di surga, maka matikanlah aku saat ini juga untuk bertemu dengan-Mu.”
Belum usai doa dipanjatkan, Allah Ijabah permohonan ‘Athiyah. Mati dalam kedaan beribadah. Ruhnya melesat ke surga Daarussalaam. Kisah ini disadur dari Kitab Irsyad al-Ibad, karya Syaikh Zainuddin Ahmad bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin ‘Ali al-Ma’bari al-Malibari al-Fanani (987H). Hal.150
Hikmahnya, Ibnu Balban mengutip pemaparan Abu Hatim berkata: bahwa betapa dekatnya Posisi Sang Penyantun anak yatim dengan Sang Rasul di Sorga walaupun tidak berada dalam satu kesejajaran posisi namun, berdekatan dengan beliau adalah satu kehormatan. Shahih Ibnu Hibban, 2/412
Nabi bersabda:
عن سهل بن سعد ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
” أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا ، وأشار بالسبابة والوسطى
Dari Sahl Ibn Sa’ad berkata: Rasulullah saw bersabda: Aku dan orang yang menyantuni kebutuhan anak yatim akan berada di Sorga seperti ini. Sembari Rasul menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya. HR: Ibnu Hibban: 461
Sabda Rasul ini sekaligus kepastian bagi Penyantun anak Yatim untuk masuk Surga. Kedekatan adalah konsep filosofis yang berkaitan dengan waktu dan perspektif temporal, baik visual, maupun kognitif (berdasar kepada pengetahuan faktual yg empiris). Artinya, hidup ini akan terinspirasi dengan atau untuk melakukan kebaikan kepada orang lain. Karena dengan begitu, kita akan mendapatkan kedekatan dengan Rasulullah. Seseorang yang dicintai semua orang.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah