Pesulap Merah dan Gus Samsudin
Pesulap Merah dan Gus Samsudin

Ansor Jatim Kecam Pemakaian Nama “Gus” oleh Dukun Samsudin Jadab

Surabaya – Seorang dukun Samsudin Jadab menambahi namanya dengan nama Gus. Sebutan Gus ini biasanya disematkan kepada putra seorang Kiai yang memimpin pondok pesantren. Saat ini, Samsudin Jadab yang memiliki Padepokan Nur Dzat Sejati di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tengah ramai menjadi pembicaraan.

Samsudin terlibat perseteruan dengan YouTuber Pesulap Merah yang menilai praktik perdukunannya bohong dan hanya trik sulap. Masalah ini semakin ramah, ketika warga sekitar padepokan menuntut penutupan tempat praktik perdukunan tersebut.

Terlepas dari perseteruan sengit itu, Samsudin yang mengembel-embeli namanya dengan Gus Samsudin itu dikecam keras oleh Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Jawa Timur(Jatim). Bendahara GP Ansor Jawa Timur Muhammad Fawait mengatakan apa yang dilakukan Samsudin bisa menyesatkan masyarakat. Dan juga cenderung dimanfaatkan untuk mengambil keuntungan pribadi.

“Orang yang melakukan praktik perdukunan menyebut dirinya kiai atau gus. Hal itu untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat. Tapi ujung-ujungnya mencari keuntungan pribadi. Ini tentu merugikan kiai dan gus yang benar-benar asli,” kata Gus Fawait, Selasa (2/8).

Polemik perseteruan antara orang yang mengaku Gus Samsudin dengan Pesulap Merah menjadi perhatian publik beberapa hari ini. Belakangan, padepokan tempat pengobatan milik Samsudin ditutup karena didemo masyarakat. Sebab disinyalir menjadi praktek perdukunan dan penipuan dengan trik sulap.

Menurut Gus Fawait, orang yang mendapat gelar gus harus jelas nasabnya. Tak sembarang orang bisa menyandang sebutan itu. Dia mengatakan gelar gus tak boleh dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

“Ini yang harus diluruskan. Kalau kiai atau ulama itu harus jelas sanad keilmuannya. Sedangkan Gus harus jelas nasabnya. Jadi masyarakat jangan mudah percaya pada orang yang mengaku kiai atau gus. Lihat dulu sanad dan nasabnya,” kata pengasuh Pondok Pesantren Nurul Chotib Al Qodiri IV Jember itu.

Baca Juga:  Gus Baha: Keberagaman Sunatullah, Berbeda Itu Bukan Berarti Musuh

Ia prihatin pada fenomena yang terjadi di masyarakat. Menurutnya saat ini ada orang yang sangat mudah mendapat predikat gus. Padahal orang itu tak pernah mengenyam pendidikan di pesantren, apalagi mengasuh pondok pesantren. Bahkan sebaliknya, justru berpraktek sebagai paranormal atau dukun.

Gus Fawait mengatakan, sebutan kiai, gus, lora atau yek adalah sebuah penghormatan dan sarat maknanya. Karena itu harus disematkan kepada orang yang tepat dan memang jelas nasabnya.

“Jadi tidak boleh sembarangan menyebut seseorang sebagai gus. Cari tahu dulu dia anak kiai siapa, di mana pondok pesantrennya,” pungkasnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

kisah nabi adam

Begini Kisah Wafatnya Nabi Adam dan Permintaan Terakhirnya

Jakarta – Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Nabi Adam …

Paham radikalisme pernah menyaru dengan pariwisata pantai di Garut selatan Salah satunya di Desa Mekarwangi Cibalong Yuk lihat keseharian warga Cibalong Pradita Utamadetikcom

Thogutkan Pancasila, Masuk Surga Cukup Bayar Rp 25 Ribu

Garut – Penyebaran paham radikal sudah seperti virus Covid- 19, menyebar dan menyusup ke berbagai …