Al-Qur’an dan hadist adalah pedoman umat karenanya membutuhkan tuntunan. Butuh kitab-kitab penting yang harus dibaca. Butuh berguru kepada mereka yang ahli dalam tafsir dan ahli hadist. Bukan sekedar pelempar ayat al-Qur’an dan matan hadist di setiap mimbar yang hanya mengetahui makna dari terjemahan.


Jelas salah kaprah jika gegap gempita ingin kembali al-Qur’an dan Hadist berarti tidak mau mempelajari dan mengikuti pendapat imam madzhab. Pertama, asumsi ini seolah para imam madzhab tidak merujuk dan menggali al-Qur’an dan Hadist. Kedua, persoalan menggali hujjah dari al-Qur’an dan hadist bukan semata mengetahui makna melalui terjemahan semata.

Salah satu kitab penting yang menjadi panduan dalam memahami al-Qur’an dan Hadist dalam menggali makna, hikmah dan terutama hukum adalah kitab ar-Risalah yang dikarang oleh Imam Syafi’i. Ulama besar yang menjadi panutan umat Islam di berbagai negara saat ini.

Kenapa ar-Risalah ini hadir dan ditulis oleh Imam Syafi’i. Membaca al-Qur’an dan Hadits itu mudah, tetapi memahaminya jangan dipermudah. Barangkali umat jatuh dalam pelemparan ayat-ayat dan matan-matan hadist yang dimaknai secara sejengkal pengetahuan penuh kepentingan.

Ketika mengkaji isi serta menggali makna al-Qur’an, ayat per ayat, menghubungkan surat satu ke surat berikutnya, itu yang tidak mudah. Untuk mengkaji kitab suci tidak cukup hanya melihat dari satu sisi, tetapi harus melihatnya dari berbagai pendekatan.

Dalam mengkaji pun harus menguasai multi disiplin ilmu. Tidak cukup menggunakan satu ilmu. Mulai dari aspek kebahasaannya, metode yang meliputi asbab nuzul (konteks turunnya wahyu al-Qur’an), munasabah (korelasi antar ayat) dan juga mampu menangkap maqasid (semangat dan pesan penting) dari al-Qur’an itu sendiri. Hadis pun seperti itu.

Perlu perangkat metodologi khusus untuk memahami al-Qur’an dan hadis. Walaupun tentu untuk membuat perangkat metodologi itu bukan sesuatu yang mudah. Hal yang paling mungkin dilakukan oleh umat Islam saat ini adalah memakai dan mempelajari metodologi salah satu dari empat imam madzhab (taqlid manhaji). Seperti kitab al-Rislah karya Imam Syafi’i.

Ar-Risalah sebagai Panduan

Imam Syafi’I sangat piawai memahami al-Qur’an dan hadis. Hal ini bisa dibaca dalam kitab Siyar al A’lam wa al Nubala dan Tahdzib al Asma wa al lughot. Pada saat Imam Syafi’I melakukan perjalanan ke Baghdad, Imam al Hafidz Abdurahman bin Mahdi, seorang ahli hadis ternama di Basrah, mendengar kabar tersebut. Segara ia menulis surat yang isinya meminta Imam Syafi’i untuk menulis sebuah tulisan yang menjelaskan cara memahami al-Qur’an dan hadis dengan benar yang bisa dijadikan rujukan untuk dirinya dan ulama-ulama yang lain.

Lihatlah, ulama dan tokoh hadist Basrah seperti Ini Imam al Hafidz Abdurahman bin Mahdi membutuhkan panduan bagi dirinya, ulama dan umat saat itu dalam memahami al-Qur’an dan hadist. Mengapa Abdurrahman bin Mahdi meminta penjelasan tentang masalah ini kepada imam Syafi’i ?

Abdurrahman bin Mahdi sendiri adalah seorang ulama hadis yang terkenal, guru dari Imam Ahmad bin Hanbal. Dialah orang pertama yang membawa madzhab maliki ke Basrah, bahkan imam Nawawi, dalam Manaqib Imam Syafi’I, mengatakan bahwa beliau adalah salah satu tokoh besar dan ahli ilmu dalam hadist.

Ini menjadi bukti bahwa ternyata para ulama tidaklah sama dalam tingkat kepahaman mereka terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah. Dan ternyata Imam Syafi’i adalah rujukan yang tepat dalam hal ini. Dan pelajaran penting bahwa ulama masa lalu sangat berhati-hati dalam memahami makna dan isi al-Qur’an dan hadist.

Imam al-Ghozali, dalam Al Mankhul fi ta’liqotil ushul, berkata : “Imam Syafi’i adalah orang yang paling mengetahui tentang ushul fiqih”. Imam Juwaini dalam  Albahrul muhith fi ushulil fiqih  berkata : “belum ada seorangpun yang mengungguli Imam Syafi’i baik dalam penulisan ushul fiqih maupun dalam pengetahuan tentangnya”.

Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam  Albahrul muhith fi ushulil fiqih sampai berkata : “kami belum mengetahui umum dan khusus sampai Imam Syafi’i datang kepada kami”. Tentu saja Imam Ahmad mengatakan hal itu dalam rangka penghormatan beliau terhadap ketinggian ilmu Imam Syafi’i.

Kemudian Imam Syafi’i mulai menulis. Tulisannya memuat kerangka pikir tentang cara memahami al-Quran dan hadis dengan benar sebagai pijakan untuk merumuskan suatu hukum dari dua sumber pokok tersebut. Setelah tulisan itu selesai dengan sempurna, al-Harits bin Suraij membawanya dari Baghdad ke Basrah untuk diserahkan kepada Abdurrahman bin Mahdi.

Sungguh kegembiraan tiada tara meliputi Abdurrahman bin Mahdi saat menerima surat tersebut. Surat itu ia baca sampai selesai. Setelah itu beliau berkata : “aku tak menyangka dalam umat ini ada orang seperti dia”. Sejak saat itu beliau selalu mendoakan Imam Syafi’i dalam setiap shalatnya.

Seperti diterangkan dalam Manaqib Imam Syafi’I, surat ini kemudian dikenal dengan nama al-Risalah. Salah satu keistimewaan al-Risalah adalah apa yang diungkapkan oleh al-Muzani bahwa dirinya telah membaca al-Risalah sebanyak lima ratus kali, tiap kali ia membacanya, ia mendapat faidah baru yang sebelumnya tidak diketahui.

Pelajaran Penting untuk Umat

Kitab ar-risalah kemudian menjadi kitab pertama yang membahas tentang ushul fiqh secara khusus. Hal ini, salah satunya, seperti termaktub dalam Alwajiz fi ushul al fiqh yang ditulis oleh Dr. Wahbah az-Zuhailiy. Ushul fiqih merupakan satu disiplin ilmu untuk memproses hukum dari al-Qur’an dan hadis. Dan dengan ushul fiqih inilah para ulama, baik ulama salaf maupun khalaf memahami teks-teks syar’I yang bersumber dari al-Qur’an maupun hadis. Kesimpulan hukum dari kerja ushul fiqh inilah yang kemudian disebut fiqih.

Dengan demikian, ushul fiqih adalah alat atau cara memahami al-Qur’an dan hadis. Hanya dengan ushul fiqih seseorang bisa melakukan istimbath (penggalian) hukum dari al Qur’an dan hadis, kemudian mengaplikasikannya dalam berbagai permasalahan yang terjadi.

Dalam disiplin ini, Imam Syafi’i diakui sebagai yang paling unggul. Oleh karena itu, siapa yang ingin menjadi seorang faqih atau ingin memahami al Qur’an dan hadis dengan benar, belum sempurna tanpa membaca dan memahami kitab al Rislah.

Pelajaran penting buat umat saat ini jangan coba-coba membaca dan memahami al Qur’an dan hadis secara langsung tanpa belajar dahulu alatnya, atau kita belajar tapi tanpa bimbingan seorang guru. Al-Qur’an dan hadist memang pedoman karenanya butuh tuntunan.  Sebagai pedoman tidak boleh dipahami secara sembarangan keliru dan tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh al-Qur’an itu sendiri.

Rasulullah bersabda, “Barang siapa menafsirkan al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri, maka siap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka”. Begitu juga dengan hadits-hadits nabi, Ibnu Uyainah berkata, “hadits itu menyesatkan kecuali bagi fuqoha”.

Menjelaskan hadis di atas Ibnu Hajar al Haitamiy dalam Fatawa al Haditsiyah, menjalaskan, hadis-hadis Nabi tak ubahnya seperti al-Qur’an, ada kalimat-kalimat yang umum tetapi maksudnya khusus, atau sebaliknya, ada juga yang sudah di mansukh dan lain-lain. Untuk mengetahui semua itu, tidak ada jalan lain kecuali memahami manhaj yang telah dirumuskan oleh para ahli fiqih. Salah satunya adalah kitab al Risalah.

Sekali lagi al-Qur’an dan hadist adalah pedoman umat karenanya membutuhkan tuntunan. Butuh kitab-kitab penting yang harus dibaca. Butuh berguru kepada mereka yang ahli dalam tafsir dan ahli hadist. Bukan sekedar pelempar ayat Qur’an dan matan hadist di setiap mimbar yang hanya mengetahui makna dari terjemahan.