al-quran
al-quran

Al-Qur’an, Nahwu dan Politik

Al-Qur’an  diturunkan di Jazirah Arab dengan menggunakan bahasa Arab yang memiliki  banyak keistimewaan dalam hal cara penyampaian dan kandungan maknanya. Tidak semata menggunakan bahasa manusia, al-Qur’an menggunakan cara berfikir manusia dan diambil dari dunia manusia. Ini bukti kasih sayang Allah sebagaimana tertera dalam pembukaan surat al-Rahman.

Sebagai penyampai wahyu, Nabi Muhammad Saw dibekali mukjizat yaitu aqliyah lughawiyah (rasionalitas bahasa) dan kepekaan sastra yang tinggi sehingga mampu menundukkan para orator Arab berpengaruh saat itu. Selain itu, mereka juga merasa “ciut” jika menghadapi Nabi yang kefasihannya tak tertandingi. Oleh karena itu, cara menjatuhkan Nabi yang bisa diandalkan adalah menuduhnya sebagai tukang sihir dan mantra.

Setelah Islam menyebar ke luar jaziarah Arab, muncul masalah di kalangan umat Islam yang ‘Ajam (non-Arab), terutama yang tidak fasih berbahasa Arab dan rentan salah membaca al-Qur’an yang belum berharokat. Hal ini mengkondisikan negara-negara non-Arab lebih membutuhkan cara berbicara fashih dan membaca teks Arab dibanding negara Arab sendiri. Orang Arab karena memiliki saliqah (bawaan) dan malakah (skiil) bisa spontan berbicara dan terhindar dari lahn atau kesalahan berbahasa. Jadi wajar jika masyarakat perkampungan bahkan perkotaan seperti Hijaz (Mekah dan Madinah) tidak membutuhkan ilmu nahwu sebagaimana masyarakat non-Arab seperti Irak yang menjadi inisiator nahwu.

Lahn merupakan faktor utama perkembangan nahwu dan pembukuan bahasa. Semakin banyak jumlah orang ‘Ajam atau Arab blesteran yang masuk Islam, semakin banyak pula lahn dalam perkataan mereka. Setelah berkembang sebagai bentuk salah berbicara, lahn juga terjadi dalam hal bacaan al-Qur’an. Logis jika Irak justru menjadi negara pertama yang membukukan bahasa dan nahwu, dimulai kepeloporan kota Bashrah, disusul satu abad kemudian Kufah, dan berlanjut Baghdad. Irak pun saat ini bertahan sebagai salah satu negara Arab yang pernah menjadi pusat peradaban Islam ketika pemerintahan Dinasti Abbasiyah.

At-Thantawi membuat periodesasi ilmu nahwu dimulai dari peletakan dan pembentukan (Bashrah) oleh Abu al-Aswad al-Duali atas perintah Sayidina Ali, dilanjutkan oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi. Kufah pada masa ini sibuk dengan qiro’ah dan riwayat. Periode kedua; perkembangan (Bashrah dan Kufah) yang dipelopori oleh tokoh Bashrah Khalil bin Ahmad dan Kufah; al-Kisai dan al-Farra’ yang sebelumnya belajar dari Bashrah dan bermaksud mendirikan madrasah sendiri. Pada masa ini, nahwu tidak hanya membahas akhir kata, melainkan juga membahas  bentuk kata yang kemudian disebut ilmu sharaf. Perkembangan kajian nahwu juga diiringi perkembangan kajian bahasa sebagaimana munculnya kamus “al-Ain” sebagai kamus pertama di dunia yang ditulis oleh Khalil bin Ahmad al-Farahidi dengan urutan kata berdasarkan tempat keluarnya bunyi huruf al-Qur’an pertama kali yaitu tenggorokan. Kajian nahwu telah mencakup nahwu, shorof dan bunyi (fonologi). Pembahasannya yang  mencakup  Qiyas, ta’lil, amil dan musthalahat (terminologi) mulai matang.

Ketiga periode kematangan dan penyempurnaan (Bashrah dan Kufah). Setelah periode nahwu yang dipelopori oleh Bashrah dan Kufah muncul periode keempat yang bersifat perbandingan dan perluasan karya. Periode ini dipelopori oleh  Baghdad, Andalusia, Mesir dan Syam. Di periode ini, ilmu sharaf mulai berdiri sendiri dan muncul penataan ulang materi pembahasan nahwu.

Keempat, periode perbandingan, pemilihan dan ijtihad. Selain penggabungan madrasah nahwu dan kufah, karakter kajian nahwu di periode ini adalah kebebasan nalar, pembaharuan, perluasan dan inovasi dalam masalah nahwu, sharaf, fonetik dan bahasa. Metodenya bersifat elektik (gabungan) dan memilih pendapat yang paling unggul.

Dalam dinamik ilmu Nahwu tersebut, Bashrah dan Kufah telah memposisikan nahwu tidak hanya sebagai sarana memahami bahasa Arab sebagai alat komunikasi, melainkan juga alat memahami al-Qur’an dan hadis. Dalam hal ini, Kufah lebih banyak menggunakan dalil al-Qur’an dibanding Bashrah karena ulama’ Kufah memiliki kapasitas lebih dalam qiro’at dan meyakini al-Qur’an lebih berhak dan patut diterima sebagai pondasi kaidah atau landasan pencetusan hukum-hukum nahwu.  Sedangkan Bashrah awalnya lebih sibuk dengan logika dan filsafat sehingga cenderung pada metode Qiyas (analogi).

Perselisihan antara dua kota serta terbentuknya masing-masing madzhab tersebut tidak murni dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat dan paradigma dalam studi kebahasaan, melainkan juga oleh situasi yang tidak “terkatakan”, yaitu situasi geografis, sosial, etnis dan politik elit masing-masing. At-Thabari meriwayatkan bahwa kedua kota tersebut awalnya satu daerah, kemudian muncul konflik yang menyibukkan dan puncaknya pada perang jamal tahun 37 H antara penduduk Bashrah yang mendukung Aisyah, Thalhah dan Zubair, dan penduduk Kufah yang mendukung Sayidina Ali, bahkan  menjadikan Kufah sebagai Ibu Kota Kekhilafahannya. Masyarakat pada masa itu bertanya-tanya, “siapa diantara dua kubu itu yang paling benar?”. Perselisihan politik ini disamping menumbuhkan sifat fanatik dari masing-masing pengikut, juga mengasah nalar kritis masing-masing untuk berbeda dan mandiri dalam pendapat.  Lebih dari itu, fanatisme ini memunculkan persaingan keras yang nampak dari perdebatan antara kedua tokoh masing-masing.

Faktor politik nampak mempengaruhi keduanya dalam perdebatan antara para pakar dari masing-masing kubu seperti perdebatan Imam Sibawaih dengan Imam al-Kisai, al-Asma’i dengan al-Kisai, dan al-Yazidi dengan al-Kisai. Imam Sibawaih pernah kalah karena faktor politik menghadapi al-Kisai yang dikenal sebagai mahaguru privat  Amin dan Ma’mun; putra Khalifah Harun al-Rasyid. Al-Kisai bisa menang dengan menghadirkan saksi bahasa dari Mesir yang membenarkan pendapatnya ketika Sibawaih mampu mempertahankan argumen. Ketika itu perdebatan terjadi sangat panjang. Menteri yang diutus oleh Khalifah Harun al-Rasyid mengatakan; “kalian berdua merupakan rujukan di kota masing-masing. Jika kalian berselisih, siapa yang bisa memutuskan?. Ini letak masalah sebenarnya”. Al-Kisai pun tidak kehabisan cara dan menghadirkan saksi bahasa dari pelosok Mesir yang dianggap bahasanya fashih dan sengaja  diundang oleh murid al-Kisai untuk mengalahkan Sibawaih. Imam Sibawaih tiba-tiba terdiam dengan persaksian itu dan merasa kecewa. Harapannya untuk dekat dengan para Khalifah dan Pangeran di Baghdad dengan maksud bisa memperluas penyebaran ilmunya tidak tercapai. Sebelum perdebatan, Yahya bin Khalid yang merupakan salah seorang Menteri Khalifah Harun al-Rasyid menasehatinya agar tidak berdebat dengan al-Kisai karena setiap tokoh di Baghdad jelas akan mendukung al-Kisai. Sibawai tidak mempedulikannya.

Akhirnya, Harun al-Rasyid mengundangnya ke Istana dan  Sibawaih disambut oleh lawan-lawannya; al-Farra’, Abu al-Hasan al-Ahmar, Hisyam bin Muawiyah dan Muhammad bin Sa’dan yang merupakan murid al-Kisai. Mereka telah mendahului Sibawaih masuk Istana. Al-Ahmar seketika itu memberikan seratus pertanyaan nahwu. Tidak satu pertanyaan yang dijawab oleh Sibawaih kecuali al-Ahmar dengan tanpa pikir mengatakan; “kamu salah wahai orang Bashrah”. Dipertanyaan ketiga, Sibawah tersinggung dan mengatakan; “ini jelas tidak ada adab”. Setelah itu al-Farra’ bertanya. Setelah Sibawaih menjawabnya, al-Farra mengatakan; “silahkan tinjau kembali jawabanmu”. Pertanyaan bernada menyerang, tidak sopan dan dilakukan berkali-kali itu membuat Sibawaih merasa mereka bukan tingkatannya dan meminta guru mereka langsung yang hadir. Al-Kisai pun akhirnya datang. Tentu Sibawaih dalam kondisi ini sudah sangat lelah meskipun harus tetap berdebat dengan al-Kisai. Al-Amin Ibnu Khalikan meriwayatkan bahwa pembahasan masalah tersebut telah diskenariokan oleh murid al-Kisai untuk mengalahkan Sibawaih.

Perselisihan ini semakin mendorong perkembangan ilmu nahwu dari yang sebelumnya disebabkan oleh lahn di awal Islam, bahkan tidak dikenal oleh bangsa Arab sebelum Islam. Orang Arab tidak merasa butuh ilmu nahwu karena keselamatan fitrah dan kecerdasan naluri bahasanya. Namun keadaan berbeda ketika memasuki masa Islam dan umat Islam berinteraksi dengan umat Persia dan Romawi, disusul situasi politik di kalangan umat Islam sendiri sebagaimana antara Bashrah dan Kufah. Ibnu al-Anbari dalam kitabnya “al-Inshaf fi Masail al-Khilaf Baina al-Bashriyin wa al-Kufiyin” menyebutkan akumulasi perbedaan antara Bashrah dan Kufah dalam masalah nahwu mencapai 121 masalah.

Bagikan Artikel ini:

About Ribut Nurhuda

Penasehat PCI NU Sudan

Check Also

Imam Syafii

Maksud Imam Syafi’i Sebagai “Penolong Hadist”

Imam Syafi’i merupakan ulama yang tidak asing di telinga masyarakat muslim Indonesia. Selain  pendiri salah …

spanyol dan afrika

Perkembangan Madzhab Maliki di Spanyol dan Afrika Utara

Masyarakat Afrika Utara secara umum mengikuti madzhab Maliki. Di Sudan, madzhab ini tersebar dengan pesat …

escortescort