Atas Nama Solidaritas

0
1078
solidaritas muslim india

Aksi solidaritas muslim India menggema di berbagai daerah sebagai ekspresi satu tubuh persaudaraan umat.


Penulis masih sangat ingat teriakan dan pekikan semangat Imam Samudera ketika bangga melakukan bom Bali pada tahun 2002 silam. Tidak ada rasa sesal, tetapi baginya kejadian itu belum seberapa jika dibandingkan derita yang dialami oleh masyarakat muslim, khususnya di Palestina.

Pada Agustus 2000, Bom meledak di depan kediaman Duta Besar (Dubes) Filipina. Peristiwa ini juga menelan banyak korban mereka yang tidak berdosa. Dalam persidangan pada tahun 2003 pelaku melakukan itu sebagai bentuk balas dendam dan solidaritas atas penindasan pemerintah Filipina terhadap umat Islam di Moro.

Pada Tahun 2013 di tengah gencarnya penindasan yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap etnis Rohingya, di Indonesia sebuah bom meledak di Wihara Ekayana, Kebon Jeruk Jakarta Barat. Dalam peristiwa teror itu, ada pesan tertulis : “Kami Menjawab Jeritan Rohingya”.

Tidak hanya itu, rentetan bom dan kekerasan teror yang menyasar gereja-gereja di Indonesia banyak diekspresikan sebagai bentuk balas dendam dan solidaritas terhadap korban konflik di Ambon dan Poso. Gereja di manapun kemudian menjadi obyek sasaran balas dendam.

Pertanyaannya harus dengan cara ini cara membantu dan mengekspresikan solidaritas? Apakah balas dendam di dalam negeri terhadap mereka yang tidak bersalah pun harus menjadi medan perjuangan untuk membantu penderitaan di luar negeri?

Kenapa pertanyaan ini penting untuk dikemukan karena dinamika di luar negeri yang menggambarkan penindasan dan konflik antar umat seringkali berimbas situasi di dalam negeri. Kasus-kasus itu tanpa diprediksi dan muncul secara tiba-tiba.

Setelah muslim Uighur kita di dalam negeri dihadirkan dengan konflik berdarah di India yang melibatkan umat Hindu dan Muslim. Konflik itu pun telah mendorong aksi solidaritas muslim India di berbagai daerah.

Aksi solidaritas muslim India bermunculan dengan membawa beragam isu ke ruang publik. Mereka berdatangan untuk membela saudaranya. Namun, ada juga teriakan untuk membalas dendam kekerasan dengan kekerasan yang sama di dalam negeri.

Kita sesaat menjadi umat yang mudah tersulut dengan beragam kejadian. Melakukan solidaritas untuk saudara sesama iman tentu bagian kewajiban karena satu ikatan persaudaraan. Namun, apakah solidaritas berarti mengabsahkan kekerasan serupa dan ancaman kepada mereka yang juga tidak bersalah?

Apakah solidaritas harus pula dilakukan dengan cara bagaimana pelaku teror memaknai perjuangan mereka? Apakah kekerasan di India berarti pengabsahan untuk melakukan kekerasan di dalam negeri? Apakah kekerasan dan konflik di India adalah sebuah sarana absah untuk mengancam keamanan dan melakukan balas dendam sweeping di dalam negeri?

Tentu ini menjadi ujian kematangan umat untuk melakukan solidaritas. Sekali lagi solidaritas sesungguhnya untuk meredam konflik dan kekerasan yang ada, bukan untuk menebar ancaman baru.