algoritma media sosia

Tukang Parfum dan Algoritma Media Sosial

Manusia tidak bisa benar-benar lepas dari orang lain. Apalagi di zaman sekarang ini, walaupun secara jasad kita sedirian di kamar, kita tidak benar-benar sendiri. Kita ditemani oleh bentuk-bentuk kehidupan maya, seperti ponsel, media sosial dan lain sebagainya.

Pergaulan era ini berbeda dengan pergaulan di zaman Rasulullah saw. Pergaulan di zaman Rasulullah saw. mewajibkan temu fisik. Sedangkan kita sekarang bisa bergaul dengan siapa saja dengan orang di mana saja. Tidak mengenal jarak dan waktu, kitab isa bergaul.

Rasulullah saw. yang artinya kurang lebih:

“Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang baik dan orang buruk hanya bagaikan pembawa parfum misik dan tukang tempa besi. Orang yang membawa parfum, bisa jadi ia akan memberikanmu parfum, menjualnya padamu atau setidaknya engkau dapati bau harum dari dirinya. Sedangkan tukang tempa besi, bisa saja ia membakar pakaianmu atau setidaknya engkau mencium bau tidak sedap darinya.”

Sabda Rasulullah saw. tersebut bisa diaplikasikan terhadap kehidupan kita di zaman ini. Lebih-lebih di kehidupan media sosial kita. Platform seperti Instagram, youtube dan lain-lain merupakan aplikasi yang menampilkan konten sesuai algoritma. Jika kita terbiasa mengkonsumsi konten yang tidak baik, maka yang muncuk kebanyakan hal-hal serupa.

Efek sebuah konten bagi kita seperti yang telah disabdakan Rasulullah saw. di atas, kalau baik kita bisa mendapatkan wewangiannya. Kalau buruk kita bisa mendapatkan efek sampingnya. Maka kita perlu memperhatikan aktivitas kita dalam berinternet. Karena semua aktivitas kita terekam dan dijadikan data untuk menampilkan konten-konten sesuai dengan aktivitas kita.

Jika kita menganggap kita sebagai wadah yang akan menerima atau menganggap kita sebagai follower. Maka kita harus mempertimbangkan hadis Rasulullah saw. sebab hadis di atas adalah tentang kita, muslimin, yang sedang menjadi follower. Bukan berbicara tentang muslim dalam kondisi lain. Hadis tersebut bukan hadis tentang larangan bergaul dengan orang tertentu. Tapi konteksnya kita sebagai pengikut apa bukan, bisa terpengaruh apa tidak.

Namun jika kita sebagai penuntun bukan pengikut, seperti influencer di media sosial. Maka kita harus menjadi pembawa parfum. Yang bisa menebarkan wewangian di setiap konten, ucapan, komentar dan statement kita.  Bahkan kita perlu bergaul dengan tukang tempa besi. Biar dia terkena wewangian dari kita.

Bagikan Artikel ini:

About Samachatul Maula

Check Also

nabi sulaiman

Metode Psikologi Nabi Sulaiman dalam Mengorek Informasi

Nabi Sulaiman terkenal sebagai nabi yang kaya raya. Pasukannya terdiri dari bangsa manusia dan bangsa …

umar

Umar Bin Khattab Mengakui Kecerdasan Ali Bin Abi Thalib

Umar bin Khattab r.a. adalah khulafa ar-rasyidin kedua setelah Abu Bakar as-Shiddiq. Umar dikenal sebagai …