ibnu hajar
ibnu hajar

Kisah Ibnu Hajar dan Syahadat Yahudi Si Penjual Minyak

Syekh Ismail bin Muhammad al-‘Ajluni al-Jarrahi mengkisahkan sebuah kisah menarik. Adalah Ibnu Hajar al-‘Asqalani, seorang maenstro dalam madzhab Syafii yang digelari dengan qadhi al-Qadhahsyaikhul islam, al-amirul mukminin, syihabuddin. Beliau adalah seorang hakim terkemuka di Mesir pada masanya.

Uniknya, jika pergi ke tempat kerja, ia berangkat dengan naik kereta yang ditarik oleh kuda atau keledai dalam sebuah konvoi. Suatu hari, tak sengaja ia berpapasan dengan seorang Yahudi, berprofesi sebagai penjual minyak di Mesir yang pakaiannya kotor dan dekil.

Melihat konvoi tersebut, si Yahudi menghadang dan menghentikannya. Si Yahudi itu berkata kepada Imam Ibnu Hajar : Sesungguhnya Nabi kalian berkata :

الدنيا سجن المؤمن ، وجنة الكافر

Dunia itu penjara bagi orang-orang yang beriman dan surga bagi orang-orang kafir! HR: Muslim: 5368. Namun kenapa Engkau sebagai seorang yang beriman, menjadi seorang hakim besar di Mesir dan dalam iring-iringan yang mewah serta dalam kenikmatan seperti ini. Sedang aku (yang kafir) dalam penderitaan dan kesengsaran seperti ini?

Imam Ibnu Hajar menjawab: Aku dengan keadaanku yang penuh dengan kemewahan dan kenikmatan dunia ini bila dibandingkan dengan kenikmatan surga adalah seperti sebuah penjara. (tidak ada apa apanya), sedang penderitaan yang kau alami di dunia ini dibandingkan dengan adzabmu di Neraka kelak seperti sebuah surga.

Sekonyong konyong, si Yahudipun tertegun. Kemudian bersyahadat dan masuk Islam. Kasyf al-Khafa’ Wa Muzil al-Ilbas,1/411

Imam an-Nawawi al-Jawi memaparkan bahwa maksud dari ungkapan “dunia itu penjara bagi orang-orang yang beriman dan surga bagi  orang kafir”, adalah bahwa, setiap mukmin ibarat berada dalam penjara dikungkung oleh larangan di dunia untuk melampiaskan kesenangan-kesenangan berdasarkan syahwat-syahwat.

Baca Juga:  Kisah Rasulullah dan Rombongan Terlambat Shalat Subuh

Seorang mukmin dibebani untuk melakukan ketaatan-ketaatan yang terasa berat. Jika dia meninggal maka ia akan beristirahat dari hal ini dan dia akan Kembali kepada janji janji Allah berupa kenikmatan abadi dan kelapangan yang bersih. Sedangkan orang kafir, dia hanya akan mendapatkan dari kesenangan dunia yang ia peroleh, yang jumlahnya sedikit dan bercampur dengan kesusahan dan penderitaan. Dan bila dia telah mati, dia akan pergi menuju siksaan yang abadi dan penderitaan yang selama-lamanya. Fath al-Majid, 38.

Kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada orang yang beriman dibandingkan dengan kenikmatan akhirat ibarat kenyamanan dalam menikmati fasilitas penjara. Tiada taranya bila disepadankan dengan fasilitas di luar penjara. Begitu juga penderitaan yang dialami orang kafir di dunia, seakan bukan penderitaan bila dibandingkan dengan penderitaan neraka.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …