siapa ulama
siapa ulama

Banyak Mengaku Ulama, Siapa Sebenarnya Sosok Ideal Ulama ?

Dalam bahasa Arab, ulama berasal dari kata ‘ulama yang berarti orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Bentuk jamak dari ‘alim. Dari pengertian bahasa ini ulama cakupannya luas, yakni semua orang yang memiliki pengetahuan dalam bidang ilmu apa saja.

Namun setelah masuk dalam percakapan ranah agama Islam, ulama kemudian memiliki makna sangat khusus. Hanya orang yang menguasai keilmuan tentang agama Islam secara sempurna yang bisa disebut ulama. Pengertian ini selaras dengan sabda Nabi “Ulama adalah pewaris para nabi”. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Hadist ini semakin mempertegas perbincangan ulama dalam agama Islam. Selain ilmu yang mumpuni, akhlak dan perilaku sehari-hari juga merupakan cerminan akhlak Rasulullah yang menjadi syarat seorang dikatakan ulama.

Kriteria Ulama

Sampai di sini saja sudah bisa dirumuskan siapa yang layak disebut ulama. Pertama, harus memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas. Pengetahuan ini harus teruji di ruang publik. Bukan hanya pengakuan pribadi. Sebab ulama tidak bisa dikaitkan dengan otoritas lembaga tertentu.

Ulama adalah persoalan kualitas dan kapabilitas keilmuan agama, bukan persoalan jabatan dalam organisasi keagamaan. Tidak semua orang yang duduk dan menjabat sebagai pengurus organisasi lantas layak disebut ulama.

Kedua, akhlak dan perilaku sehari-hari adalah praktek Budi perkerti Nabi. Akhlak adalah implementasi sekaligus bentuk pertanggungjawaban ilmu. Artinya, seorang ulama tidak hanya kualitas ilmu tetapi juga perangai dan akhlak yang baik karena ulama adalah pewaris para Nabi.

Ini bisa dibaca dari hadis-hadis dan karya sejarah yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Maka sekalipun menguasai ilmu pengetahuan tentang agama Islam, tapi perilakunya jauh dari akhlak Nabi, jauh dirinya untuk disebut sebagai ulama.

Baca Juga:  Cerita Khusnul Khatimahnya Seorang Ahli Maksiat

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi riwayat al Qudla’i dan Ibnu ‘Asakir yang menegaskan bahwa ulama adalah pemegang amanat Allah atas makhluknya. Dalam riwayat Ibnu Hajar, ulama adalah pemimpin atau panutan umat.

Jenis Ulama

Imam Ghazali dalm Ihya’ Ulumuddin membagi ulama dalam dua kategori. Pertama, ulama su’ (jelek) dan ulama akhirat. Ulama su’ adalah ulama yang hanya menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi yang hanya mencari kekuasaan dan kekayaan. Sedangkan ulama akhirat kebalikannya. Lebih berorientasi pada kepentingan umat dan orang-orang lemah.

Pembagian Al Ghazali ini sejatinya tidak melarang seorang ulama untuk tampil di publik, hanya menekankan bahwa apapun dan di manapun kiprah ulama di ruang publik penekanannya pada kepentingan umat bukan kepentingan pribadi. Bukan berarti ulama lepas dari kebutuhan dan kepentingan dunia, tetapi tidak terbelenggu untuk selalu berorientasi dunia.

Ulama merupakan sosok yang sangat spesial. Tetapi saat ini umat Islam seringkali tertipu dan tidak bisa membedakan mana ulama yang sebenarnya, dan sebaliknya. Kriteria di atas menjadi samar oleh pengaruh teknologi yang menampilkan sosok ustad yang mayoritas keilmuannya di bawah standar.

Bahaya Berfatwa Tanpa Ilmu

Fenomena ini pada ujungnya akan menimbulkan kelangkaan para ulama. Meski secara wujud masih ada orang-orang yang pantas disebut sebagai ulama, namun hilang dalam dunia realitas umat Islam. Apalagi kalau apa yang diperingatkan oleh Nabi benar-benar menjadi kenyataan.

Abdullah bin Umar berkata, “Aku mendengar Nabi bersabda”, “Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu dengan  mencabutnya sekaligus dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama, hingga bila tidak terisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan”. (HR. Bukhari).

Baca Juga:  Munafik Sangat Berbahaya, Menuduh Munafik Lebih Berbahaya

Oleh karena itu, harus ekstra hati-hati ketika menilai ulama. Otoritas lembaga keagamaan tertentu, meski memakai nama ulama sekalipun, tidak memiliki wewenang untuk memberi gelar seseorang sebagai ulama. Karena paling tidak ada dua hal yang harus dimiliki oleh ulama, yakni ilmu pengetahuan agama yang luas serta wara’.

 

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …