WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.46 1
WhatsApp Image 2020 04 16 at 11.33.46 1

Ada Tiga Tipe Orang dalam Melewati Ramadan, Cek Kamu Termasuk yang Mana?

Berbagai keutamaan bulan Ramadan menjadikan sebagian besar umat Islam rajin melakukan ibadah secara spiritual maupun sosial. Pada bulan ini pula, segenap umat Islam nyaris menanjak spiritualitasnya. Yang semula ‘malas-malasan’ jamaah shalat di Masjid, pada bulan Ramadan, masjid-masjid justru penuh dengan jamaah.

Namun, seiring berakhirnya bulan Ramadan, semangat berbuat kebaikan seperti beribadah, sedekah dan lainnya menurun. Karena itulah, setidaknya ada tiga tipe orang dalam melawati bulan Ramadhan. Ada yang beruntung dan ada yang ‘buntung’.

Pertama, tipe orang yang tetap taat dalam kebenaran dan kebaikan (istiqamah).

Mari kita sama-sama mengevaluasi diri kita sendiri; apakah kualitas ketaqwaan dan ketaatan serta kebaikan di bulan Ramadhan bisa (masih) kita jaga dengan istiqamah pada bulan-bulan berikutnya? Jika pengaruh perubahan positif itu masih lekat terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari pasca Ramadhan, maka berbahagialah. Sebab, kamu termasuk orang yang beruntung.

Hal ini sesuai dengan firman-Nya: “Dia (Allah) berfirman, “Sungguh, telah diperkenankan permohonan kamu berdua, karena itu istiqamahlah kamu berdua pada jalan yang lurus dan jangan kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” – (Q.S Yunus: 89).

Dalam sebuah hadis juga ditegaskan bahwasannya, amal yang paling dicintai oleh Allah dan Rasulullah adalah yang dilakukan secara kontinyu meskipun sedikit.  Nabi bersabda: “Amalan yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang dikerjakan secara terus-menerus oleh pelakunya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amal yang terus-menerus dikerjakan (kontinyu) walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, yaitu orang yang semangat mengerjakan ibadah pada momen tertentu saja.

Jika kita perhatikan secara seksama, banyak orang yang ‘mendadak’ rajin ibadah ketika momen-momen tertentu seperti ketika bulan Ramadhan. Padahal, tipe orang kedua ini sangat tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:  Kamu Mencintai Rasul, Mana Buktinya? Rasul Lebih Mencintaimu!

Hal itu terjadi pada sahabat Abdullah bin Umar. Secara langsung, Nabi mencela Abdullah bin Umar lantaran ia meninggalkan amalan shalat malam.

Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari).

Islam memberikan petunjuk bagi umatnya bahwa amalan atau ibadah itu harus dijalankan sepanjang waktu, tidak tergantung dengan momentum tertentu. Hanya ajal yang dapat menghentikan ibadah dan beramal shaleh. Hal ini sebagaimana firman-Nya: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yaqin (yakni ajal).” (QS. Al Hijr: 99).

Mayoritas ulama mengartikan kata ‘al-yaqin’ sebagai ajal/kematian karena kematian itu merupakan sesuatu yang yaqin, pasti akan terjadi.

Ketiga, yaitu tipe orang yang menganggap bahwa semua bulan itu biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa.

Tipe ketiga ini berpandangan bahwa, mau bulan Ramadan atau tidak, sama saja. Artinya, tetap tidak berubah; ia tetap tidak meningkatkan kualitas taqwa dan ibadahnya. Tipe yang ketiga ini, merujuk pada sebuah hadis, termasuk orang yang rugi karena puasanya hanya mendapatkan haus dan lapar saja.

Momentum bulan Ramadhan yang di dalamnya terdapat Rahmat dan ampunan serta keutamaan lainnya, tidak dimaksimalkan. Padahal, Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk memaksimalkan amal-amal kebaikan, mempertebal iman, mengoptimalkan kekuatan rohani dan jasmani.

Tipe kedua dan ketiga jelas termasuk orang yang rugi. Sementara, tipe pertama adalah orang yang beruntung. Ramadhan memang telah kita lewati. Namun, bukan berarti menjadikan semangat kita untuk beramal terhenti. Oleh karena itu, mari menghidupi bulan Ramadhan dan bulan-bulan setelahnya dengan berlomba-lomba dalam kebaikan!

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

perusakan masjid ahmadiyah

Perusakan Masjid Ahmadiyah Tak Sesuai dengan Syariat Islam!

Miris memang menyimak berita terkini terkait sejumlah massa yang merusak masjid milik jamaah Ahmadiyah di …

persatuan

Tafsir Kebangsaan [2]: Inilah Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Realitas historis dan sosiologis menunjukkan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai macam golongan (firqah), madzhab, …