dai nekad
dai nekad

Ibnu Hajar Al Haitami : Minim Ilmu Nekad Berdakwah, Harus Dita’zir

Dalam karyanya al-Fatawa al Hadtsiyyah, Ibnu Hajar al Haitami ulama kenamaan madhab Syafi’i mencatat suatu dialog yang diawali oleh pertanyaan, apa sanksi bagi mereka yang nekad berdakwah (da’i) dengan mengutip ayat al Qur’an maupun hadis sementara ia tidak menguasai ilmu nahwu, sharraf, i’rab, ma’ani, bayan alat pengetahuan pelengkap lainnya?.

Jawaban Ibnu Hajar al Haitami sangat jelas. Jika materi ceramahnya hanya berisi anjuran melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan tidak masalah. Dengan syarat ketika menggunakan dalil, al Qur’an maupun hadis, harus merujuk pada tafsir para ulama yang memiliki kompetensi keilmuan mumpuni. Seperti para imam mujatahid dan para ulama yang keilmuannya teruji.

Dengan kata lain, da’i harus mengutip pendapat ulama dan tidak boleh melakukan penafsiran terhadap dua dalil utama dalam Islam tersebut berdasar pikirannya sendiri. Catatan kedua untuk orang seperti ini bisa tampil di ruang publik sebagai penceramah syaratnya harus adil (‘adalah), tidak melakukan dosa besar, atau terus-menerus melakukan dosa kecil sebelum bertaubat.

Tetapi, jika yang disampaikan oleh orang yang minim ilmu agama tersebut terkait nalar keilmuan, seperti menafsiri ayat dan hadis, maka semua elemen yang memiliki otoritas, seperti ulama, kiai dan pemerintah, serta siapapun yang memiliki kemampuan wajib mencegahnya tampil di muka umum. Kalau masih bersikeras menampilkan kebodohannya yang menyesatkan dan masyarakat tidak kuasa menghentikannya, alternatif terakhir harus dilaporkan kepada pihak berwajib siapa dihukum sekeras-kerasnya (dita’zir) supaya kalangan awam yang lain tidak meniru perbuatannya.

Sebab, masih menurut Ibnu Hajar al Haitami, akan ada dampak negatif yang sangat buruk dari pola tingkah ustad “gadungan” tersebut. Ada dharar dan mafsadah (kerusakan) nyata yang begitu banyak dan tak terhitung yang timbul gara-gara mereka. Bagaimanapun, mafsadah harus dihilangkan.

Baca Juga:  Film Sebagai Media Dakwah Dapat Lebih Menyentuh Hati Audien

Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dari semua elemen masyarakat untuk berupaya melakukan pencegahan terhadap praktik seperti ini. Bila tidak, akibat yang paling buruk terhadap generasi berikutnya tidak bisa dielakkan lagi. Akibat buruknya adalah kesesatan yang dibuat sendiri untuk dirinya, serta menyesatkan kepada orang-orang sekitarnya seperti para jamaah atau penggemar fanatiknya.

Dan dampak buruk yang paling kentara adalah kerap menyalahkan dan menuduh sesat orang lain. Padahal kesesatan itu ada pada dirinya sendiri karena sangat minimnya ilmu agama,  bahkan sama sekali tidak memahaminya.

Lalu dengan apa kita membuktikan seseorang layak untuk berceramah atau menjadi da’i?. Seperti ditulis oleh Ibnu Hajar al Haitami di atas, ia harus menguasai beberapa disiplin ilmu, yaitu nahwu, sharaf, i’rab, ma’ani dan bayan. Sederhananya, minta ia membaca karya ulama salaf seperti kitab tafsir, kitab fiqih, kitab Ushul fiqih dan lain-lain. Bila ia mampu tentu layak melakukan analisa ilmiah dan memiliki alasan kuat ketika harus menyalahkan argumen orang lain. Jika tidak?, tak perlu dijawab.

Bagikan Artikel ini:

About Khotibul Umam

Avatar of Khotibul Umam
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri

Check Also

pesan nabi menjelang ramadan

Pesan Nabi Menyambut Ramadan

Bulan Ramadan, atau di Indonesia familiar dengan sebutan Bulan Puasa, merupakan anugerah yang diberikan Allah …

imam ahmad bin hanbal

Teladan Imam Ahmad bin Hanbal; Menasehati dengan Bijak, Bukan Menginjak

Sumpah, “demi masa”, manusia berada dalam kerugian. Begitulah Allah mengingatkan dalam al Qur’an. Kecuali mereka …