imam madzhab
imam madzhab

Abul Aswad Al-Duali dan Kesombongan Jargon Kembali kepada Qur’an dan Hadist

Nabi bersabda, “Telah aku tinggalkan kepada kalian dua pusaka. Jika kalian berpegang teguh padanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”. (HR. Hakim)

Bagi umat Islam dua pusaka tersebut adalah senjata ampuh untuk melindungi diri dalam perjalanan dunia akhirat. Praktek kehidupan yang didasarkan terhadap keduanya menjadi cikal bakal keselamatannya kelak. Sebaliknya, bila dua pusaka itu tidak dipakai, yakin kehidupannya akan sengsara. Rugi di dunia dan sengsara di kehidupan yang abadi.

Dua pusaka yang kemudian menjadi sumber primer dalam hukum Islam memang tidak boleh dikesampingkan. Wajib sebagai dasar utama dalam memutuskan setiap persoalan, terutama dalam hukum fikih.

Tapi kenapa penulis menyebut bahwa seruan kembali kepada dua pusaka tersebut sebagai kesombongan? Jangan mengambil kesimpulan yang bukan-bukan dulu. Kita simak dulu kisah Abul Aswad al Duali.

Dalam karya Imam Suyuthi alMadzhar fi ‘Ulum al Lughah wa Awa’iha disebutkan, sosok yang merupakan sahabat Sayyidina Ali dari kalangan tabi’in ini lahir pada masa jahiliah. Ia memeluk Islam selagi Rasulullah masih hidup, tetapi tidak pernah bertemu beliau. Abul Aswad dikenal alim ilmu fikih, sastra Arab dan syair.

Ibnu Khalkan dalam kitabnya Wafayatu al A’yan menulis nama lengkap beliau Zhalim bin Amr bin Sufyan bin Jandal al Duali al-Kinani al Bashri. Sedangkan ibunya, sebagaimana disebut dalam Thabaqat Khalifah  bin Khayyath, bernama Tuwailah dari salah satu klan bangsa Arab Abdu Dar.

Lalu apa hubungannya Abul Aswad dengan kesombongan jargon kembali ke al Qur’an dan hadist?

Ceritanya begini. Mungkin ada di antara kita yang pernah baca kitab Inbah al Ruwwati ‘ala Anba al Nuhah yang ditulis al-Qifthi. Di situ diceritakan, Abul Aswad menemui Abdullah bin Abbas, ia berkata, “Aku melihat lisan-lisan orang Arab, gramatika bahasa Arabnya telah rusak, aku ingin merumuskan sesuatu untuk membengkel mulut mereka supaya fasih kembali”. Ibnu Abbas berkata, “Mungkin yang kamu maksud adalah ilmu Nahwu, itu benar sekali. Buatlah rumusan yang merujuk kepada surat Yusuf”.

Baca Juga:  Taat Kepada Pemerintah yang Sah termasuk Mengagungkan Allah

Al-Zarkali dalam kitabnya Al A’lam menyebutkan, menurut pendapat yang populer yang memberi titik pada huruf-huruf hijaiyah dalam al Qur’an adalah Abul Aswad.

Ia kemudian digelari bapak ilmu nahwu karena perhatiannya yang besar terhadap ilmu yang membahas harkat akhir dalam bahasa Arab. Harakat akhir dalam bahasa Arab sangat menentukan artinya. Beda harakat akhir beda pula maknanya. Dan ternyata ia menguasai ilmu nahwu karena belajar kaidah-kaidahnya kepada Sayyidina Ali, sepupu Nabi yang oleh Nabi sendiri digelari pintu ilmu.

Bila demikian, apa mungkin selevel kita saat ini bisa langsung merujuk kepada al Qur’an dan hadist. Jawabannya mungkin kalau hanya membaca karena saat ini baik al Qur’an dan sebagian hadis ada harakatnya, sedangkan artinya bisa melihat terjemahan.

Tetapi bagaimana cara memahami isi dan kandungan al Qur’an dan hadis itu persoalannya. Kenapa? Karena kita hanya bisa memahami kandungan al Qur’an dan hadist dengan perangkat ilmu yang lain. Seperti ilmu tafsir, ilmu hadis, dan sebagainya yang semuanya ditulis oleh para ulama dengan tanpa harakat.

Untuk bisa membaca dan memahami semua itu satu-satunya jalan adalah memahami ilmu nahwu yang peletak pertamanya adalah Abul Aswad al Duali. Maka, seandainya beliau hidup di masa ini, ia akan berkata, “lisan-lisan kalian tidak cukup baik untuk melafalkan bahasa Arab, sama sekali tidak bisa gramatika bahasa Arab, maka gak usah sombong dengan bergaya kembali kepada al Qur’an dan hadis”. Seperti perkataan beliau kepada Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa lisan-lisan orang Arab banyak yang rusak gramatikanya. Ingat, itu dulu. Masanya sangat dekat dengan Nabi. Apalagi kita sekarang dan kita bukan orang Arab.

Maka sebaiknya, cukup bagi kita untuk menerima bahan jadinya dengan mengikuti salah satu empat fikih yang ada. Jangan terus mengukir kesombongan di tengah kebodohan dengan jargon kembali ke Qur’an dan hadist. Namun, tentu saja produk madzhab bukan sumber utama, tetapi ijtihad ulama dengan merujuk sumber utama, Quran dan hadist.

Baca Juga:  Beda Tafsir Khilafah Menurut Ahmadiyah dan Hizbut Tahrir [2]: HT (Masih) Berjuang Menegakkan Khilafah

Ketika perubahan zaman terus berlangsung dan fikih tidak mampu menjawab keadaan, pemikiran ulama madzhab tetap menjadi sandaran dalam hal manhaj atau metode berpikir dalam memproduksi hukum dari al-Quran dan hadist. Bermadzhab secara paradigmatik dan metodik kepada para ulama salaf untuk menjamin cara pemahaman Quran dan hadist kita sejalan dengan praktek tabiin, sehabat dan kepada Rasulullah.

Tidak berpegang pada Quran dan hadist pasti tersesat. Namun, penting diingat mensandarkan diri kepada keduanya dengan tanpa ilmu berpotensi memiliki pemahaman yang sesat. Karena itulah, tradisi belajar perangkat keilmuan dalam memahami Quran dan hadist menjadi penting. Jika belajar Quran dan hadist sebagai sumber utama adalah wajib, maka belajar perangkat memahami quran dan hadist adalah wajib.

Hukum peranta sama statusnya dengan hukum tujuan, jika tujuan tidak mampu tercapai dengan perantara. Dalam kaidah fikih disebutkan : “Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka perantara itu menjadi wajib.” Dalam pengertian ini, hukum mempelajari perangkat keilmuan al-quran dan hadist menjadi wajib bagi mereka yang menekuni untuk kembali kepada Quran dan hadist.

Maka, sejatinya orang berilmu tidak perlu berkoar-koar kembali kepada Quran dan hadist sebelum memahami dan menguasai perangkat keilmuannya. Jika belum menguasai, maka menimbalah ilmu dan produk kepada ulama yang telah memumpuni dalam memahami Quran dan hadist.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

buya syafii

Buya Syafii Maarif; Cendikiawan Muslim dan Ulama yang Toleran

“Islam yang asli alias original adalah Islam yang santun dan lembut, Islam yang ramah, Islam …

murtad

Murtad Kemudian Islam Lagi, Apakah Shalatnya Wajib Qadha’?

Kita mendapat kabar Nania Yusuf alias Nania Idol yang murtad pada tahun 2009 lalu kini …