ashabul qoryah
ashabul qoryah

Ashabul Qoryah dalam Al Qur’an : Kisah Umat Pembangkang

Ada banyak kisah dalam al Qur’an yang diceritakan oleh Allah supaya dijadikan pelajaran oleh manusia. Terutama oleh para pegiat penyampai kebenaran. Kebenaran, sejelas dan seterang apapun pasti akan ada yang menentang, memusuhi bahkan berusaha dihancur-binasakan.

Kisah Ashabul Qoryah bercerita tentang fenomena ini. Cerita suatu kaum pembangkang yang mendustakan para utusan Allah.

Teka-teki Negeri Tempat Tinggal Ashabul Qoryah

Dalam tafsir Jalalain yang ditulis oleh dua ulama kesohor, yakni Jalaluddin al Suyuthi dan Jalaluddin al Mahalli menyebutkan bahwa Ashabul Qoryah adalah penduduk negeri Anthakiyah atau Antokia. Daerah sekitar Laut Tengah tepatnya di sungai Al ‘Ashi dekat Suwaidiyah.

Ibnu Katsir menyebutkan, negeri itu bernama Antaki (Antioch), kota kuno di Syiria, sekarang bernama Anthakiyah, masuk wilayah Turki. Demikian juga menurut al Qurtubi, penduduk negeri (Ashabul Qoryah) yang disebut dalam surat Yasin tersebut adalah penduduk Antaki.

Menurut Syauqi Abu Khalil dalam buku Atlas al Qur’an, Anthakia dibangun oleh Selauqus I tahun 307 (SM) sebagai ibu kota kerajaannya setelah Iskandar al Maqduni (Aelxander Mecodonia). Ibnu Ishaq berdasar informasi yang sampai kepadanya dari Ibnu Abbas, Ka’bul Ahbar dan Wahb Ibnu Munabbih menyatakan bahwa negeri itu adalah Intakiyah, kawasan di bawah kekuasaan seorang raja yang bernama Antikhas. Raja penyembah berhala.

Riwayat yang sama diriwayatkan dari Buraidah Ibnul Khasib, Ikrimah, Qatadah dan al Zuhri yang menyebutkan nama negeri tersebut tak lain adalah Intakiyah dan ketiga utusan yang dimaksud dalam al Qur’an surat Yasin adalah utusan Nabi Isa.

Tetapi pendapat ini mendapat sanggahan dari para ulama salaf yang lain, tempat yang dimaksud bukan Intakiyah dan tiga utusan tersebut bukan utusan Nabi Isa tetapi para Nabi yang diutus langsung oleh Allah. Hal ini berdasar pada makna lahiriyah (QS. Yasin:14) dan tafsiran beberapa ulama.

Pendapat ini dikemukakan oleh beberapa ahli sejarah. Salah satunya adalah Sa’id Ibnu Butriq. Karena Intakiyah seperti tersebut di atas adalah negeri kaum Kaum Hawari (penolong Nabi Isa). Oleh karena itu tidak mungkin dibinasakan Allah karena seperti dikatan oleh Abu Sa’id al Khudri dan kebanyakan ulama salaf, setelah turunnya kitab Taurat Allah tidak lagi menghukum penduduk suatu negeri yang inkar kepada utusan-Nya dengan cara dibinasakan.

Dengan demikian, negeri tempat Ashabul Qoryah bukanlah Intakiyah kota yang terkenal itu. Tetapi tempat lain. Andaipun kota itu bernama Intakiyah, maka pasti yang dimaksud adalah Intakiyah yang lai. Namun demikian, apapun nama negeri tempat Ashabul Qoryah yang tidak disebutkan secara jelas dalam al Qur’an itu tidaklah mengurangi pelajaran penting dalam cerita tersebut. Tidak disebutkannya tempat kejadian peristiwa justru menjadi kajian terpenting bahwa peristiwa tersebut bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.

Kisah Pembangkangannya Terhadap Tiga Utusan Allah

Pada saat Allah Mengutus dua orang Nabi kepada penduduk negeri (Ashabul Qoryah), mereka mendustakannya. Kemudian Allah mendatangkan lagi satu usuan-Nya, namun lagi-lagi penduduk negeri tersebut tidak percaya. Bahkan lebih dari itu, seperti diceritakan oleh Qatadah, mereka berkata kepada tiga utusan tersebut, “Jika keburukan menimpa kami, sesungguhnya hal itu karena sebab kalian”.

Menurut Imam Mujahid mereka mengatakan kepada tiga utusan Allah, “Tidak ada seorangpun yang seperti kalian bertiga masuk kesuatu negeri, melainkan penduduk negeri tersebut mengalami musibah”. Lebih sadis lagi mereka mengancam akan merajam (melempari dengan batu) ketiga utusan apabila masih ngotot menyeru mereka.

Pada saat terjadi ketegangan yang luar biasa antara Ashabul Qoryah dan tiga utusan Allah tersebut, dari sudut kota dengan sangat tergesa-gesa seorang laki-laki bergegas menemui Ashabul Qoryah. Kepada mereka ia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah apa yang dikatakan utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada meminta balasan dari kamu sekalian, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS. Yasin: 20-21).

Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ka’bul Ahbar dan Wahb Ibnu Munabbih, penduduk negeri (Ashabul Qoryah) hampir saja membunuh ketiga utusan tersebut, untunglah ada seorang laki-laki yang berlari dari ujung kota dan menolong tiga utusan Allah tersebut dari kebengisan kaumnya. Menurut riwayat berantai dari Al Hakam, dari Miqsam atau dari Mujahid,  dari Ibnu Abbas, laki-laki tersebut bernama Habib. Sedangkan menurut Imam al Tsauri sebagaima riwayat dari ‘Ashim al Ahwal, dari Abu Muljas, lelaki itu bernama Habib Ibnu Murri.

Syabib Ibnu Bisyr berdasar riwayat dari Ikrimah yang mendapat informasi dari Ibnu Abbas, seperti tertulis dalam tafsir Jalalain, lelaki tersebut bernama Habib al Najjar. Menurut Umar Ibnu al Hakam, Habib adalah seorang Uskup. Sedangkan menurut Qatadah ia seorang laki-laki shaleh yang menghabiskan waktunya untuk beribadah kepada Allah di salah satu gua yang ada di pinggiran kota negeri tersebut.

Ashabul Qoryah geram melihat Habib al Najjar yang membela tiga utusan tersebut. Puncaknya, Habib dirajam sampai meninggal dunia. Saat dirajam, dari mulut Habib terucao doa, “Ya Allah, berilah petunjuk pada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. Setelah Habib meninggal sebab lemparan batu, Ashabul Qoryah menginjak-injak perutnya sampai isi perut Habib ke luar dari lubang anusnya. Sungguh kekejaman yang luar biasa. Namun dari pengorbanannya itu ia diberi nikmat surga oleh Allah.

Sementara untuk Ashabul Qoryah sendiri Allah kemudian mengutus malaikat Jibril untuk menghukum mereka. Jibril memegang dua sisi pintu gerbang negeri tempat tinggal Ashabul Qoryah, kemudian ia melakukan satu teriakan mengguntur yang menyebabkan seluruh Ashabul Qoryah mati tanpa sisa.

Inilah hukuman yang harus diterima oleh mereka yang mendustakan utusan Allah dan enggan menerima kebenaran yang telah nyata dihadapan mereka. Binasa dengan membawa segudang penyesalan karena mati dalam keadaan ingkar kepada Allah.

Bagikan Artikel ini:

About Farhan

Check Also

tionghoa dan islamisasi nusantara-by AI

Jejak yang Terlupakan: Etnis Tionghoa dalam Islamisasi Nusantara

Seberapa sering kita mendengar nama-nama besar dalam sejarah Islam di Nusantara? Seberapa banyak kita mengingat …

kubah masjid berlafaskan allah 200826174728 473

Segala Sesuatu Milik Allah : Jangan Campuradukkan Pemikiran Teologis dengan Etika Sosial

Segala sesuatu yang di alam semesta adalah milik Allah. Dialah Pencipta dan Raja segala raja …