shalat saat adzan
adzan

Banyak Menjadi Muallaf karena Adzan, Ini Cerita Lain dari Jalaluddin Rumi

Ada banyak kisah tentang seseorang yang masuk Islam karena mendengar suara adzan. Lantunan adzan yang syahdu dan merdu mampu menggetarkan hati manusia. Bukan persoalan memahami bahasanya, tetapi suara yang indah itu masuk ke relung hati manusia hingga memutuskan menjadi muallaf karena adzan.

Banyak cerita seorang pria paruh baya asal skotlandia yang masuk Islam setelah mendengar adzan saat liburan di Turki. Cerita dating juga dari DJ Butterfly yang tertarik Islam karena mendengar adzan. Ada pula cerita asal Maluku yang mengucapkan syahadat karena mendengar adzan. Bon Kim Kiong warga Kalimantan Barat menjadi muallfa karena tersentuh suara adzan. Begitu pula dengan Paula Camelian Tobing asal Pekanbaru. Dan masih banyak contoh lainnya.

Namun, terkadang suara adzan justru menjadikan seseorang jauh dari hidayah. Inilah yang diceritakan Jalaluddin Rumi, dalam karya monumentalnya Matsnawi. Beliau menulis kisah seorang yang aktif melantunkan adzan, namun sayang, suaranya jelek. Berulang kali ia dinasihati supaya tidak azan lagi, biarlah tugasnya sebagai muazin digantikan oleh orang lain yang suaranya lebih merdu, agar kalimat azan yang indah itu lebih sempurna dilantunkan dengan suara yang merdu, lebih mendayu, sehingga lebih menyentuh pendengarnya sehingga terpanggil untuk shalat berjamaah di awal waktu.

Namun, nasehat itu tidak ia gubris. Tetap semangat dan tidak bersedia menyerahkan tugas Muazin kepada orang lain. Apa boleh buat, jamaah yang lain nurut saja karena nasehat demi nasehat mereka tidak diindahkan.

Di tempat lain, ada seorang gadis berparas cantik jelita, putri pasangan penganut Kristen. Ia menjalin asmara dengan pemuda muslim dan ingin sekali menikah dengan kekasihnya tersebut. Tak hanya itu, ia pun berniat mempelajari agama Islam. Ulahnya membuat orang tuanya kelimpungan, susah karena khawatir putrinya menjadi muslimah.

Baca Juga:  Kearifan Sufi dan Terapi Asmaul Husna

Tetapi, untung tak dapat diraih malang pun tak bisa ditolak. Hidayah yang sudah diambang pintu pergi berlalu. Suatu hari, ketika perempuan berparas cantik tersebut sedang berada di gereja, terdengar suara kumandang azan dari sebuah masjid yang sayup-sayup terdengar sampai ke gereja tempat ia berada. Suara azan itu sangat mengganggunya karena muazinnya memiliki suara jelek. Begitu mengetahui kalau itu adalah suara adzan, ia berbalik benci terhadap agama Islam.

Ayah dan ibunya senang sekali melihat perubahan yang ada pada putrinya tersebut. Kontan saja, ibunya lalu pergi untuk mencari muazin yang suaranya jelek itu dengan maksud memberinya hadiah. Didatangi masjid sumber suara azan tersebut. Ibunya bertanya kepada para jamaah disitu, “siapa muazin yang suaranya jelek”? Tentu saja mereka semua sudah tahu dan menunjukkan kepada ibu tadi.

Penasaran, mereka bertanya kepada ibu tersebut, “gerangan apa sehingga ibu mencari muazin bersuara buruk”? Ibu tadi menjawab bahwa kedatangannya dalam rangka untuk memberi hadiah. Orang-orang heran. Sebelum keheranan mereka terjawab, ibu tersebut menyampaikan bahwa kedatangannya dalam rangka untuk memberi hadiah kepada Muazin bersuara jelek tersebut. Sebab, karena suaranya yang jelek putrinya urung menikah dengan pemuda muslim dan urung pula untuk belajar agama Islam. Kekhawatiran anaknya akan memeluk agama Islam telah sirna, bahkan putrinya sekarang sangat membenci Islam.

Rumi menulis ini boleh jadi berdasar kisah nyata atau bisa juga fiksi. Yang jelas, ia hendak menyampaikan pesan bahwa azan harus dikumandangkan oleh muazin yang memiliki suara bagus. Pesan berikutnya, tidak semua ritual ibadah yang bisa didengar atau dilihat oleh non muslim bisa menarik simpati mereka. Bahkan, bisa sebaliknya. Syiar Islam yang menggangu dan meresahkan penganut agama lain justru semakin membuat mereka menjauh dari ajaran Islam.

Baca Juga:  Jangan Menyesal karena Waktu

Tentu suara adzan yang merdu dan syahdu akan menjadi perantara hidayah. Bukan suara sumbang yang hanya menebar kebisingan seperti dalam kisah Al Rumi. Adzan bukan persoalan panggilan shalat, tetapi syiar yang harus dilakukan dengan baik dan tidak mengganggu masyarakat yang bukan beragama Islam.

Semoga adzan tetap menjadi sarana hidayah dari sekian kelanjutan kisah-kisah para muallaf.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

larangan islam dalam politik

Fikih Politik (8): 3 Larangan Islam dalam Politik

Politik bukan sesuatu yang terlarang dalam agama Islam. Islam bukan hanya agama an sich yang …

keragaman

Dalil Toleransi Beragama dalam Al Qur’an : Kemajemukan adalah Kehendak Ilahi

Hari ini masyarakat terkadang begitu alergi dengan perbedaan. Politisasi identitas semakin menguat dan mudah menggolongkan …