true crime community

Tumpulnya Empati, Normalisasi Kekerasan, dan True Crime Community (TCC)

Di era algoritma ini, generasi muda dihadapkan pada masalah yang sangat sangat berbahaya, yaitu tumpulnya empati dan normalisasi kekerasan. Paparan yang intens terhadap konten kekerasan dan kultur media sosial yang toxic menjadi dua hal yang paling bertanggung jawab terhadap masalah besar itu. Belum lagi kultur trash talk yang tampak normal ketika kita bermain game online.

Kita patut gelisah. Ancaman ini tak kasat mata dan laten.  Di awal 2026 ini, muncul komunitas yang menggunakan ruang online untuk mengemas konten kekerasan dalam tampilan seolah-olah hiburan dan pop culture, komunitas bernama True Crime Community (TCC).

Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri baru-baru ini mengungkap setidaknya 70 anak berusia 11 hingga 18 tahun telah terpapar paham kekerasan yang berpotensi mengarah ke terorisme melalui kelompok online ini.

Dalam video yang ditemukan, seorang anak berseragam sekolah terlihat mengarahkan pistol replika pada temannya, sementara video lain memperlihatkan remaja menyusun pipa berisi serbuk hitam layaknya bahan peledak.  Semua itu disampaikan dengan narasi yang santai berbahasa inggris.  Anak-anak yang mengkonsumsinya tidak tahu bahwa pesan itu adalah glorifikasi kekerasan terselubung.

TCC tumbuh secara organik dari minat terhadap kekerasan dan sensasionalisme media. Komunitas ini menyebar di berbagai platform digital, dari video pendek hingga meme dan musik, mengemas ide ekstremisme menjadi sesuatu yang tampak keren, bahkan inspiratif.

Konten semacam ini cepat memengaruhi emosi dan perilaku anak, apalagi anak-anak yang masih mencari jati diri, validasi, dan pengakuan sosial. Bahaya itu tidak berhenti di ruang maya. Dalam beberapa kasus, anak-anak di komunitas ini menunjukkan niat nyata, yaitu merencanakan pengeboman di sekolah, bunuh diri massal, dan penusukan terhadap teman yang dianggap pelaku perundungan.

Densus 88 menemukan bahan kimia, perangkat elektronik, hingga simbol neo-nazi di antara barang milik mereka.  Contoh konkretnya adalah peniruan aksi tokoh white supremacy oleh pelaku bom SMAN 72 Jakarta Utara. Aksi bom sekolah di Jakarta itu kemudian menginspirasi seorang remaja  di Rusia berusia 15 tahun untuk menyerang orang di sana. Di gagang pisaunya, tertulis “Jakarta  Bombing 2025”.

Rangkaian aksi kekerasan ini lahir dari mekansime saling meniru dan saling menginspirasi di komunitas TCC. Realitas ini mencerminkan ancaman baru yang menjangkiti psikologi anak untuk “diajarkan” kekerasan. Dari 70 anak yang menjadi temuan densus 88, mayoritas korban perundungan, berasal dari keluarga tidak harmonis, merasa diabaikan di lingkungan sosial, dan mereka yang memang secara secara individu suka menyendiri.  Di grup daring, mereka menemukan ruang validasi, tempat mereka didengar, tempat mereka berdaya. Bahasa validasi itu adalah kekerasan sebagai bentuk pembebasan dan ekspresi diri.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono menegaskan bahwa kondisi ini merupakan fase awal ekstremisme.Jika tidak segera ditangani, anak-anak ini bisa melangkah ke tahap terorisme.

Pemerintah kini menyiapkan Rencana Aksi Nasional untuk pencegahan ekstremisme berbasis kekerasan, dengan pendekatan psikososial dan nonrepresif. Namun, upaya negara tidak akan cukup tanpa dukungan keluarga.  Anak membutuhkan pemulihan dan pendampingan, bukan hukuman.

Orangtua adalah benteng pertama. Literasi digital dan pengasuhan yang hangat menjadi kunci.  Bagaikan musuh dalam selimut, ancaman kita saat ini justru berada di tangan anak-anak kecil kita. Tampak tidak berbahaya, tetapi lebih mematikan. Jangan sampai tumpulnya empati dan normalisasi kekerasan menjadi identitas dan kenormalan baru bagi generasi penerus bangsa.

Bagikan Artikel ini:

About Dr. Suaib Tahir, Lc, MA

Anggota Mustasyar Diniy Musim Haji Tahun 2025 Staf Ahli Bidang Pencegahan BNPT Republik Indonesia

Check Also

ridha orang tua

Mencintai Orang Tua adalah Benteng Utama Mencegah Ekstremisme Kekerasan

Ekstremisme kekerasan tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari keterasingan, kemarahan yang tak tertangani, …

Moderasi

Tiga Pilar Menjadi Manusia

Jika kita berdiri sejenak dan melihat potret dunia hari ini, kita akan menyadari bahwa kita …