Belajar Prinsip Dakwah Melalui Surat al-Ghasiyah

0
133

Surat al-Ghasiyah merupakan surat ke 88 yang berisi peringatan tentang adanya hari pembalasan (al-Ghasyiyah). Ada siksa dan kenikmatan yang dijanjikan Allah kepada seluruh umat manusia serta gambaran alam semesta sebagai ayat-ayat Tuhan yang dijelaskan melalui untaian ayat Surat al Ghasyiyah yang sangat Indah.

Namun, jika diperhatikan sebenarnya surat ini mengajarkan metode dan prinsip dalam berdakwah. Berdakwah bukan sekedar menebar kata berbusa-busa, tetapi adalah seni untuk mengajak dan menarik hati audiens.

Lihatlah bagaimana Qur’an memberikan gambaran siksa dan nikmat serta mengajak refleksi tentang alam semesta. Secara implisit pola ini memberikan gambaran pola dan metode penyampaian konten dakwah.

Namun, seberapapun kita semangat dan giat dalam berdakwah, pada ayat 21-22 Surat al-Ghasyiyah Nabi pun diperingatkan dengan dua ayat yang menurut Saya harus juga menjadi pegangan seluruh umat khususnya para pendakwah: Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka.

Dua ayat tersebut merupakan peringatan kepada mereka yang bertugas memberi peringatan kepada umat manusia. Nabi, Rasul, khalifah, ulama dan tokoh agama hanyalah pemberi peringatan. Mereka tidak boleh melampaui batas untuk menjadi penyelamat dengan memaksa keimanan seseorang.

Tiada seorang pun di dunia yang boleh melampaui batas peran Tuhan untuk memberikan hidayah. Tiada seorang pun di dunia yang berhak menjamin seseorang masuk surga dan masuk neraka kecuali kesombongan diri yang ingin memerankan menjadi Tuhan.

Hari ini banyak sekali penceramah yang tidak hanya berperan menjadi pengingat atau pemberi peringatan, tetapi berlagak menjadi penyelamat. Dengan congkak memberikan jaminan surga seolah dirinya telah ditetapkan sebagai penghuni surga. Menghujat orang berdosa dan memaksa keimanan orang lain seolah dirinya mampu memberikan hidayah.

Baca Juga:  Cerdas Membaca Kasus Uighur: Solusi Khilafah untuk Uighur?

Allah hanya memberikan tugas kepada Nabi dan Rasulnya untuk menyampaikan risalah. Mereka tidak diberikan wewenang untuk memberikan hidayah dan memaksakan keimanan seseorang. Ketika risalah sudah disampaikan, tidak perlu lagi pemaksaan dan pengawasan.

Allah ﷻ berfirman :  فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا ۖ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ

Artinya : Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah) ( QS: Asy Syura : 48).

Urusan memberikan hidayah, membuka dan membutakan mata hati keimanan adalah urusan Allah. Semestinya, pemberi peringatan hanya berposisi untuk menyampaikan dengan ilmu, amal dan dakwah yang baik dengan harapan mampu menyentuh hati.

Prinsip dalam memberi peringatan ini menjadi pelajaran bagi para pendakwah dan penceramah agar selalu sabar dan tawakkal dalam mengajak umat dalam kebaikan. Ketika umat berpaling setelah risalah disampaikan itu sudah menjadi wilayah Tuhan. Para pemberi peringatan hanya berperan untuk tiada lelah selalu menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik.

Karena itulah, para pendakwah dan penyampai ajaran agama hendaklah menyadari posisi dirinya sebatas pemberi peringatan. Urusan taufik dan hidayah adalah murni kekuasaan dan wewenang Allah. Bahkan Nabi pun tidak bisa memberikan hidayah kepada orang terdekat dan yang disayanginya. Alllah memperingatkan Nabi :

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ

Artinya : “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya,”(QS. Al-Qashas: 56). 

Karena itulah, ada beberapa prinsip yang harus dipegang ketika anda bersungguh-sungguh dalam memerankan diri sebagai pendakwah dan penyampai ajaran keagamaan. Pertama, gigihlah dalam menyampaikan dan memberikan peringatan, tetapi bersabar dan bertawakkal atas hasil yang didapatkan.

Baca Juga:  Merayakan Hari Natal (Bagian 2)

Kedua, sungguh kebenaran Islam tidak bisa dibendung ketika hidayah Allah menjumpai seseorang. Namun, hidayah dan taufik adalah wewenang Allah semata. Sekeras apapun seseorang tidak akan mampu melawan kuatnya hidayah Allah. Karenanya Umat Islam bertugas memberikan penyadaran semampunya, tidak usah memaksakan diri menjadi Tuhan dengan memaksakan hidayah.

Ketiga, strategi dakwah sebenarnya adalah dakwah yang mencerdaskan dan penuh kelembutan sehingga mampu menyentuh hati. Lihatlah banyak cerita orang yang masuk Islam bukan karena paksaan, tetapi dakwah lembut dengan akhlak mulia yang dapat menyentuh hati.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan