kodok tuli
kodok tuli

Belajar Bodo Amat dari Kisah Kodok Tuli

Alkisah, hiduplah dua ekor kodok bersaudara di sebuah hutan. Sang kakak terlahir sebagai katak yang normal. Warnanya hijau, badannya sedang, bisa melihat, mendengar, juga berbicara. Sedangkan sang adik dilahirkan cacat, ia tak bisa mendengar.

Singkat cerita, mereka berdua sedang berjalan-jalan (maksudnya, melompat-lompat) di tengah hutan. Tapi, karena mereka berdua kurang memperhatikan lingkungan sekitar, mereka berdua terperosok ke dalam sebuah lubang yang cukup dalam. Mereka pun berusaha berulang kali untuk keluar dari lubang itu, tapi tak kunjung membuahkan hasil.

Sehari berlalu, ada rombongan kodok lain yang melewati tempat tersebut; yang tak lain adalah teman-teman dari dua kodok ini. Mereka mulai bergerombol di sekitar lubang itu. Melihat lubang yang cukup dalam itu, mereka berpikir sepertinya mustahil bagi mereka berdua untuk bisa keluar dari dalam lubang tersebut.

Bahkan, para kodok itu sampai berkata seperti ini, “Udahlah, nyerah aja! Gak mungkin kalian bisa selamat keluar dari lubang ini”, ujar seekor kodok.

            “Iya, mau nyoba sekeras apapun, gak bakalan bisa keluar!”, timpal kodok lain.

            “Udah lah, banyak doa aja supaya amal ibadah kalian diterima oleh Yang Maha Kuasa”, tambah si kodok.

Melihat teman-temannya yang sepertinya berkumpul untuknya, Sang adik semakin berusaha keras untuk keluar dari lubang. Ia melompat berkali-kali, dan ajaibnya, akhirnya ia berhasil keluar juga. Ia pun berkata seperti ini pada teman-teman kodoknya, “Makasih yah, teman-teman. Udah menyemangati aku dari tadi”, ujar kodok yang tuli itu.

Loh, siapa yang nyemangatin, sih?”, gumam mereka dalam hati. Namun mereka senang saja karena si kodok ini secara ajaib bisa selamat.

Sedangkan sang kakak, akhirnya karena semakin tidak percaya diri dan tertekan oleh hinaan teman-temannya, mati di dalam lubang itu; tak mampu keluar.

Baca Juga:  Hati-hati terhadap Orang Munafik Berilmu

Kisah ini mengingatkan saya pada nasehat wali kelas saya dulu ketika masih di pesantren. Saat itu, kami mendengarkan nasehat dari beliau. Setelah mengucap salam dan menanyai kabar, beliau memulai perkataan beliau, “Ustadz ingin kalian ingat kata-kata ini:

رِضَى النَّاسِ غَايَةٌ لَا تُدْرَكُ

وَ رِضَى اللهِ غَايَةٌ لَا تُتْرَكُ

اُتْرُكْ مَا لَأ يُدْرَكُ

و أَدْرِكْ مَا لَا يُتْرَكُ

Kata-kata ini Ustadz dapat dari wali kelas Ustadz, ketika kelas 4 KMI dulu. Ustadz gak tahu persis kata-kata ini punya siapa, tapi artinya sangat dalam.

 Tahu apa maksudnya?”

“Gak tahu, tad”, jawab kami.

“Kata-kata ini berbicara tentang kepercayaan diri kita dalam menggapai impian. Juga tentang pergaulan, dan bagaimana sikap kita dalam menghadapi kritik atau tanggapan orang lain atas perilaku kita.

Artinya secara per kata tuh, kira-kira seperti ini:

Ridho semua orang itu adalah sesuatu yang mustahil dicapai, Ridho Allah itu adalah sesuatu yang mustahil ditinggalkan, maka tinggalkanlah apa yang mustahil dicapai, dan prioritaskanlah apa yang mustahil ditinggalkan

Maksudnya adalah, apapun yang kita lakukan, kepribadian apapun yang kita miliki, usaha apapun yang kita kerahkan, gak mungkin semua orang tuh bakal senang semua, ridho semua, suka semua sama kita. Pasti, ada aja yang gak suka, iri, benci sama kita.

Nabi Muhammad SAW saja, yang memiliki semua sifat terpuji, masih ada yang tidak suka, masih ada yang benci, masih ada yang gak ridho. Apalagi kita, kan. Yang hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Maka, kita tidak perlu terlalu mementingkan tanggapan dan kritik orang terhadap kita. Karena, untuk membuat semua orang ridho terhadap kita, terhadap hasil karya kita, terhadap usaha kita, itu mustahil dilakukan. Pasti ada aja yang risih, gak suka. Pasti ada.

Baca Juga:  Khutbah Jumat Singkat Tanda Khatib Paham Agama

Tapi, walaupun begitu, terkadang kita harus mau mendengarkan pendapat orang lain. Karena, diluar sana masih banyak orang baik, yang mau memperbaiki kesalahan kita, membangun kita menjadi pribadi yang labih baik. Yang gak boleh itu, ketika kita berlarut-larut memikirkan kritikan, hinaan orang lain terhadap kita. Itu baru gak boleh. Kalau bisa, jadikan itu sebagai batu pijakan yang membangun.

Nah, tadi itu berbicara tentang hubungan kita sesama manusia. Yang sebagaimana Ustadz beritahu tadi, gak mungkin lancar 100%.

Bait selanjutnya, berbicara tentang hubungan kita sama Allah. Hubungan antara Tuhan dan hamba yang tak mungkin dapat terelakkan. Daripada kita terlalu memusingkan hubungan kita dengan orang lain, lebih baik kita perbaiki hubungan kita dulu kepada Sang Pencipta. Agar Ia, ridho terhadap kita, perbuatan kita, usaha kita, dan juga hasil karya kita.

maka tinggalkanlah apa yang mustahil dicapai, dan prioritaskanlah apa yang mustahil ditinggalkan

Mungkin, ini sudah terjawab ya. Hubungan sesama manusia memang penting. Tapi, hubungan kita dengan Yang Maha Esa jauh lebih penting”, jelas beliau.

Terkadang memang kita harus bodo amat terhadap perkataan dan cercaan orang lain. Walaupun adakalanya, kita juga terkadang harus mau menerima nasehat dan kritikan mereka. Namun, jikalau perkataan orang lain membuat anda menjadi ragu dalam menggapai impian anda karena cercaan mereka yang menganggap anda tidak akan mampu, maka mungkin bersikap bodo amat adalah pilihan terbaik.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Syah Alfarisi

Avatar of Ahmad Syah Alfarisi
Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat ini sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah. Ia sering sempatkan untuk menulis di waktu-waktu senggang.