image 2020 10 16 162027
image 2020 10 16 162027

Kisah Sang Penjual Roti dan Pertemuannya dengan Imam Ahmad bin Hambal

Bertempat di sebelah masjid di Kota Basrah Irak, terdapat seorang lelaki penjual roti. Ketika melakukan segala aktivitas, ia selalu mengucapkan istighfar. Membuat adonan roti, mengucapkan istighfar. Menuangkan air pada adonan roti, mengucapkan istighfar. Menaburkan garam, mengucapkan istighfar. Mengambil dan memecahkan telur, mengucapkan istighfar.

Kegiatan apa pun yang dikerjakannya, akan dibarengi dengan ucapan istighfar. Begitu rutinitas yang dilakukan penjual roti tersebut setiap waktu.

Sementara, suatu ketika, seorang imam salah satu empat madzab mengunjungi Kota Basrah, Irak. Imam Ahmad bin Hambal namanya. Ia adalah murid dari Imam Syafi’i. Dikenal dengan nama Imam Hambali.

Saat itu, Imam Ahmad sangat ingin berkunjung ke Basrah. Padahal, ia tidak memiliki hajat atau pun janji dengan seseorang untuk bertemu di sana.

Sesampainya di Basrah, Imam Ahmad mengikuti jamaah shalat isya di salah satu masjid di Basrah. Setelahnya, ia ingin beristirahat di masjid tersebut.

Akan tetapi, tak lama kemudian, seorang marbot masjid mendatangi Imam Ahmad. Marbot masjid tersebut lantas menanyakan keperluan Imam Ahmad di masjid tersebut.

“Saya musafir. Saya hendak beristirahat di sini,” kata Imam Ahmad yang memang sudah berusia senja.

“Tidak boleh. Tidak boleh tidur di masjid,” kata marbot masjid tersebut kepada Imam Ahmad. Ia sama sekali tidak tahu, jika orang yang dilarangnya tersebut adalah Imam Ahmad, imam dari Mazhab Hambali.

Setelah mengatakan hal itu, marbot tersebut mendorong Imam Ahmad keluar dari Masjid. Lalu mengunci pintu masjid.

Karena tidak boleh beristirahat di dalam masjid, Imam Ahmad kemudian ingin beristirahat di teras masjid. Tetapi, untuk kedua kalinya, marbot masjid mendatanginya. Dan untuk kedua kalinya juga, marbot masjid tersebut mendorong Imam Ahmad dan mengusirnya.

Baca Juga:  Hukuman Buat Kaab bin Malik yang Absen Berperang Tanpa Halangan

“Tidur di dalam masjid tidak boleh. Di teras masjid juga tidak boleh,” kata marbot masjid tersebut.

Imam Ahmad keluar dari masjid dan berada di jalanan. Saat itulah, ia dipanggil oleh seseorang. Seseorang itu adalah lelaki penjual roti yang berjualan di sebelah masjid. Lelaki penjual roti itulah yang senantiasa mengucapkan istighfar dalam setiap aktivitasnya.

Penjual roti itu lalu mengijinkan Imam Ahmad menginap di rumahnya. Sama seperti marbot masjid, ia sama sekali tidak mengetahui bahwa lelaki yang diberikan tempat menginap tersebut adalah Imam Ahmad.

Setelah mempersilahkan Imam Ahmad masuk ke dalam rumahnya yang kecil, lelaki tersebut melanjutkan aktivitasnya membuat roti. Ia selalu mengucapkan istighfar ketika hendak melakukan sesuatu. Persis seperti yang penulis ceritakan di awal tulisan.

Perilaku sang penjual roti tersebut diperhatikan oleh Imam Ahmad. Ia yang penasaran kemudian melontarkan pertanyaan kepada lelaki penjual roti itu.

“Sudah berapa lamakah, Anda melakukan hal seperti itu, membaca istighfar setiap melakukan sesuatu?” tanya Imam Ahmad.

“Sudah sangat lama sekali, syekh. Saya berjualan roti selama 30 tahun lamanya. Jadi selama itu saya melakukannya,” jawab sang penjual roti.

“Apa yang Anda dapatkan setelah melakukan itu bertahun-tahun? Tanya Imam Ahmad kemudian.

“Apa pun yang saya inginkan, dikabulkan oleh Allah,” jawabnya.

Akan tetapi, lanjut penjual roti tersebut, ada satu permintaanku yang belum dikabulkan oleh Allah Swt.

“Kalau boleh tau, apa itu?” kejar Imam Ahmad.

“Saya ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal. Tapi Allah Swt., belum mengabulkannya,” jawab sang penjual roti dengan nada sedih.

Imam Ahmad yang mendengar jawaban yang penjual roti kemudian bertakbir, seraya berkata kepada penjual roti tersebut. Begini katanya.

Baca Juga:  Tangisan Khalifah Umar karena Penderitaan Rakyatnya

“Saya jauh-jauh datang dari Baghdad ke Basrah, kemudian diusir dari masjid hingga ke jalanan, hanya karena istighfar yang Anda lakukan,” kata Imam Ahmad.

Sang penjual roti tak kalah kaget mendengar ucapan Imam Ahmad. Ia kemudian menyadari bahwa orang yang berada di depannya, yang diijinkan menginap di rumahnya adalah Imam Ahmad, seseorang yang sangat ingin ditemuinya.

Subhanallah. Segala puji bagi Allah. Menutup tulisan ini, saya hendak mengutip salah satu hadis dari Rasulullah Saw. Begini bunyinya.

Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka (HR. Ahmad).  

Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah tersebut. Aamiin.

Bagikan Artikel ini:

About Nur Rokhim

Avatar of Nur Rokhim
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY

Check Also

musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Firaun: Adab Mengkritik Seorang Penguasa yang Sangat Dzalim

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya …

makkah

Ketika Masjidil Haram Ditutup karena Wabah Melanda

Presiden Jokowi telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai tanggal 3-20 Juli mendatang. …