kebudayaan bangsa
kebudayaan bangsa

Belajar dari Permintaan Maaf Kasus Larangan Menyanyikan Indonesia Raya dan Musnahkan Wayang

Banyak hal yang perlu kita jadikan pelajaran penting dari corak beragama yang acapkali mempertentangkan antara dalil agama dengan kearifan masyarakat yang beragam. Narasi anjuran memusnahkan wayang sebagai bentuk pertobatan yang kaffah yang membuat heboh bukan hanya kali ini terjadi. Sebelumnya ramai pula kontroversi larangan menyanyikan Indonesia raya yang juga tidak kalah hebohnya. Atau dari pelaku yang berbeda terkait penendangan sesajen yang bikin “gemes” netizen.

Pada akhirnya, dari berbagai kejadian itu kata maaf adalah sebuah pilihan akhir baik oleh dai maupun pelaku penendangan sesajen. Klarifikasi pun bertebaran untuk menjelaskan ihwal yang terjadi. Dalam kasus lagu Indonesia Raya, misalnya, klarifikasi pun ditegaskan dengan kecintaan terhadap negara Indonesia. Seolah apa yang terjadi di mimbar dan majlis sangat berbeda semangatnya dengan nuansa yang ada di video klarifikasi.

Hal menarik yang perlu kita syukuri adalah ternyata masyarakat Indonesia masih memiliki daya resistensi yang kuat terhadap narasi dan tindakan intoleran dan anti kebudayaan bangsa. Sontak masyarakat menjadi gemes dan geram dengan narasi yang ingin mengoyak kebhinekaan. Kegemesan dan kegeraman ini sejatinya modal bagi bangsa ini sebagai daya tangkal terhadap individu dan kelompok yang ingin mengoyak jati diri dan identitas bangsa melalui serangan narasi keagamaan.

Tentu ini bukan akhir dari individu dan kelompok untuk melakukan hal sama. Ke depan tentu masih akan ada narasi dan tindakan yang mencoba mempertentangkan antara ajaran agama dengan kebhinekaan. Bisa jadi dan sangat mungkin terjadi apa yang terekspos hanya fenomena gunung es yang terjadi di tengah masyarakat. Sesungguhnya di luar sana bisa sangat mungkin banyak sekali dakwah yang menempatkan agama selalu bertentangan dengan keragaman dan kearifan lokal.

Baca Juga:  Belajar Prinsip Dakwah Melalui Surat al-Ghasiyah

Corak beragama dan dakwah yang membuat heboh masyarakat itu merupakan fenomena baru dari gairah keagamaan perkotaan yang ingin meraih hal instan. Sebuah gerakan yang menemukan momentumnya ketika kebebasan bersuara dan berpendapat di mimbar masyarakat mulai ditabuh sejak era reformasi. Ruang keagamaan menjadi incaran kelompok ini untuk mengimpor pandangan keagamaan yang berpotensi merusak kebhinekaan.

Masyarakat kota yang haus spiritualitas dan siraman rohani begitu takjub dengan kehadiran ceramah yang instan “halal dan haram”, “muslim dan kafir”, “sunnah dan bid’ah” dan “surga dan neraka”. Para penceramah ini tidak hanya mendakwahkan tetapi juga menjadi hakim bahkan lebih satir lagi pemegang kunci surga yang menjanjikan.

Masyarakat pun terpukau, tersilau dan terpana dengan kehadirannya. Ia diundang tidak hanya oleh masyarakat, tetapi instansi pemerintah dan perusahaan untuk memberikan siraman rohani halal dan haram. Mereka masuk ke berbagai lini kehidupan dengan kekuatan media yang terorganisir baik dan sistematis. Mereka tampil menjadi ustadz baru dan idola baru terlebih bagi para artis yang muak dengan kondisi duniawi dan popularitasnya mulai meredup.

Namun, apa yang tidak diperhitungkan oleh para pendakwah halal dan haram ini ketika mulai di atas angin adalah masih ada modal resistensi masyarakat ketika menyinggung jati diri, identitas dan kebanggaan berbangsa. Ketika mereka asyik menebar palu hakim halal-haram dan sunnah-bid’ah, masyarakat mengintip ada gerakan berkedok agama yang merusak kebhinnekaan. Viral, heboh, dan kontroversi pun meledak.

Pada akhirnya, ketika mereka sadar tentang resistensi masyarakat, permintaan maaf harus dilayangkan. Jika tidak, tentu mereka akan berhadapan dengan halal dan haram pengadilan negara. Maaf adalah pengakuan salah atau penyesalan. Itu yang sejatinya maaf. Namun, jika maaf sebagai tameng (taqiyah) beda soal.

Baca Juga:  Islam Membenci Makar

Namun, bangsa Indonesia adalah bangsa pemaaf yang mudah lupa kesalahan orang dan lebih senang mengangumi kebaikan seseorang. Bersyukurlah mereka yang selalu melakukan kesalahan dan meminta maaf yang hidup di negeri yang pemaaf ini. Namun, mata dan kuping masyarakat rasanya masih kuat untuk menangkap suara bising dan sumbang yang ingin merusak kebhinekaan termasuk melalui mimbar agama sekalipun.

Semoga mereka juga menyadari dan tentunya mencari siasat lain. Bersiaplah masyarakat yang cinta kebhinekaan untuk menunggu kejutan berikutnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

fikih atau fiqih islam ilustrasi

Mudir Ma’had Aly Nurul Jadid, Gus Al-Fayyad: Fiqih Adalah Bahasa Kaum Santri Menyapa Pergaulan Global

JAKARTA – Fiqih bukan sekedar sebuah produk pemikiran, namun fiqih menjadi sebuah metode dalam operasional …

062980300 1664681924 830 556

PBNU Turut Berduka: Tragedi Stadion Kanjuruhan Menyedihkan, Yang Bersalah Harus Dihukum

JAKARTA – Kesurusuhan yang terjadi antar suporter Persebaya dengan suporter Arema menjadi sebuah tragedi yang …