Jalaludin Rumi
Jalaludin Rumi

Turki dan Pesona Spiritual Rumi

Jalaluddin Rumi adalah salah satu tokoh sufi tersohor yang mempunyai daya tarik sekaligus daya pikat tersendiri bagi mereka yang haus dengan spiritualitas. Beragama, tanpa spiritualitas bak bumbu masakan tanpa garam. Sebab, unsur-unsur spiritualitas inilah yang sebenarnya pengikat dalam diri setiap insan dalam menjalankan ajaran-ajaran kehidupan beragamanya.

Hanya saja, pengalaman beragama pada masing-masing orang tentulah berbeda. Ada kalanya, kecenderungan beragama kita lebih dekat pada apa yang dajarkan oleh kaum teolog dan ahli fikih, sehingga dalam praktiknya terlihat hanya mementingkan aspek rasional yang kaku, dan hanya mengerjakan ibadah-ibadah formal saja. Sementara unsur-unsur non-formal atau yang biasa disebut ibadah batiniah, nyaris terlupakan. Padahal, aspek formal dan batiniah sejatinya berjalan seimbang dan tidak berat sebelah.

Pada konteks itulah, aspek batiniah dalam beragama lazimnya dikembangkan oleh kaum sufi, seperti Jaluddin Rumi. Ia tidak hanya dikenal oleh kalangan umat muslim saja, tapi telah mendunia dikenal pula oleh semua kalangan umat beragama. Itu sebabnya, banyak sarjana-sarjana Barat mempunyai minat yang sangat tinggi untuk mengkaji kehidupan dan ajaran-ajaran sufi Rumi.

Turki dan Rumi

Rumi dilahirkan di Balkh, tetapi keluarganya ke Konya di Rum, yang kemudian menjadi nama keluarga. Semasa hidup, Rumi melakukan sebuah studi menyeluruh tentang sufisme dan mengabdikan diri, dalam paruh usia, sepenuhnya kepada mistisisme. Dia menciptakan tarian-tarian mistis, yang disebut menyimbolkan revolusi planet-planet yang mengitari matahari, dan mungkin merupakan awal dari tarekat darwis-darwis yang menari, yang dikenal sebagai the brethren of love (persaudaraan cinta), karena seluruh basis jalan hidup mereka adalah kecintaan kepada Tuhan.

Peninggalan warisan yang begitu luar biasa itu, semakin membuat penasaran banyak orang untuk mengunjungi ke kota Konya di Turki. Ya, barangkali tidaklah berlebihan, bila Turki sebagai negara perbatasan antara Asia dan Eropa, menjadi sangat terkenal juga lantaran ketokohan Rumi yang berada di sana.

Baca Juga:  Membongkar Kebohongan Publik Film Jejak Khilafah di Nusantara

Rumi bukan sekadar penyair, tetapi ia juga tokoh sufi yang berpengaruh pada zamannya. Rumi adalah guru nomor satu tarekat Maulawiah—sebuah tarekat yang berpusat di Turki dan berkembang di daerah sekitarnya. Tarekat Maulawiah pernah berpengaruh besar dalam lingkungan Istana Turki Utsmani dan kalangan seniman pada sekitar tahun l648.

Sebagai tokoh sufi, Rumi sangat menentang pendewaan akal dan indera dalam menentukan kebenaran. Pada zamannya, umat Islam memang sedang dilanda penyakit itu. Bagi kelompok yang mengagul-agulkan akal, kebenaran baru dianggap benar bila mampu digapai oleh indera dan akal. Segala sesuatu yang tidak dapat diraba oleh indera dan akal, cepat-cepat mereka ingkari dan tidak diakui.

Padahal, menurut Rumi, justru pemikiran semacam itulah yang dapat melemahkan iman kepada sesuatu yang ghaib. Dan karena pengaruh pemikiran seperti itu pula, kepercayaan kepada segala hakekat yang tidak kasat mata, yang diajarkan berbagai syariat dan beragam agama samawi, bisa menjadi goyah.

Tidak layak meniadakan sesuatu hanya karena tidak pernah melihatnya dengan mata kepala atau belum pernah meraba dengan indera. Sesungguhnya, batin akan selalu tersembunyi di balik yang lahir, seperti faedah penyembuhan yang terkandung dalam obat. “Padahal, yang lahir itu senantiasa menunjukkan adanya sesuatu yang tersimpan, yang tersembunyi di balik dirinya. Bukankah Anda mengenal obat yang bermanfaat? Bukankah kegunaannya tersembunyi di dalamnya?” tegas Rumi.

Antara Rumi dan Ibn ‘Arabi

Dalam hal tertentu, percik pemikiran Rumi sedikit memiliki perbedaan sekaligus memiliki perbedaan dengan sufi agung sebelumnya, Ibn ‘Arabi. Titip perbedaan itu dengan sangat baik. Bahwa menurutnya, Ibn ‘Arabi berbicara pada akal sedangkan Rumi berbicara pada hati. Maka memahami Rumi tidak bisa hanya dengan akal, ia harus dipahami dengan hati terlebih dahulu, baru akal akan mengerti. Peran Ibn ‘Arabi sebaliknya, ia berusaha menuntun akal pada pemahaman yang lebih dalam yang kemudian hanya bisa dipahami melalui hati.

Baca Juga:  Cara Meringankan Seseorang dalam Proses Sakratul Maut

Ibn ‘Arabi akan lebih mudah dipahami oleh orang-orang rasional yang lebih dominan mengolah pikir. Sedangkan Rumi akan mudah dipahami oleh orang-orang yang mengolah rasa yang hatinya telah menyala. Inilah beda keduanya. Kutub pengetahuan dan kutub cinta. Kutub akal dan kutub hati. Olah pikir dan olah rasa (Najmar, 2010: 66-67).

Karena itu, Najmar, yang menulis buku berjudul Finding Rumi: Catatan Petualangan Perempuan Indonesia di Turki (2010), mendokumentasi perjalanan spiritualnya dalam menziarahi situs-situs Rumi, dan termasuk pula makamnya. Najmar meneggelamkan kesempatan ziarah itu ke dalam nuansa penuh ketakjuban merasakan aura spiritualitas Rumi.

Najmar, termasuk sedikit orang yang paling beruntung dapat mengunjungi penulis kitab sufi terkenal, Diwan Syamsi Tabriz, sebuah kumpulan lirik-lirik yang cantik, dan Matsnawi, sebuah puisi mistis yang agung, yang disebut-sebut telah menghabiskan waktu empat puluh tahun untuk menyelesaikannya. Itulah pesona spiritualitas Rumi.

Bagikan Artikel

About Ali Usman

Avatar
Pengurus Lakpesdam PWNU DIY