kaidah mencegah
kaidah mencegah

Argumen Agama: Mencegah Lebih Baik dari Mengobati

Upaya mematahkan urgensi Vaksin Covid-19 masih berlangsung dengan hebatnya. Vaksin yang diupayakan untuk pencegahan tertular dan penularan Virus Corona ditentang dengan berbagai cara. Ada yang menduga pengadaan Vaksin Sinovac oleh pemerintah sebagai setting kongsi dagang dan bisnis besar. Sebagian lagi berasumsi adanya efek samping dan mudharat. Dan, seabrek dalih untuk mematahkan usaha pemerintah mengurai problem wabah Corona yang tak kunjung usai.

Rekomendasi oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai satu-satunya lembaga yang refresentatif dan berwenang mengeluarkan fatwa halal dituduh telah dibeli oleh negara, sementara negara ada di bawah ketiak cukong dan sekelompok pelaku usaha. Sinyalir dan prasangka buruk seperti ini kemudian menjalar sedemikian cepat dan menajdi wacana serius masyarakat Indonesia. Akibatnya adalah kengerian dan memandang Vaksin Covid-19 sebagai hantu yang menakutkan.

Argumen-argumen keagamaan mentah, hadis Nabi yang berisi anjuran untuk berobat tidak lagi ampuh sebagai dalil dan pendapat para ulama mencegah sama wajibnya dengan mengobatai dimentalkan. Fenomena “kebodohan massal” seperti ini mulai menjangkiti sebagian umat Islam terkait manfaat Vaksin Covid-19.

Sayyid Abdullah bin Alawi al Haddad dalam karyanya Risalatu al Mudzakarah, Hamisy Syarah al Dakwatu al Tammah menyebut fenomena sebagai keterpurukan. Orang bodoh akan terjerumus ke dalam jurang maksiat dan pengabaian taat kepada agama. Tidak tahu mana perintah dan mana larangan. Kebodohan hanya akan hilang dengan sebab cahaya ilmu.

Ilmu hanya bisa diperoleh dengan cara mempelajarinya dari ahlinya. Bila tidak mungkin untuk belajar, cukup mendengar apa yang dikatakan oleh para ulama yang berbicara dengan dalil dan argumen yang sesuai dan sempurna. Dengan demikian, rasanya aneh sekali bila sebagian orang yang terdidik secara agama justru ikut andil dalam usaha menjegal usaha pemerintah dalam pencegahan Covid-19 yang memangsa ribuan korban jiwa.

Baca Juga:  Malapetaka Virus Corona dan Pentingnya Qunut Nazilah, Ini Tata Caranya

Padahal Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Tidak ada musuh yang lebih dzalim dari kebodohan”. Oleh karena itu, sebagai muslim yang baik hendaknya tidak membuat alasan palsu dengan menduga-duga tanpa bukti nyata.

Wajar kalau Syaikh Ali bin Abu Bakar dalam bait syairnya mengatakan kebodohan adalah sekam bagi agama seseorang yang akan membakarnya. Dan, hanya ilmu yang bisa menyiram api kebodohan tersebut dan memadamkannya.

Cukuplah kebodohan itu untuk kita sadari, kita semua mesti berpikir ulang untuk tidak ikut arus penolakan terhadap Vaksin Covid-19 dengan argumen jahiliah. Jangan sampai kebodohan menyelimuti hati dan pikir yang akan berakibat menjerumuskan seseorang pada mudharat.

Bukankah mencegah jauh seribu kali lebih baik dari mengobati? Dan, bukankah agama mengajarkan bahwa sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuan yang hendak dicapai? Bila menghindar dari Covid-19 adalah wajib, maka tentu vaksin sebagai media pencegahannya juga wajib.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …