propaganda radikal di masjid
propaganda radikal di masjid

Mencegah Propaganda Radikal di Masjid Bukan Islamofobia, Tetapi Mencegah Sumber Islamofobia

Kelompok radikal mengatasnamakan agama adalah segelintir orang yang berusaha memanipulasi ajaran agama untuk mempengaruhi masyarakat melalui bahasa agama. Tentu cara kerja dan mekanisme penyebarannya adalah melalui sentral dan pusat aktifitas keagamaan umat. Salah satu titik paling strategis adalah rumah ibadah.

Bukan hal baru untuk mengatakan bahwa di rumah ibadah, katakanlah masjid, menjadi tempat yang rentan penyebaran paham dan doktrin radikal. Isu ini sudah lama terjadi dan memang menjadi incaran kelompok yang sering mengatasnamakan agama untuk mencapai kepentingan politiknya.

Baru-baru ini misalnya, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada konferensi pers (20/6) memberikan kembali warning tentang potensi keterpaparan Apartur Sipil Negara (ASN) terhadap propaganda kelompok radikal. Ia menemukan adanya rumah ibadah di lingkungan pemerintahan yang dijadikan tempat penyebaran propaganda radikal.

Isu ini bukan hal baru. Beberapa riset dan survey telah menegaskan potensi masjid yang ditunggangi oleh kelompok radikal untuk menyebarkan pahamnya. Pernyataan itu bukan Islamofobia, tetapi justru ingin mencegah sumber islamofobia yang sebenarnya. Kita ketahui bersama sesungguhnya sumber Islamofobia khususnya dari masyarakat non muslim adalah timbul dari segelintir oknum umat Islam yang kesana kemari mengatasnamakan Islam dengan tindakan yang tidak islami.

Mereka yang sering teriak islamofobia sejatinya juga sedang menimbun untuk menciptakan ketakutan baru terhadap Islam. Harus diakui dengan jujur bahwa ada segelintir oknum umat Islam yang menunggangi dan membajak masjid untuk menyebarkan propaganda radikal. Inilah sejatinya sumber islamofobia yang sebenarnya yang harus diamputasi.

Sumber Islamobia

Sumber islamofobia adalah kelompok yang membajak Islam dengan menyebarkan narasi kebencian, hasutan, intoleransi, segegrasi dan kekerasan yang seolah mewakili ajaran Islam. Jika konsisten untuk melawan Islamofobia harus melawan dari akar dan sumber masalahnya. Hal yang patut diperhatikan bahwa sumber islamofobia adalah politisasi dan manipulasi Islam untuk  kepentingan kelompok dan misi politik oknum dan golongan tertentu.

Baca Juga:  Khaled Abou El-Fadl dan Pemikirannya tentang Otoritas Fatwa Ulama

Islam yang rahmatan lil alamin direduksi menjadi ideologi politik. Ajaran Islam yang mengajarkan akhlakul karimah direduksi sebagai doktrin-doktrin tentang pembelahan masyarakat dan ujaran kebencian yang terhadap yang berbeda. Sumber islamofobia itu berada di lingkaran mereka yang membawa Islam sebagai topeng pembenaran untuk sikap pandangan yang intoleran dan aksi kekerasan.

Masjid bagi kelompok dan oknum yang radikal ini menjadi tempat strategis karena dianggap sebagai tempat berkumpul dan aktifitas keagamaan Islam. Melalui mimbar dan khutbah keagamaan mereka menyelipkan doktrin yang merusak citra Islam. Melalui pengajian-pengajian tertutup di masjid mereka mendoktrin anak-anak muda untuk melakukan tindakan kekerasan dan membenci yang berbeda. Itulah sumber Islamofobia!

Jika ingin membersihkan islamofobia yang sebenarnya adalah memulai dari akarnya salah satunya dengan membersihkan masjid yang dimuliakan oleh umat Islam dari kelompok para pembajak dan penunggang agama. Mereka harus dibersihkan dari aktifitas di masjid sebagaimana Rasulullah waktu dulu merobohkan masjid dhirar karena menjadi pusat fitnah, provokasi dan pemecahbelah umat Islam.

Apakah Rasulullah berarti Islamofobia karena merobohkan masjid? Justru itulah perintah Allah agar masjid tidak dijadikan sangkar penyebar fitnah dan pemecahbelah umat. Karena itulah, umat Islam harus cerdas menangkap pesan dan himbauan tentang masjid agar tidak mudah terprovokasi dengan isu-isu islamofobia. Karena sesungguhnya sumber islamofobia itu adalah mereka yang merusak citra Islam dengan mengatasnmakan Islam.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

ACT menyalurkan zakat

ACT Bukan Bagian dari Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – Aksi Cepat Tanggap (ACT) ternyata bukan bagian dari organisasi pengelola zakat. Penegasan disampaikkan …

Asrorun Niam

Kasus ACT, MUI: Perlu Kehati-hatian Ganda Kelola Zakat

Jakarta –  Mengelola dana zakat diperlukan kehati-hatian ganda oleh lembaga amil zakat (LAZ). Ini penting …